Kiat Bisnis Ilmu Gaul  

Bergaul luas dengan berbagai kalangan, mampu menjaga kepercayaan mitra kerja, dan melibatkan diri secara total. Itulah tiga modal besar yang dipegang Teddy Soelartono dalam membangun kerajaan bisnisnya.

teddy-s

Hare gene masih ngebanggain gelar akademis, nggak lah yao,” nada canda itu terlontar dari Teddy Soelartono, Direktur Utama PT Prakarsa Mitra Andalan (PMA). Pekerja cerdas yang banyak bercanda ini tak bermaksud mengecilkan arti gelar sarjana. Hanya saja, ia sering merasa miris dengan banyaknya output pendidikan tinggi yang hanya mencari kerja, alih-alih menciptakan lapangan kerja. “kalau Indonesia mau dihitung dalam percaturan ekonomi dunia, mestinya kan harus banyak lahir para entrepreneur,” ujar pria kelahiran Jakarta 27 Agustus 1958 ini. Ucapan Teddy memang tak sekadar teori. Sejak masih kuliah ia sudah mengasah bakat bisnis sebagai kontraktor di sejumlah perusahaan swasta dan  pemerintahan.

“Saya keasyikan cari uang, jadi lupa kuliah,” ujar Teddy mengaku tak sempat menyelesaikan kuliahnya di Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung.

Sejak awal suami Diah Siti Rodiah ini memang sudah bertekad untuk membangun pekerjaan seperti yang dia tekuni saat ini di PT PMA. Perusahaan di bidang jasa layanan pengurusan surat kendaraan bermotor ini, Teddy  mempekerjakan sekitar 100 orang karyawan. Itu baru yang di Jakarta. Jika ditotal seluruhnya dengan cabang usahanya di sejumlah daerah, pekerja yang diayomi PT PMA mencapai 300-an orang.

Sepintas lalu, bisnis jasa Teddy  tampak sederhana, sekadar menjembatani kepentingan antara pabrikan atau industri otomotif dengan instansi yang berwenang mengeluarkan surat nomor kendaraan bermotor. “Kerjanya kelihatan gampang memang, tapi yang gak gampang adalah bagaimana bisa dipercaya oleh perusahaan otomotif raksasa dan otoritas berwenang ,” tutur Teddy yang menekuni usahanya sejak tahun 2007. Untuk masuk ke bisnis ini, kata Teddy, bisa dari berbagai disiplin ilmu, komunikasi massa, ekonomi, maupun ilmu hukum. Tapi bisa juga tanpa gelar akademik yang keren-keren itu. “Disiplin ilmu saya malah geodesi, tapi nggak ngaruh tuh, karena modal utama di bisnis jasa itu adalah  jujur dan pandai gaul dengan berbagai kalangan,” sambungnya lagi.

Berkat kepercayaan  mitra kerjanya, yaitu Astra dan kepolisian, Teddy mampu memenuhi pesanan 12 ribu surat izin  kendaraan baru per bulan.Sebanyak 7.000 di antaranya untuk alokasi Jakarta, sisanya didistribusikan ke daerah. Jasa lain yang ditanganinya adalah perpanjangan  STNK, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, dan mutasi. Bisnis jasa itu adalah kepercayaan, itu sebabnya kepada para karyawannya Teddy menekankan arti pentingnya kejujuran.

“Sekali saja kita bertindak tidak jujur, seluruh integritas yang diwujudkan sekian lama gugur dengan serta merta,” tegasnya.

teddy-s-prakarsa

Pentingnya Inovasi

Kejelian naluri bisnis Teddy dalam mengintip peluang usaha sudah melekat bahkan sejak usia muda. Umpamanya saja, pada tahun 90-an ia  membuka warung telekomunikasi (wartel) di Padang, Sumatera Barat. Padahal, saat itu belum ada orang yang  berani membuka usaha sejenis. Memang belum banyak yang paham dengan bisnis tersebut. Alhasil, sebagai pelopor, usahanya laris manis. “Jujur saja, waktu itu wartel masih awam bagi masyarakat di Sumatera Barat,” ujarnya.

Setelah sukses dengan terobosan dan kepeloporannya, banyak orang lalu meniru usaha tersebut. Seiring kemajuan perkembangan teknologi telekomunikasi, era wartel dengan cepat tenggelam. Hadirnya instrumen pager selama hampir dua tahun pun tak banyak membantu. Telepon seluler (ponsel) yang praktis dan murah meriah datang memanjakan. Perangkat komunikasi itu langsung masuk ke kantong baju/celana orang per orang. Satu demi  satu usaha wartel gulung tikar, termasuk milik Teddy.

Di jalur bisnis “plat merah”, ia pernah jadi rekanan PLN. Pekerjaan ini dilakoninya dengan sepenuh hati. Soalnya, ia punya keahlian teknis yang cocok untuk menggarap bidang ini. Berbagai proyek pengerjaan di daerah pernah ditanganinya. Tak cuma di bidang ini, dalam setiap usaha apa pun, Teddy selalu total sehingga menghasilkan yang terbaik. Dengan begitu, output pekerjaan dapat memuaskan pemberi order. Dengan penyikapan seperti ini, kepercayaan yang terbangun memungkinkan bisnis terjalin dalam jangka panjang.

Dengan usaha yang kini mapan, ayah tiga anak ini mengaku senang. Yang jelas, deposit pundi-pundinya yang makin subur. Selain itu,  ia juga ikut membantu pemerintah dalam penyediaan lapangan kerja. Dengan jumlah tenaga kerjanya yang 300-an itu, ia tak kurang mengeluarrkan biaya overhead  mencapai Rp1 miliar per bulan. “Bahagia rasanya (saya) bisa ikut mengurangi tenaga pengangguran,” ucap ayah dari Deiska Adisty Tanya, Erlangga Dwi Prasetya dan Gian Triawan Putra.     (Irsyad Muchtar)

Share This: