Koperasi Keluarga Guru Jakarta Tetap ditopang bisnis anggota

Merambah berbagai sektor usaha prospektif, seperti pom bensin, minimarket, dan depot air minum, KKGJ berhasil kantongi pendapatan Rp 40,48 miliar di tahun buku 2014.  Partisipasi anggota di sektor unit simpan pinjam masih pendapatan yang terbesar.

Tingginya partisipasi anggota menjadi kata kunci bagi kelangsungan usaha Koperasi Keluarga Guru Jakarta (KKGJ). Dari berbagai rambahan usaha yang dirintis untuk meningkatkan kinerja usaha sejak beberapa tahun belakangan ini, unit simpan pinjam  anggota masih mendominasi perolehan  usaha.

Andro

Dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2014 yang berlangsung Februari lalu,  koperasi para guru SD Jakarta ini membukukan pendapatan  Rp 40,48 miliar dengan perolehan terbesar Rp 33,823 miliar dari unit simpan pinjam (USP).

Sektor lain yang membukukan keuntungan adalah perdagangan umum dan perkreditan (Rp 525,162 juta), unit agrobisnis (Rp 238, 437 juta); pom bensin (Rp 2,751 miliar); unit depo air minum (Rp 171,684 juta); unit diklat ( Rp 288, 879 juta); Tabungan haji dan purna tugas (Rp 12,572 miliar) dan unit gas Elpiji ( Rp 1,686 miliar).

Besarnya partisipasi anggota terlihat dari kontribusinya terhadap ekuitas koperasi ini yang mencapai Rp 136,920  miliar yang bersumber dari simpanan pokok dan simpanan wajib. Sedangkan dana anggota lainnya yang berhasil dihimpun melalui simpnan khusus, tabungan haji dan purna tugas mencapai Rp 40,046 miliar. “Tingginya partisipasi anggota menjadi tantangan bagi kami para pengurus untuk tetap bekerja lebih konsisten dalam memberikan pelayanan yang lebih baik lagi kepada anggota,” kata Ketua Umum KKGJ Jamhuri Androfa.

RAT Tahun Buku 2014 ini adalah evaluasi pertama dari kinerja Jamhuri dan segenap pengurus yang baru saja terpilih untuk memimpin KKGJ periode 2014-2017.

Penghimpunan dana anggota KKGJ, kata Jamhuri memang  membanggakan, namun jumlahnya  masih belum mencukupi untuk melayani seluruh pinjaman yang diajukan anggota dan pngembangan unit-unit usaha pendamping. Karenanya pengurus mengambil kebijakan dengan dengan tetap bermitra dengan perbankan.”Kami tetap andalkan penambahan modal dari perbankan, namun kami akan menyeleksi bank pemberi suku bunga atau bagi hasil relatif paling rendan,” ujarnya.  Dengan jumlah  anggota yang saat ini tercatat sebanyak 15.656 orang, Jamhuri berharap partisipasi anggota dapat meningkat agar ketergantungan modal usaha pada perbankan semakin berkurang.

Hingga Per Desember  2014, koperasi yang berdiri sejak  1954 mengantongi aset sebesar Rp 227,733 miliar sedangkan total pinjaman disalurkan kepada anggota sebesar Rp 124,334  miliar dan non anggota sebesar Rp 7,224 juta.

Share This: