Kopdit CU Betang Asi Kopdit Terbesar Kalimantan Tengah

Konsistensinya dalam menjalankan usaha berbasis dukungan anggota berbuah manis. Pendidikan dasar dan pendidikan financial literacy secara regular dijalankan. Hasilnya, Betang Asi menjadi yang terbesar di jantung Borneo dengan aset lebih  Rp 634 miliar.

Kesan kantor koperasi yang sederhana dengan petugas front office sudah berumur langsung sirna ketika datang kekantor pusat Kopdit CU Betang Asi di Jalan Tjilik Riwut Palangka Raya Kalimantan Tengah.  Menempati gedung megah berlantai empat milik sendiri tepat di jantung bisnis, Kopdit Betang Asi mengirimkan pesan bahwa koperasi pun bisa eksis di tengah pandangan minor sebagian pihak. Bukan hanya fisiknya saja yang megah, tetapi produk dan layanan yang disediakan juga berkualitas dan sesuai kebutuhan anggota. Bahkan, boleh disebut Kopdit ini benar-benar murni menjalankan prinsip koperasi.

Sebagai kumpulan orang (bukan modal), Betang Asi mengandalkan kekuatan usaha  simpan pinjam pada anggota. Artinya, tumbuh kembang usahanya tergantung pada dukungan anggota. Oleh karena itu, sejak pertama berdiri Kopdit ini tidak pernah meminjam dana lembaga lain, termasuk dari bantuan pemerintah. Betang Asi mandiri dalam segala hal, sebagaimana nilai dasar koperasi. Kemampuan mendekatkan diri kepada anggota berbasis komunitas menjadi senjata andalannya agar bisa eksis.

Ethos H. Lidin, General Manager CU Betang Asi mengatakan, sesuai prinsip CU bahwa kekuatan usaha berbasis pada dukungan anggota. Sehingga maju mundurnya Kopdit sangat tergantung pada seberapa besar kontribusi anggota. “CU Betang Asi konsisten menjalankan prinsip dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggotan,” ucap Ethos.

betang asi
Di tengah dominasi sistem ekonomi berbasis modal (kapitalisme) mungkin prinsip itu terdengar bagai utopia. Namun, Betang Asi berhasil membuktikan bahwa hal itu bisa terealisasi. Buktinya, kinerja terus tumbuh dan jumlah anggota semakin banyak.  Total aset sebesar Rp 634,30 miliar, naik dari tahun sebelumnya Rp 586,33 miliar dan pinjaman yang disalurkan Rp 487,44 miliar. Jumlah anggota juga terus bertambah menjadi 37.077 orang dari tahun sebelumnya 35.019 anggota. Ini menunjukkan kepercayaan masyarakat yang menjadi anggota Kopdit meningkat.

Jumlah kantor pelayanan semakin meluas dengan 8 Tempat Pelayanan (TP, sekelas kantor cabang) dan 20 Tempat Pelayanan Khusus (sekelas cabang pembantu) yang tersebar di desa-desa di Kalimantan Tengah. Di Palangka Raya ide pendirian CU mulai digagas sejak tahun 2000-an, oleh Yayasan Dayak Panarung (sekarang Lembaga Dayak Panarung atau LDP). Ambu Naptamis (Ketua CU Betang Asi Periode 2012 – 2014), pendiri dan aktivis LDP bersama seluruh aktivis LDP lain bahkan membentuk CU Panarung yang beranggotakan 71 orang pada tahun 2001.

Bersama dengan Djuweng, Fabrice dan Darwis aktivis LDP mendiskusikan pengelolaan CU yang standard dan memberdayakan. Patokannya adalah sejumlah CU di Kalimantan Barat. Pasca pertemuan itu, April 2002, salah satu aktivis
LDP yaitu Ethos H. Lidin mengikuti Training Hak Asasi Manusia untuk Masyarakat Adat di Pontianak, Kalbar. Di Pontianak Ethos berdiskusi dengan aktivis Segerak Pancur Kasih dan melakukan kunjungan ke CU Pancur Kasih. Berbekal informasi hasil kunjungan Ethos dari Pontianak, semakin seriuslah niat aktivis LDP untuk mendirikan CU yang ideal. Hasil diskusi ini terus dikomunikasikan dengan aktivis Segerak di Pontianak. Sehingga pada bulan November 2002, Matheus Pilin dari Segerak
datang dan melakukan assesment (diskusi dan berbagi pengalaman) dengan T.T. Suling sebagai media komunikasi dengan Resort GKE, Nicolas Uda, BSc MM sebagai media komunikasi Perguruan Tinggi, Universitas Kristen Palangka Raya
(UNKRIP) dan Pastor Lukas Huvang, MSF sebagai media komunikasi gereja Katolik. Assesment ini dilakukan bersama dengan Ambu Naptamis dan aktivis LDP.

Singkat cerita, pada 18 – 22 Februari 2003, dengan dihadiri 53 orang peserta diselenggarakanlah Perancanaan Strategis Pendirian CU di aula Nazaret kompleks Gereja Katolik Palangka Raya. Pertemuan ini melahirkan  Kopdit CU Betang Asi
yang operasionalnya dibuka pada 26 Maret 2003 dengan diketuai oleh Amu Lanu A. Lingu. Impian besarnya adalah
menjadi “CU berbasis masyarakat Dayak yang terpercaya, abadi dan terbesar di Kalimantan tengah.” Impian besar  ini dijabarkan melalui misinya “Mewujudkan kesejahteraan sosial anggota melalui pelayanan keuangan yang profesional” dengan
Slogan “HANDEP HAPAKAT SEWUT BATARUNG” yang artinya  “bekerjasama untuk membangun kehidupan yang lebih baik.”   Kini, setelah 12 tahun berdiri, impian itu bisa terwujud karena Betang Asi menjadi Kopdit terbesar di Kalteng. Sebuah hasil yang obyektif dari jerih payah pengurus selama ini. Dari semula yang tidak dikenal kini menjadi tumpuan anggota untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Ethos menambahkan, pencapaian sekarang tidak lepas dari pendidikan kepada anggota yang secara reguler dilakukan. Ada
dua pendidikan yaitu pendidikan dasar dan pendidikan lanjutan atau financial literacy. “Pendidikan merupakan kunci utama kesuksesan Kopdit menjaga loyalitas anggota,” ujarnya. Pendidikan dasar diberikan kepada anggota baru yang dilaksanakan selama dua hari. Pendidikan ini sifatnya wajib. Sedangkan pendidikan financial literacy, diberikan kepada anggota yang telah mengikuti pendidikan dasar. Sifatnya optional untuk menambah wawasan dan kemampuan anggota dalam mengelola keuangan.  Meski bersifat pilihan, namun faktanya pendidikan financial literacy cukup diminati anggota. Ini menunjukkan bahwa program pendidikan tersebut sesuai dengan kebutuhan. Sejauh ini, kata Gregorius, anggota merasa puas dengan pendidikan yang diberikan. Selain mengandalkan usaha simpan pinjam yang menjadi core bisnisnya, Kopdit ini juga melakukan penyertaan modal pada usaha ritel modern. Hasilnya, kini dua gerai ritel itu mampu membukukan omzet usaha sebesar Rp 180 juta per hari.  Ke depan, Betang Asi tetap mengandalkan model bisnisnya pada simpan pinjam dari, oleh, dan
untuk anggota. Karena sejatinya, anggota lah yang menjadi kekuatan utama koperasi sebagai kumpulan orang.  “Kami tumbuh berkembang bersama anggota,” pungkas Gregorius,.

Share This:

You may also like...