KPBS PANGALENGAN PETERNAK SAPI PERAH BUTUH PEMIHAKAN SERIUS

BELUM ada yang berubah. Kendala dihadapi para peternak susu sapi masih sama dengan sepuluh tahun lalu, yaitu keterbatasan lahan hijau, menurunnya populasi sapi perah, rendah penguasaan teknologi tepat guna dan mahalnya harga pakan ternak. Akibatnya total produk susu sapi secara nasional juga tidak tumbuh, terpaku di angka maksimal 18 persen dari  kebutuhan nasional sekitar 4,5 juta ton. Artinya, Indonesia masih impor susu lebih dari 80 persen per tahun. Kondisi tersebut stagnan hingga saat ini, padahal, kalangan persusuan berulang kali mengimbau agar pemerintah semakin peduli dengan keberadaan para peternak sapi.

Kondisi sulit para peternak sapi itu dikemukakan Ketua Koperasi  Peternakan Bandung Selatan Pangalengan (KPBS Pangalengan) Aun Gunawan ketika menerima kunjungan Forum Komunikasi Koperasi Besar Indonesia (Forkom KBI) awal Desember lalu. Forum ini  merupakan ajang temu dan diskusi kalangan pelaku koperasi skala besar yang tersebar di berbagai daerah di tanah air. Anggotanya sekitar 100 koperasi skala besar, terdiri dari beragam usaha, mulai dari koperasi produsen kopi, Baitul Qiradh Baburrayyan Aceh Tengah, KPBS Pangalengan Jawa  Barat, KSU Kuta Mimba Bali hingga Koperasi Kredit Sauan Sibarrung Toraja Sulawesi Selatan.

Kendati dihadang berbagai kendala, namun kata Aun, KPBS masih tetap bertahan karena lokasinya yang sejuk memang sangat pas bagi pengembangan usaha susu sapi segar. Selain itu koperasi yang mulai berdiri  pada 1969 ini memiliki citra yang baik di tengah masyarakat Pangalengan. “Untuk melayani anggota secara maksimal, kami mendirikan lembaga keuangan BPR, dan juga pendirian Rumah Sakit yang proses ijinnya sudah selesai,” tutur Aun. Total produksi KPBS saat ini rerata 80 ton per hari, dari jumlah tersebut sebanyak 15 ton dialokasikan untuk produk hilir atau susu olahan, antara lain yoghurt, keju dan whipped cream. (Reza)

Share This: