Kolaborasi KSP SB – Kisel Perkuat Bisnis

Transformasi digital diyakini merupakan jurus ampuh untuk menggenjot level usaha koperasi agar menjadi lembaga ekonomi nomor wahid di Tanah Air. Para koperasi besar diharapkan menjadi pelopornya.

Kerja sama antar koperasi merupakan salah satu prinsip perkoperasian. Berlandaskan  semangat saling memberi manfaat, kerja sama diyakini bakal berdampak positif pada usaha koperasi. Apalagi jika dilakukan oleh koperasi jumbo seperti KSP Sejahtera Bersama (KSP SB) dan Koperasi Telekomunikasi Selular (Kisel).

Dua koperasi yang memiliki bisnis inti berbeda itu melakukan penandatanganan kerjasama (memorandum of understandingMoU) di Kantor Pusat Kisel di Gedung Sucofindo, Jakarta, Kamis, 22 Agustus 2019. Penandatanganan dilakukan oleh Suryo Hadiyanto selaku Ketua Umum Kisel dan Vini Noviani, Ketua Pengurus KSP SB. Acara juga dihadiri oleh Iwan Setiawan (Ketua Pengawas KSP SB), para Pengurus KSB SB dan segenap jajaran Pengurus Kisel.

Iwan Setiawan, Ketua Pengawas KSP SB mengatakan, dengan valuasi KSP SB dan Kisel yang besar, kolaborasi akan membawa koperasi menjadi lembaga ekonomi kelas satu di Indonesia. “Ini merupakan langkah awal untuk bersama-sama membangun koperasi sebagai lembaga ekonomi nomor wahid,” ujar Iwan.

Kerja sama bisnis nantinya antara lain meliputi penyediaan barang-barang ritel (logistic provider), layanan produk digital (pulsa dan biller), layanan commerce (white label marke place), jasa layanan telekomunikasi (data & connectivity), jasa layanan umum (seperti management building), dan digital services (layanan E-filling system dan lain-lain).

Selama ini, selain kuat di bisnis simpan pinjam, KSP SB juga memiliki jaringan ritel modern yaitu SB Mart. Ini menjadi salah satu kekuatan yang akan dioptimalkan baik dalam bisnis ritel maupun sebagai jaringan pembayaran payment point online bank (PPOB).

Sementara Kisel merupakan jawaranya koperasi digital di Indonesia. Kisel juga menempati peringkat 94 dalam 300 koperasi besar dunia versi International Cooperative Alliance (ICA). Koperasi ini juga telah menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan multinasional dan perusahaan rintisan berskala besar (unicorn).

Iwan yang juga menjabat Ketua Umum Forum Komunikasi Koperasi Besar Indonesia (Forkom KBI) menambahkan, kerja sama dengan Kisel diharapkan menjadi babak baru usaha perkoperasian. “Sinergi antar koperasi besar harus diperluas,” ungkapnya.

Digitalisasi menjadi kue terbesar yang ada dalam rencana kerja sama tersebut. Ini sejalan dengan agenda Forkom KBI yang akan mendorong transformasi digital usaha para anggotanya.  Ada beberapa manfaat yang bisa diperoleh dengan digital di antaranya lebih efisien, produk dan layanan lebih mudah diakses serta meningkatkan daya kompetitif koperasi. Apalagi dengan militansi anggota yang tinggi akan lebih mudah menghasilkan konsumen yang loyal terhadap produk dan layanan koperasi.

Menurut Iwan, langkah pertama yang akan dilakukan adalah menyamakan persepsi anggota Forkom KBI. Sebab, diakuinya, masih ada sedikit perbedaan pandangan mengenai implementasi digital di koperasi. “Kami terus membangun komunikasi dengan anggota agar mengaplikasikan layanan digital untuk lebih menggenjot daya saing koperasi,” ujarnya.

Pada kesempatan sama, Vini Noviani mengatakan, kerja sama dengan Kisel sejalan dengan upaya KSP SB untuk lebih meningkatkan layanan digital kepada anggotanya. Dengan jumlah anggota mencapai 200 ribuan, ia yakin digitalisasi menjadi solusi untuk memberi layanan yang lebih memuaskan. “Kami terus berinovasi mengembangkan layanan digital untuk memenuhi kebutuhan anggota,” ungkap Vini.

Sejalan dengan tren digital yang digandrungi kaum milenial, koperasi yang berpusat di Bogor itu juga telah memiliki unit kerja yang menyasar kaum milenial. Personalnya pun dari generasi milenial sehingga lebih mudah dalam membaca kebutuhan pasar. Segmen milenial diprediksi akan menjadi kelompok terbesar dalam beberapa tahun mendatang. Untuk menggarap potensi tesebut, layanan digital merupakan keharusan.

Jangan Takut Pada Teknologi

Era revolusi industri 4.0 menghadirkan perubahan yang sangat dinamis, dalam segala hal. Hampir tidak ada usaha yang telah mapan bebas dari ancaman disrupsi, termasuk usaha koperasi. Oleh karenanya, gerakan koperasi perlu  melakukan transformasi digital dalam seluruh aspek.

 “Pengelolan bisnis secara tradisional sudah tidak relevan lagi dengan situasi sekarang yang semuanya serba digital. Koperasi perlu memodernisasi bisnisnya dengan basis dukungan teknologi digital,” ujar Suryo.

Keberhasilan Kisel bertengger di posisi 94 dari 300 Koperasi Besar Dunia salah satunya karena transformasi digital. Koperasi, kata Suryo, jangan takut bersentuhan dengan teknologi untuk memajukan usahanya.

Meski menyadari ada keterbatasan di koperasi dalam melakukan digitalisasi seperti dalam  aspek keuangan, SDM, dan kultur, namun yang penting ada keinginan dulu. Jika niat untuk berubah, ia yakin koperasi bisa melakukannya. “Yang penting niat dulu mau berubah ke arah digitalisasi,” tuturnya.

Berkaca dari pengalaman Kisel, penerapan digital memberikan beberapa manfaat antara lain peningkatan produktivitas, memberi kenyamanan bagi anggota, dan memudahkan pengambilan keputusan. Selain itu, juga akan menumbuhkan koperasi yang berkarakter dimana usahanya tidak mudah diduplikasi pemain baru. Termasuk di usaha simpan pinjam yang sebenarnya sangat membutuhkan sentuhan digital.  

Suryo menambahkan, kerja sama Kisel dan KSP SB merupakan langkah awal membangun sinergi di antara koperasi besar yang tergabung dalam Forkom KB). “Ini menjadi langkah awal untuk maju secara bersama-sama dan semoga bisa menjadi percontohan,” pungkasnya. (Kur).

Share This:

You may also like...