Koperasi Perlu Public Relations

SOKOGURU perekonomian! Itu julukan untuk koperasi yang pernah diberikan oleh Bung  Hatta, salah satu proklamator Kemerdekaan RI. Dengan kata lain, koperasi menjadi tulang punggung atau penentu ekonomi Indonesia. Bahkan diperkuat dalam UU No 25 Tahun 1992 tentang perkoperasian yang dianggap bentuk bisnis paling cocok untuk bangsa Indonesia.

“Kekuatan koperasi terletak pada sifat persekutuan yang berdasar tolong menolong, tanggungjawab bersama, solidaritas  dan mendidik orang insyaf akan harga dirinya serta menanamkan rasa percaya diri sendiri,” begitu kata-kata Bung Hatta di tahun 1951 silam.

Bagaimana kondisi koperasi dengan bisnisnya saat ini di usia yang sudah mencapai 72 tahun? Di era yang semakin menjunjung tinggi keterkaitan antar personal lewat teknologi tinggi yang bernama jaringan internet. Di era, ketika orang dengan mudah membangun bisnis kecil tanpa perlu ruang kantor dan peralatannya, kecuali hanya lewat sebuah gawai (gadget) sederhana. Masihkah koperasi yang kental dengan semangat gotong royong itu punya harapan menjadi soko guru perekonomian Indonesia? 

Menyimak buku 100 Koperasi Besar Indonesia yang ditulis Irsyad Muchtar, perkembangan perkoperasian kita ternyata sangat menggembirakan. Bahkan di antaranya jauh dari kesan ‘jadul’ karena sudah beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Ambil contoh Kospin Jasa,  Kisel, Kopkar Astra, Kopdit Lantang Tipo, KSP Sejahtera Bersama dan Kopsyah BMI adalah beberapa koperasi yang sudah melek teknologi digital.

Namun, bagaimana koperasi lainnya, dengan jumlah aktif sebanyak 153 ribu koperasi. Apakah masih mengandalkan gaya bisnis konvensional? Pertanyaannya kemudian apakah mereka termasuk yang sudah melek teknologi digital dan paham public relations (PR)?

Yang menarik, jangankan koperasi, banyak perusahaan besar yang masih saja salah kaprah memahami fungsi dan peran PR. Sementara, seorang Bill Gates (pengusaha teknologi digital kaya raya asal AS) pernah berseloroh, “Bila saya hanya memiliki sisa uang dua dolar saja, maka saya akan manfaatkan 1 dolarnya untuk kegiatan PR!” 

Apa sih PR itu? Secara gampang, PR itu bicara soal komunikasi, komunikasi dan komunikasi! Untuk apa? Secara singkat, untuk membangun dan menjaga reputasi. Lalu, apakah perusahaan perlu  reputasi? Tentu! Reputasi yang baik, pasti! Tanpa reputasi yang baik tak akan ada konsumen. Karena tanpa reputasi tidak ada trust. Tanpa trust, tak ada bisnis. Titik!

Lalu salah kaprahnya di mana? Banyak orang memandang PR atau Humas hanya orang atau staf yang menghubungi wartawan atau media massa untuk peluncuran produk atau jasa. Atau hanya untuk menyebarkan siaran pers agar menjadi berita. 

PR tidak sesederhana itu. Tapi, juga tidak serumit ilmu filsafat. Di dalam PR, yang terpenting adalah perusahaan/orga-nisasi memiliki yang namanya pesan kunci (key message/KM). KM ini akan memiliki turunan pesan-pesan lagi yang akan menjadi dasar pemikiran atau komunikasi setiap karyawan/ anggota organisasi. 

Apakah fungsi paling penting KM ini? KM ini yang menjadi dasar pijakan untuk membuat narasi dari sebuah perusahaan/organisasi. Narasi inilah yang akan menjadi ‘roh’ dari semangatperusahaan/organisasi dalam melakukan berbagai kegiatan. Mulai dari membuat siaran pers, konferensi pers, berhubungan antar karyawan/anggota, dengan pemangku kepentingan dan bahkan pihak pemerintah pusat atau daerah. 

Berangkat dari narasi yang tepat sesuai dengan KM bisa dipastikan akan tercipta sebuah reputasi perusahaan  yang diharapkan. Hal ini tentu tidak bisa dibangun dalam waktu semalam, seminggu, sebulan atau bahkan setahun. Reputasi memerlukan komitmen dan konsistensi dari semua pihak di dalam perusahaan. 

Teman saya pernah bertanya, apakah perlu reputasi sementara perusahaan mengalami keuntungan? Saya ingin mengutip praktisi dan salah satu guru PR di Indonesia, Noke Kiroyan. Ia pernah mengatakan,

“PR dibutuhkan sejak sebuah perusahaan dibangun dari awal.” Artinya, reputasi tidak bisa ditawar. Tidak ada reputasi tidak ada trust.

Sebelum telat, tak ada salahnya mengenal dan memahami PR lebih jauh. Karena, dalam kondisi krisis, tak ada istilah “better late than never”! 

Penulis adalah Praktisi Public Relations

Share This: