Kepak Garuda Sumedang di Kampung Alumunium

Pelatihan alumunium-Foto: Dokumentasi Pribadi

SUMEDANG—–Upaya Pemerintah Kabupaten Sumedang menciptakan lima ribu UMKM mendapatkan animo besar dari kaum muda. Pendirian kampung alumunium dan baja ringan di Sukamenak,  sebagai salah satu dari program  one village one product pada 2017 mulai membuahkan hasil.

Dalam ajang Otonomi Expo 2019 yang digelar Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) di JHHC, Jakarta, saya menemui Erwin Yazi Aliansyah, salah seorang di antara wirausahawan muda yang tergabung dalam  Garuda (Gerakan Wirausaha Muda), melatih  16 orang untuk kerajinan alumunium dan 16 orang untuk baja ringan.

Pendirian kampung alumunium dan baja ringan itu didukung perusahaan swasta Nuansa Alumunium yang menjadi mitra mereka dan sekaligus juga meyerap produk para perajin itu. Di antara produk yang dibuat adalah tangga jemuran hingga kerangka rumah.

“Dalam sebulan kami mampu memproduksi 100 hingga 200 tangga alumunium.  Perusahaan mendapat 70 persen dan perajin mendapat 30 persen. Hasilnya untuk kampung alumunium saja mendapat Rp100 juta per bulan,” tutur pria kelahiran 1990 ini yang bertindak sebagai pembina.

Pasar di Kabupaten Sumedang saja cukup besar, masih banyak pembangunan perumahan, rumah sakit dan sekolah. Pemkab Sumedang mewajibkan mereka mengutamakan produksi UKM lebih dulu.  Setelah itu baru dipasarkan ke luar Sumedang.

Pera perajin alumunium ini juga mendapatkan dukungan dari Universitas Unpad dan Universitas Sebelas April Sumedang (Uniap).

Erwin sendiri mengaku sudah jatuh bangun jadi pengusaha. Merantau dari kampungnya di Tasikmalaya dan terdampar di Bandung merintis usaha roti, namun belum rezeki. Usahanya kurang berhasil. A

khirnya pria yang pernah kuliah di Teknik Elektro Universitas Muhammadyah Yogyakarta dan alumni Manajemen Syariah UIN Bandung  ini  mengikuti program dari Pemkab Sumedang.

Kini ia bukan saja menjadi pembina kampung alumunium, tetapi juga pengusaha rumah makan dan agribisnis beras sorgum.

Erwin Yazi-Foto: Irvan Sjafari

“Untuk beras sorgum ini saya melibatkan warga eks Jatigede yang terdampak pembangunan waduk. Terdapat 30 hektar lahan yang kami garap, ” pungkasnya (Irvan Sjafari).

Share This:

You may also like...