Koperasi Cipaganti Terbakar Batubara

Meski nilai kerugian anggota (mitra versi pengurus Koperasi Cipaganti) tidak sebesar KLB, namun tetap saja meresahkan. Koperasi Cipaganti Karya Guna Persada berdiri dengan mengantongi surat izin yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Bandung dengan tembusan disampaikank epada Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah pada 2002.

Dengan izin itu, koperasi memiliki legalitas untuk menjalankan usaha simpan pinjam sesuait ermasuk diantaranya dengan melibatkan pihak ketiga sebagai mitra koperasi atau nasabah. Koperasi Cipaganti mulai membuka kerjasama dengan mitranya pada 2008.  Konon, dana masyarakat ini mulai diinvestasikan pada sektor pertambangan, khususnya batubara.  Sayangnya, harga komoditas batubara merosot pada tahun 2012 dan berakibat terhentinya operasi tambang milik Cipaganti. Akibatnya, pembayaran imbal hasil kepara mitrapun mulai seret.

Model investasi yang ditawarkanya itu calon mitra diwajibkan menyetor dana minimal Rp 100 juta. Untuk mengikuti skema investasi ini cukup membuat perjanjian didepan notaris tanpa harus menjadi anggota koperasi.

Tenor kemitraan yang ditawarkanpun bervariasi, begitu pula dengan returnnya. Untuk tenor satu tahun, return yang ditawarkan sebesar 1,4 persenper bulan. Untuk tenor dua tahun sebesar 1,5 persen per bulan, tiga tahun sebesar 1,6 persen perbulan. Untuk tenor empat dan lima tahun, return yangd itawarkan masing-masing 1,65 persen perbulan dan 1,7persen perbulan. Imbal hasil yang ditawarkan Koperasi Cipaganti bersifat fixed.

Dengan model investasi ini, total danat erhimpun dari 8.700 mitra koperasi sebesar Rp. 3,2triliun.  Dikemudian hari, imbal hasil yang dijanjikan ternyata meleset dan sang pemilik Andianto harus berurusan dengan pihak berwajib.

Share This:

You may also like...