Korporasi Pergi, PHK Merajalela

Bencana PHK umumnya dihayati bagai tersambar petir di siang bolong. Maklum—rutinitas yang sekian lama telanjur menyatu, membentuk identitas dan harga diri—mendadak terhenti. Implikasi sosial ekonomi setelahnya bisa sangat problematis dan fatal, jika tak segera ketemu solusi.

            korban phk

Hampir serentak, dua perusahaan elektronik asal Jepang;Panasonic dan Toshiba; menutup pabriknya di Indonesia awal tahun ini. Keputusan tersebut dengan sendirinya berbuntut pemutusan hubungan kerja (PHK) sekitar 2.500 karyawan. Panasonic juga menutup dua buah pabriknya di Pasuruan dan Cikarang dengan korban PHK sekitar 1.600 orang. Satu-satunyayang kini tersisa di Tanah Air adalah Toshiba Printer di Batam.

Panasonic Corporation adalah sebuah produsen elektronik Jepang yang berbasis di Kadoma, Prefektur Osaka, Jepang. Didirikan oleh Konosuke Matsushita pada 1918, Panasonic merupakan manufaktur kelas dunia di bidang produk elektronik. Saat ini operasinya ada di 9 negara (termasuk Indonesia) dengan total 75 perusahaan yang mempekerjakan lebih dari 82.000 orang.

Di Indonesia, kehadirannya dimulai dengan radio ‘Tjawang’ oleh Drs. H. Thayeb Moh. Gobel pada 1954, televisi pertama tahun 1962, hadirnya brand National pada 1970, hingga berganti nama menjadi Panasonic pada 2004. Sampai saat ini Panasonic di Indonesia merupakan brand elektronik terkemuka dengan berbagai produk inovatifnya, mulai dari TV plasma, kamera, AC, kulkas, mesin cuci, dan produk kecantikan.

 

Dimotori Jepang dan Amerika

Setelah Panasonic, pabrik Toshiba di Cikarang, Bekasi, pun mengumumkan ditutup pada pertengahan Januari lalu.Per Maret ini,PT Toshiba yang memulai beroperasi di Indonesia pada 2002 ituresmi berhenti beroperasi. Dua perusahaan elektronik lain asal Korea Selatan juga memaklumkan penutupan pabriknya yang tamat beroperasi di Indonesia; yaitu PT Shamoin dengan ekses PHK 1.200 karyawannya dan PT Starlink yang mem-PHK 500 pekerja sertaPT Jaba Garmindo (tekstil).

Rentetan berikutnya, puluhan perusahaan yang bergerak dalam industri motor dan mobil ikut menonaktifkan karyawannya secara permanen. Sebut saja PT Yamaha Indonesia, PT Astra Honda Motor, dan PT Hino. Tak ketinggalan pula perusahaan komponen motor dan mobil, seperti PT Astra Komponen, PT AWP, PT Aishin, PT Mushashi, dan PT Sunstar.Kesemuanya memberlakukan PHK dengan cara menghentikan memperpanjang kontrak kerjadengan karyawan mereka.

Selain perusahaan yang prinsipalnya bercokol di Jepang dan Korea, hengkangnya dua perusahaan Amerika—Ford dan Harley Davidson—patut dicermati.Penutupan usaha Ford, menurutBagus Susanto, Managing Director FMI,meliputi penutupan jaringan dealer (dealership) dan menghentikan penjualan dan impor resmi semua kendaraan Ford, berlaku efektif awal Juli 2016.Ford hadir di Indonesia sejak 1989, diwakili oleh Indonesia Republic Motor Company. Adapun Ford Motor Indonesia/FMI resmi berdiri Juli 2000 sebagai Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) Ford di Indonesia.

Moge Harley Davidson juga resmi menarik diri terhitung 31 Desember 2015, akibatberatnya beban pada sisi ongkos produksi.Warta itu dirilis Presiden Direktur PT Mabua Harley-Davidson, Djonnie Rahmat. Keagenan Harley yang eksis sejak 1997 itu gulung tikar.Pasalnya, pemberlakuan pajak untuk impor motor besar (barang mewah) mencapai 300 persen, tidak termasuk bea balik nama, dan lain-lain. “Demandsebenarnya, cuma karena harganya yang tinggi banyak calon konsumen menahan diri untuk membeli,” ujar Djonnie.

Dari sisi lokasi, pekerja yang mau tak mau harus menanggung risiko nganggur tersebar di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Pasuruan, Batam, dan Medan. Puluhan ribu lainnya yang terancam PHK di sektor elektronik, garmen, tekstil, motor, komponen motor dan mobil, perminyakan, serta jasa penunjang perminyakan dan pertambangan,” kata Said Iqbal, Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia/KSPI.

 

Perlambatan & Rendahnya Kepercayaan

Kepergian sejumlah korporasi meninggalkan Indonesia antara lain berpangkal dari persaingan pasar yang sangat beragam, termasuk penetrasi produk elektronik dari negara lain. Perlambatan pertumbuhan ekonomi diperburuk dengan tingkat kepercayaan (confidence) konsumen yang tengah menurun. Melambatnya pasar global jelas mempengaruhi pasar domestik. Lalu, dengan kebijakan pengendalian upah (PP No. 78/2015), daya beli menjadi turun sehingga tingkat konsumsi masyarakat makin lunglai.

Dalam kasus sepeda motor, misalnya, penjualan Yamaha pada periode Januari-Juli 2015 hanya 3,59 juta unit. Padahal pada periode yang sama di 2014, penjualannya mencapai 4,73 juta unit (menurun 24 persen).Penjualan mobil Ford periode Januari-Juli 2015 hanya 2.759 unit, anjlok 52,8% dibandingkan periode sama 2014, yang hingga akhir tahun laku 12.008 unit. Mengacu pada total penjualan mobil di dalam negeri (733.444 unit per akhir Juli 2015), artinya pangsa pasar Ford di Indonesia hanya 0,38 persen.

Paket kebijakan ekonomi jilid X (11/2) dikatakan berfokus pada perluasan lapangan kerja dan menopang pertumbuhan ekonomi. Investasi asing dibuka lebih lebar. Perubahan terjadi hampir di seluruh jenis usaha yang diatur dalam Perpres No. 39/2014 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal.

Artinya, paket X yang mengizinkankan 100% penguasaan modal asing itu berlebihan dan mengancam sendi-sendi perekonomian nasional, terutama di sektor UMKM. Padahal, sektor UMKM yang 90% pilar usaha di Indonesia belum cukup kompetitif. Dekan Fakultas Ekonomi Undip Semarang, Harnomo, menyoroti, khususnya restoran dan cafe, yang merupakan basis UMKM di Indonesia. “Problem kita, kebijakan yang cepat berubah. Makanya jarang ada investor jangkap panjang”.

“Bahan baku harus diperkuat, kemudian pengangkutan, distribusinya, jangan sampai saat sampai ke hilir tetap mahal,” ujar ekonom dari Universitas Padjadjaran, Ina Primiana.Bagi Ina, Indonesia sudah seharusnya meningkatkan kontribusinya sebagai negara produsen. “Saat ini, kontribusi Indonesia sebagai negara produsen hanya 20%. Ada AFTA (ASEAN Free Trade Area), tapi yang muncul kan hanya perdagangannya, tapi kontribusi kita sebagai negara produsen tetap kecil.”

Akumulasi sejumlah faktor—dari rendahnya daya saing Indonesia, maraknya korupsi dan pungli, riuh rendah upah buruh, hingga panjangnya rantai birokrasi perizinan yang membuat iklim investasi menjadi tidak kondusif—memang memicu hengkangnya investor-investor global. Pengamat ekonomi Edy Burmansyah mengungkap satu hal yang dilupakan kalangan pengamat ekonomi dan pengambil kebijakan.

panasonic pacgi

Jebakan Perangkap Komoditas

Bagi Edy Burmansyah, penyebab hengkangnya raksasa otomotif dan elektronik dunia tersebut terkaitdengan rantai pasokan dan rantai nilai global (global supply chain dan global value chain).Sistem rantai pasokan membentuk sistem jaringan yang kompleks, meliputi pemangku kepentingan dari di hulu hingga hilir. Cakupannya seluruh kegiatan dan layanan untuk membawa suatu produk atau jasa dari tahap perencanaan hingga penjualan di pasar.

Sistem produksi ini ditunjukkan oleh perusahaan bernama Li&Fung (Hongkong)yang punya pelanggan dari jaringan 8.000-10.000 pemasoknya yang tersebar di lebih dari 40 negara. Contoh lainnya adalah iPod dari Apple, yang mengalihdayakan seluruh proses manufakturnya dari tiap-tiap 451 komponennya ke seluruh jaringan perusahaannya yang meliputi Amerika Utara dan Asia. Begitu pula Toshiba, yang memproduksi hard-drive, sampai ke produsen-produsen kecil yang ada di negara-negara seperti Cina dan Filipina, yang tenaga kerjanya membuat atau merakit komponen-komponen kecil tapi penting bagi produk finalnya.

Sejak awal dekade 1990-an, “Kawasan ASEAN sesungguhnya telah terintegrasi penuh ke dalam sistem rantai pasokan global. Thailand, misalnya, sedang berusaha menjadi ‘Detroit dari Asia’ dan membangun posisinya sebagai dasar hubungan di wilayah negara-negara Asia Tenggara,” ujar Edy Burmansyah.

Produsen mobil Toyota mengumumkan proyek Innovative International Multipurpose Vehicle (IIMV). Skenarionya,menciptakan sistem kompensasi yang saling menguntungkan dengan mitra ASEAN (Thailand, Indonesia, Malaysia, Filipina, Vietnam) plus India. Di sini efektivitas penggunaan basis produksidiperluas, tingkat operasi pabrik lokal dan penjualan diperkuat; termasuk produksi mobil strategis dengan desain umum di seluruh dunia. Pada sisi lain, Honda memproduksi lima jenis: Accord, Civic, City, CRV, dan Streaming di Indonesia.

Tidak berkembangnya industri penunjang, merupakan salah satu penyebab hengkangnya Ford serta Panasonic dan Toshiba.Beberapa lini produksinya di Indonesia ditutup karena industri-industri penunjang dari perusahaan-perusahaan tersebut berada di luar Indonesia. Indonesia ditempatkan hanya sebagai pasar dari produk final mereka.Akibat sistem rantai nilai dan pasokan global, posisi Indonesia hanya menjadi sub-bagian dan masuk ke dalam jebakan ‘perangkap komoditas’.

Di ujung kisah PHK yang sedemikian masif, dan salah kaprah memahami liberalisasi sebagai modernisasi, “Pembangunan yang bertumpu di Jawa (58%) dibarengi peningkatan tajam angka kemiskinan. “Pada bulan Maret 2015, jumlah penduduk miskin bertambah 860 ribu orang. Dari 27,73 juta/September 2014menjadi 28,59 juta/September 2015,” ujar Dzulfian Syafrian, ekonom Institute for Development on Economics and Finance/Indef.

Jika dibahasakan secara ekonometrika, implikasi lebih lanjut dari gelombang PHK yang relatif merata itu, tingkat/indeks keparahan dan kedalaman kemiskinan semakin signifikan. Indeks keparahan kemiskinan (gambaran penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin) pada Maret 2015 meningkat dibandingkan Maret 2012-2014. “Indeks Maret 2015 adalah 0,535, meningkat dari Maret 2014 (0,435), Maret 2013 (0,432), dan Maret 2012 (0,473),” kata Kepala BPS, Suryamin.

Ironisnya, tingkat keparahan kemelaratan anak negeriNusantara berbanding lurus dengan tingkat kedalaman kemiskinannya. Catatan indeks kedalaman kemiskinan (kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan) juga meroketdengan tajam. Pada Maret 2015, indeks kedalaman kemiskinan di level 1,971, meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya:(1,753 pada 2014 dan1,745 pada 2013).

Quo vadisarah kebijakan ketenagakerjaan Indonesiaku? (Dody M.)

Share This:

You may also like...