“Koboy Kampus”, Sketsa Mahasiswa ITB Era 1990-an

Adegan dalam film Koboy Kampus-foto: Offical Koboy Kampus.

Aksi unjuk rasa di halaman kampus Institut Teknologi Bandung  sekitar Agustus 1995 dengan pamflet “Suksesi”  membuka film Koboy Kampus lasngsung membawa mereka yang pernah menjadi mahasiswa pada era itu bernostalgia.  

Ardi, sang pemimpin mahasiswa begitu garang mengkrtik Presiden Soeharto.  Sementara seorang mahasiswi yang dekat dengan dia justru  mengeluh: “Dia lebih cinta ibu pertiwi daripada saya.” Adegan mengundang tawa, karena mahasiswi itu tetap penonton.

Adegan itu gambaran sikap mahasiswa pada masa itu sebagian besar  apatis, sementara sebagian kecil bersikap kritis.   Skorsing bagi Ardi dari kampus sudah menanti dan hal yang biasa di era Orde Baru pasca NKK/BKK.  

Tak jauh dari halaman kampus, sejumlah mahasiswa di Studio Seni Lukis menanggapinya dengan menyanyi: Tanah  luas membentang percuma/Lautan luas membentang percuma/Jika ternyata penduduk dan pemimpin percuma.

Mereka adalah Pidi (Jason Ranti), Ninu (Ricky Harun), Erwin (David John Schaap), Deni (Bisma Kharisma) bersama berapa mahasiswa lainnya, termasuk seorang mahasiswa asing Inggrid (Kennifer Lepas) “mendirikan”  Negara Kesatuan Republik The Panasdalam dengan wilayah di ruang studio seni lukis tersebut.

Koboi berkisah kehidupan Pidi Baiq dan kawan-kawannya yang kemudian dikenal sebagai personel band indie The Panasdalam.  Liku-liku kehidupan mahasiswa jurusan Seni Rupa ITB era 1995 hingga berakhirnya era kepemimpinan Suharto, mulai dari ancaman drop out, larangan melakukan Ospek, kisah asmara dengan balutan komedi menjadi nuansa menarik dalam film yang disutaradari oleh Pidi Baiq dan Tubagus Deddy.  

Negara Kesatuan Republik The  Panasdalam di mata beberapa aktivis mahasiswa dalam film ini dianggapi meracuni pergerakan, padahal mereka bersikap kritis dengan cara mereka sendiri.

Setiap sketsa kehidupan para personel di kampus ini diikuti dengan sebuah lagu yang manis, mulai dari kisah putusnya cinta salah seorang personel dengan mahasiswa Unpad di Jatinangor,  hingga reformasi begitu apik dan menjadi kekuatan film ini.

Sayangnya gambaran kota Bandung era 1990-an tidak terlalu digambarkan dengan baik, mungkin karena wajah kota Bandung begitu banyak yang berubah. Termasuk sejumlah sudut  di jalan Djuanda (Dago). Penggunaan telepon umum dengan koin mengingatkan pada film Dilan 1990 dan Dilan 1991, yang diangkat dari novel yang ditulis Pidi Baiq menjadi penyelamatnya.

Begitu juga dengan Buku-buku terbitan tahun itu hingga ospek mahasiswa dengan seragam SMA-nya mengingatkan pada era itu. Bagi mereka yang dulu menjadi penggemar mantan penyanyi cilik Chicha Koeswojo, Koboy Kampus menjadi pengobat rindu.  Chicha tampil sebagai cameo sebagai ibu Pidi Baiq.

Koboy Kampus menjadi pelengkap bagi mereka yang pernah jadi remaja di era 1990-an setelah menyaksikan Dilan 1990 dan Dilan 1991, terutama di kota Bandung. 

Sementara bagi generasi milenial penampilan Vienny JKT 48, Danilla Riyadi, Bima Karisma sebagai mahasiswa 1990-an bakal menjadi daya tarik sendiri (Irvan Sjafari).

Share This: