Kiyosaki

 

kiyosaki

“Jangan bekerja untuk uang, buatlah uang bekerja untuk Anda.”

 

Nasihat cerdas itu datang dari Robert Toru Kiyosaki penulis buku Rich Dad Poor Dad yang legendaris itu.  Ketika terbit pertama kali pada tahun 1997,  buku panduan praktis tentang nasihat mengelola uang itu terjual 12 juta eksemplar. Dan melejit ke tangga  buku terlaris nomor satu secara bersamaan di New York Times, The Wall Street Journal dan USA Today.

Bersama mitranya, Sharon Lechter,  penulis Amerika Serikat keturunan Jepang ini membuat kejutan lewat rangkaian buku seri Rich Dad Poor Dad. Paling terkenal,  Cashflow Quadrant yang juga dijual dalam bentuk CD dan  permainan (games).

Hingga buku terbitan terbarunya, Second Chance,  for your money, your life and our world  (2014), Kiyosaki telah menulis  sembilan belas buku dengan tiras penjualan mencapai  26 juta eksemplar, diterjemahkan ke dalam 29 bahasa.

Jumlah penjualan itu memang belum apa-apa jika dibanding  buku fiksi Harry Potter yang terjual 450 juta copy di seluruh dunia (per 2013). Novel fantasi karya JK Rowling yang juga terbit kali pertama pada 1977 ini bahkan semakin laris ketika diadaptasi ke layar lebar.

Alhasil,Harry Porter tak hanya nama penyihir cilik, tapi merambah jadi merk dagang, di mana untuk trade mark Harry Porter saja bernilai 15 miliar dolar AS.

Tetapi karya non-fiksi Kiyosaki agaknya lebih punya makna, karena dinilai mampu mengubah  mindset baru tertang  pengelolaan uang. “Rumahmu bukanlah aset, Penabung adalah orang yang kalah, orang kaya tidak bekerja untuk uang, dan sekolahmu tidak mengajarkan apa-apa tentang cara mengelola uang.”  Tentu saja sulit menerima tesis yang agak keblinger itu.  Bahkan saat menawarkan Rich Dad Poor Dad pada 1977 hampir semua penerbit menolak ide melek finansial yang ditulis Kiyosaki. “You don’t know what you are talking about.”  Tapi lewat penjelasan yang retorik serta bukti-bukti kegagalan bisnis property di AS pada satu dekade berikutnya, nama Kiyosaki melejit di dunia yang berkorelasi dengan finansial.   Tak heran jika jutaan orang di dunia, terutama para pelaku direct selling bagai terbius. Di kalangan masyarakat Multi level-marketing bahkan dikenal istilah ‘Mazhab Kiyosaki’.

Tokoh utama dalam buku laris tersebut adalah dirinya sendiri, yang mendapat pelajaran dari seseorang yang ia panggil Rich Dad (Ayah kaya).

Namun apa lacur. Rich Dad Poor Dad belakangan dihujat  menyesatkan. Apa yang ditulis mantan marinir perang Vietnam itu  tak lebih dari khayalan liarnya belaka. Ayah kaya yang ia banggakan itu sebenarnya tak pernah ada alias  cuma tokoh dalam imajinasinya.

Penyanggah buku fenomenal itu,  adalah John T Reed, penulis yang juga konglomerat real estate di AS.  Ia hanya minta bukti bisnis apa yang dikelola Kiyosaki sehingga ia bisa kaya raya dan mengalami bebas finansial di usia 47 tahun (1994).

Tetapi tak pernah ada jawaban memuaskan.  Konyolnya,  Kiyosaki menjawab: why don’t you let Rich Dad be a myth like Harry Potter (mengapa tidak kau biarkan saja Ayah kaya itu menjadi dongeng seperti halnya Harry Potter)

Kita tidak tahu apakah ia benar, tetapi nasihat Kiyosaki  terlanjur merasuk ke penjuru dunia. Publik tak peduli  dengan fiksi atau non-fiksi,  buku Kiyosaki terus saja terbit dan laris.  Sebaliknya, beberapa e-mail yang dikirim ke T Reed menuding ia cemburu dengan sukses Kiyosaki yang sama-sama penulis dan pelaku bisnis real estate.

Bagi masyarakat konsumtif, masalahnya bukan  fiksi atau non-fiksi,  tapi lebih pada apakah ia bisa menguntungkan. Bukankah kisah penyihir cilik, Harry Potter berhasil melambungkan  JK Rowling menjadi penulis terkaya di dunia.  Ia berpenghasilan US$ 1 miliar (Rp 9 triliun).

Rowling maupun Kiyosaki agaknya bisa kita nobatkan sebagai penulis yang mampu menyihir para pembaca untuk tak beranjak hingga lembaran terkahir.  Ketika sihir Rowling sirna dengan berakhirnya thriller tujuh episode Harry Porter, sihir Kiyosaki justru menghunjma kuat di  benak para pengelola  keuangan. (Irsyad Muchtar)

Share This: