Kopi Racikan Pekerja Migran Ini Capai Pasar Amerika dan Eropa

Eni Wartutui-Foto: Mediaindonesia.com

BANDUNG-—Sejak 1998 hingga 2014, Eni Wartuti  bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) di Arab Saudi selama dua tahun, Taiwan tiga tahun, serta Hongkong selama sepuluh tahun. Kesempatan berada di luar negeri, dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh Eni untuk berwirausaha di sela waktu senggangnya.

Misalnya saja ketika berada Hongkong,  Eni kerap mengisi hari liburnya menjual produk-produk asal Indonesia. Dengan dibantu empat sampai lima pekerja, ia sanggup mengantongi keuntungan bersih hingga Rp10 juta

“Biasanya Minggu saya jualan dari pagi sampai sore. Pagi bawa banyak barang, sore sudah habis,” kata Eni seperti dilansir Pikiran Rakyat pada Gelar Produk PMI 2014 di Kantor Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Bandung, Jalan Soekarno Hatta, Bandung, Senin (16/12/19).

Ketika kembali ke tanah air pada 2014, Eni merintis bisnisnya. Setidaknya ada tiga bisnis yang sempat ia jalankan.

“Saya sempat menjalankan bisnis properti, pengiriman khusus luar negeri, dan fesyen. Akan tetapi, akhirnya bangkrut, semua habis. Saya harus mulai dari nol. Modal minus,” ujarnya.

Pada akhir 2016, ia memulai usaha kopi murni dengan brand Gandasari Coffee, dimulai dari 1 kilogram. Berkat keterampilan pemasaran yang jitu dan jejaring yang kuat, perlahan-lahan ia berhasil bangkit.

Perlahan, dia membeli peralatan, mengikuti pameran. Tiap  pameran, Eni tidak hanya fokus jualan, tapi membangun jejaring dan membranding produknya.

Dalam waktu tiga tahun, skala usahanya tumbuh. Dengan mengusung konsep ‘palugada’ produk kopi, penjualannya kini sudah mencapai 10 ton kopi per bulan.

Kopi racikan Eni mempunyai karakter unik, yaitudiproses dengan cara tradisional. Berbeda dengan produsen kopi pada umumnya, ia melakukan penyangraian (roasting) dengan menggunakan gerabah.

“Ini saya lakukan karena ingin melestarikan kopi asli Indonesia yang diolah dengan cara tradisional. Selain itu, rasa kopi yang diolah menggunakan gerabah lebih pulen dan memiliki aroma yang lebih khas,” tutur Eni.

Produk yang ia pasarkan sejatinya bukan hanya kopi siap seduh, akan tetapi mulai dari biji kopi, pengolahan biji kopi, hingga produk turunan kopi. Kini Eni  memiliki sedikitnya 15 produk turunan kopi, seperti scrub kopi, masker, dan lulur. 

Saat ini Eni sudah menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan buyer dari Polandia untuk pembelian beragam produk kopi dan turunannya. Sebagian produk kopi Gandasari juga sudah mulai masuk ke daratan Amerika seperti Brasil dan kawasan Asia Timur seperti Jepang.

“Ke Polandia itu permintaannya kopi herbal, sabun, lulur, scrub kopi, dan sebagainya. Kini kami tinggal menunggu penandatangan kontrak. Kalau Jepang dan Brasil produk yang diterima green coffee,” kata Eni.

Eni optimistis propek usahanya akan semakin cerah, apalagi dengan sudah dirilisnya produk terbaru, kopi sachet yang menyasar pasar kelas menengah bawah.

“Kelompok ini memiliki komposisi serapan kopi terbesar di Indonesia, mencapai 65%,” pungkas Eni.

Share This: