Konsolidasi Internal KOAPGI Kejar Pertumbuhan Usaha

Didera konflik internal hampir tiga tahun, membuat perkembangan usaha Koperasi Awak Pesawat Garuda Indonesia nyaris mandeg. Pengurus tetap tegar dan berkomitmen untuk melayani kepentingan anggota.

KASUS menipulasi data Koperasi Awak Pesawat Garuda Indonesia (Koapgi) yang digelar Senin (16/4) lalu di Pengadilan Negeri Tangerang memberi pelajaran mahal bagi perkoperasian. Bahwa badan usaha ini sejatinya milik bersama dan pengurus hanya pemegang mandat dari anggota untuk menjalankan usaha. Namun dalam praktiknya acapkali melenceng di mana pengurus bertindak bagai pemilik dan bahkan enggan diganti.

“Semoga kasus kami ini menjadi pembelajaran bagi koperasi lainnya, bahwa kepengurusan itu dipergilirkan bukannya untuk dikuasai terus menerus,” kata Rimond B Sukandi kepada Majalah PELUANG usai menjadi saksi pada sidang tersebut.

Sidang yang dipimpin oleh hakim Indra Cahya SH itu menghadirkan lima orang saksi yang memberatkan terdakwa Away F Waluya (mantan Ketua Pengurus Koapgi) dengan  tuduhan menggelapkan data elektronik yang berisi kegiatan operasional Koapgi.

Akibat tidak bisa mengakses data elektronik tersebut, Rimond yang kini Ketua Pengurus Koapgi mengaku kesulitan  dalam melakukan penagihan atau mengakses data keuangan anggota. Sementara Away menyanggah tudingan tersebut lantaran pihaknya sudah melakukan serah terima aset pada Oktober 2014.

Kendati kasus ini masih terus bergulir di pengadilan, namun Rimond tak ingin tugasnya mengemban roda usaha Koapgi menjadi mandeg.

“Kami para pengurus yang mendapat amanat anggota melalui RAT tak mau larut dalam masalah internal ini, kami bahkan makin terpacu untuk meningkatkan usaha,” tutur Rimond seraya menambahkan usaha yang kini tengah dilirik adalah merebut peluang pasar non-anggota.

Peluang dimaksud adalah menyasar sejumlah usaha yang di lingkungan perusahaan induk ini (PT Garuda Indonesia Tbk). Lantaran itu, Koapgi mereposisi usahanya dari semula simpan pinjam melebar menjadi koperasi konsumen.

Di era kepemimpinannya,  Rimond secara perlahan mulai mengubah image bisnis koperasi  berkonotasi gurem menjadi bisnis yang layak bersanding dengan usaha skala besar lainnya.

Sejumlah usaha non-anggota yang telah dijalankan adalah membangun Airline Guest House (AGH) Tangerang, Casa de Apple, Bandung dan Apartemen Sky High di Cipondoh Tangerang. AGH adalah rumah sewa berlantai empat yang disiapkan untuk para karyawan, calon pramugari dan pilot yang tengah mengikuti pelatihan di Garuda Indonesia Training Center (GITC).

Masih di sektor properti, Koapgi juga sedang merencanakan pembangunan sebuah hotel dan perkantoran di Surabaya.

Menurut Rimond, Koapgi memang gigih mengembangkan sejumlah usaha berbasis properti karena usaha ini tidak ada matinya, dan manfaatnya bisa dirasakan anggota, yaitu dengan meningkatnya SHU. Sedangkan usaha lainnya yang juga tengah dilirik adalah di sektor pariwisata, terutama perjalanan ibadah haji dan umroh.  (Irm)

Share This:

You may also like...