Kisah Pisang Kepok Jadi Kipas 50 Gold

Ilustrasi-Foto: Gerbang Indonesia.

PEKANBARU—Awalnya Abdul Rahmat hanyalah pemasok pisang kepok dari Bengkulu ke Pekanbaru. Bersama istrinya, dia mengecer ke pedagang gorengan.  Namun ia melihat para pelanggannya justru makin maju dan sukses, punya rumah dan mobil, serta usahanya makin berkembang.

Akhirnya Abdul memutar otaknya agar usahanya tidak hanya jalan di tempat.  Dia pun belajar mengiris pisang dulu, agar bisa tipis dan berbentuk kipas. Selanjutnya Abdul belajar meracik bumbu tepung pisang kipas agar gurih, renyah dan nikmat.  

Dia membutuhkan uji coba berbulan-bulan. Hingga memunculkan rasa yang khas seperti tekstur. Produknya dinamakan  Pisang Kipas 50 Gold kini.

Produk Pisang Kipas 50 Gold kini menyediakan dua varian yakni matang dan setengah matang. Yang setengah diciptakan khusus untuk oleh-oleh, dan bisa bertahan dua hari disimpan dalam freezer sebelum digoreng matang. Sementara untuk harga bertingkat tergantung ukuran mulai dari kecil di ecer Rp2.000 per buah, hingga paling besar Rp5.000 per buah.

Kini  Abdul Rahmat  bisa meraup untung sekitar Rp 5 juta per harinya. “Setiap hari kami melayani pesanan kurang lebih 1.000 buah pisang kipas, kadang lebih,” ujarnya.

Ketekunannya membuat Pertamina menjadikan pengusaha yan berbasis di Jalan Sultan Syarif Qasim no 30 b, Kota Pekanbaru sebagai mitra binaan.  Pertamina, selalu memperkenalkan produk Pisang Kipas 50 Gold ke pada para tamu yang datang ke Riau.

Ada salah satu sebab dibalik ramainya pesanan pisang kipas miliknya, yakni kecepatan teknik dalam melayani pelanggan. Terutama semenjak Rahmat mengganti bahan bakar menggoreng pisang semula dari LPG melon 3 kg menjadi Bright Gas ukuran 5,5 kg atau 12 kg.

“Kalau pakai tabung 3 kg, mana cukup manasin minyak goreng dalam kuali ukuran 28 liter. Maka pakai si “pinky” pas, cukup untuk menggoreng ribuan pisang satu hari,” urai Rahmat.

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, Pertamina mengapresiasi perjalanan usaha yang dijalani oleh Abdul Rahmat. Menurutnya, Pertamina akan terus mendukung UMKM serupa hingga dapat berkembang dan naik kelas.

“Dengan UMKM naik kelas, maka peluang pasar makin terbuka lebar. Sehingga dapat menyediakan banyak lapangan kerja dan mendukung pertumbuhan ekonomi,” tutup Fajriyah dalam keterangan persnya, Rabu (30/12/20).

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *