Koperasi dan LSM di Sumatera Dorong Petani Kembangkan Teh Organik

Ilustrasi-Lahan perkebunan teh organik Koperasi Sebelas Jurai Saiyo-Foto: instagram.

SOLOK-—Kabupaten Solok, Sumatera Barat kondang dengan berasnya yang gurih. Selain beras, komoditas kopi Solok pada masa Kolonial juga sempat masyhur di Eropa. Lima tahun yang lalu sejumlah anak muda yang bergabung dengan Koperasi Sebelas Jurai Saiyo menghimpun para petani untuk menanam teh organik di kawasan Rawang,  Kecamatan Gunung Talang.

“Pada waktu pendirian anggotanya hanya 20, kini anggotanya sudah mencapai 99 orang dan aktif 37 orang,” ujar Marketing Manager Koperasi Sebelas Jurai Saiyo,  Ilham Yudha Putra ketika dihubungi Peluang, Rabu (15/1/20).

 Menurut Ilham, dengan lahan seluas 114 hekatare  produksi teh basah turun naik per bulannya. Pernah mencapai 40 ton per bulan, namun bulan kemarin karena cuaca hanya 30-an ton per bulan. Meskipun begitu harag teh organik ini cukup bagus, yaitu Rp4.040 untuk teh organik halus per kilogramnya dan yang kasar Rp2.300 per kilogram.

“Omzet kami per tahun pernah mencapai Rp100 juta-an. Teh kami dipasarkan ke dua penampung di Solok dan Solok Selatan. Di bawah brand Lugus Tea, kami juga memasarkan produk ke luar daerah. Lugus itu berarti Lutung Gunung Solok, karena memang daerahnya masih banyak monyet,” ungkap Ilham lagi.

Untuk 2020, anggota koperasi sepakat untuk tidak membagikan SHU tetapi untuk memutar menjadi komditas lain sebagai koperasi produsen.  Ilham mengaku membutuhkan pembiayaan dan menghadapi kendala karena status tanah yang sebagian bukan sertfikat.

Pasalnya di Sumatera Barat, tanah itu ada tanah pusako atau ulayat. Hal ini menyulitkan untuk mendapatkan pendanaan.

“Ke depan kami ingin punya mesih pengolahan teh sendiri,hingga produksi kami bisa meningkat. Karena itu kami memang membutuhkan pembiayaan dari berbagai pihak, seperti LPDB atau perbankan,” pungkas Ilham.

Teh yang sudah diolah-Foto: Instagram.

Selain koperasi, Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) juga mendorong petani di Desa Timbang Lawan, Bohorok, Sumut  pada awal 2019.  Menurut Arif Syahputra Hasibuan, seorang aktivis lingkungan dari Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) produksinya  masih skala kecil.

“Petani yang terlibat kalau yang fokus menanam tanaman untuk teh ini, baru dua dari sekitar 15 orang, lainnya masih fokus di sayuran. Tumbuhannya sudah lama ada di kebun namun selama ini belum dimanfaatkan sebagai teh, selama ini hanya sekedar ditanam,” kata Arif.

Kemudian membuat versi keringnya biar bisa dijadikan teh dan bisa dikonsumsi dengan mudah. Dari satu tanaman sekarang sudah mau 4 jenis teh dari tanaman yang berbeda,Butterfly olea tea, hiscus tea, moringa leaf tea, mulberry leaf tea.

“Konsepnya tumpang sari dan heterogen, jadi tanamannya bercampur di lahan sekitar,” ucap Arif (Irvan Sjafari).

Share This: