Komunikasi Satelit untuk Nelayan

Sebuah inovasi teknologi lahir untuk memberdayakan nelayan. Sudah sepantasnya pemerintah menyambut baik dan memberikan dukungan yang sungguh-sungguh.

 

BERBAGAI inovasi kebijakan ataupun teknologi diciptakan untuk meningkatkan pemanfaatan laut. Sebagai negara kepulauan, itulah antara lain tantangan Indonesia. Sumber daya kelautan mesti dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat. Masyarakat nelayan khususnya, yang selama ini terpinggirkan dan terabaikan dari perhatian yang semestinya.

“Pelaksanaan roda usaha perikanan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab harus menyeimbangkan pendekatan ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup secara adil dan transparan, ujar Direktur Eksekutif Center of Maritime Studies for Humanities, Abdul Halim. “Apa yang dipraktikkan hari ini justru bertolak belakang dengan prinsip berkelanjutan dan bertanggung jawab. Bahkan cenderung kepada pemikiran eko-fasisme,” katanya. Nelayan tradisional, perempuan nelayan, pembudidaya ikan, petambak garam dan pelestari ekosistem pesisir harus menjadi tuan rumah di Tanah Air.

Kondisi nelayan di berbagai daerah di Indonesia harus diakui tertinggal. Khususnya terkait kecanggihan teknologi, meski nelayan kita mungkin lebih unggul dalam hal kemampuan melaut. Berkat berbagai peralatan termutakhir yang mereka miliki, nelayan mancanegara sudah mampu mendeteksi pergerakan ikan. Untuk itu, sebenarnya, kewajiban kementerian terkaitlah menyediakan teknologi canggih tersebut.

Salah satu karya inovasi teknologi untuk kelautan dihasilkan Mahasiswa S3 Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Qurrotul Aini. Ia berhasil merancang alat komunikasi berbasis satelit bagi nelayan Indonesia. Teknologi inovasi tersebut untuk mengatasi pencurian dan untuk meningkatkan jumlah tangkapan ikan. “Saat ini para nelayan di Indonesia masih memiliki keterbatasan alat komunikasi pada kapal tangkap ikan dengan bobot di bawah 30 Gross Ton (GT). Padahal jumlah kapal ini sangat dominan (98%),” tutur Aini.

Mayoritas kapal dengan kategori tersebut dinalai masih tidak memiliki alat komunikasi berbasis satelit. Kapal dengan bobot di atas 30 GT pada umumnya sudah menggunakan “Vessel Monitoring System” untuk berkomunikasi antar kapal dengan pusat monitor yang ada di darat dengan sarana satelit. “Sayangnya, teknologi ini tidak digunakan oleh nelayan dengan skala di bawah 30 GT. Dan kita ingin mengembangkannya,” ujar Aini.

Alat komunikasi buatan Qorrotul Aini menggunakan sistem algoritma Breadth Fixed Gossip (BFG) yang dikombinasikan dengan algoritma pencarian ‘Breadth First Search’ (BFS) dan ‘Chaos Particle Swarm Optimization’ (CPSO) dalam jaringan dinamik. Selain itu, penelitiannya berhasil mengembangkan algoritma optimasi rute destinasi tangkapan ikan menggunakan ‘Firely Algoritma’ (FA) dan ‘Genetic Algorithm’ (GA).

Dengan sistem ini, nelayan akan bisa mengoptimalkan rute dan destinasi mencari ikan. “Selain itu juga memiliki kualitas teknologi komunikasi antar kapal yang efektif,” perempuan yang juga merupakan dosen Program Studi Sistem Informasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu. Sistem ini tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan kinerja para nelayan tetapi juga untuk mengawasi wilayah perairan di sekitarnya.

Setiap nelayan akan mampu mengabarkan kondisi terkini di lautan termasuk tentang kapal asing yang hendak memasuki perairan terlarang. “Pemodelan ini diharapkan agar trafik data antar kapal dan destinasi menuju lokasi dengan ikan yang berlimpah dapat diketahui. Dengan adanya sistem komunikasi berbasis satelit ini, pencurian ikan dapat diatasi,” ujar Aini.●(dd)

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *