Kementan akan Bangun 1000 Toko Tani untuk Atasi Lonjakan Harga Pangan

Jakarta – Menjadi negeri agraris tidak menjamin Indonesia aman dari gejolak harga produk pertanian. Hal tersebut terjadi karena produksi di suatu daerah lebih kecil dari kebutuhan. Tak heran jika komoditas tertentu tiba-tiba naik cukup tinggi. Misalnya cabai, bawang merah dan produk lainnya. Kedepan diharapkan tidak lagi jika program pemerintah berhasil diterapkan.

Mencermati kondisi ini Kementerian Pertanian (Kementan) berupaya memotong mata rantai distribusi. Dengan membangun 1.000 Toko Tani Indonesia (TTI) dengan tujuan menstabilkan harga komoditas pangan. Mentan Amran Sulaiman mengatakan program ini bisa mengendalikan harga. Program ini melibatkan kelompok-kelompok tani bekerja sama. “Keberadaan Toko Tani Indonesia ini dapat mendekatkan hubungan antara produsen dalam hal ini petani dengan konsumen atau masyarakat,” ujarnya.

Keberadaan TTI akan menekan harga komoditas pertanian, seperti bawang merah, cabai, dan beras yang acap kali harganya melonjak tinggi di pasaran, terutama menjelang hari-hari besar nasional dan keagamaan, seperti lebaran Idul Fitri atau tahun baru.

Program tersebut imbuh Amram mendapat tanggapan positif dari berbagai daerah. Misalnya Badan Ketahanan Pangan dan Pusat Informasi Jagung (BKPPIJ) Provinsi Gorontalo dan Sulawesi Utara, menilai keberadaan toko tani ini dapat menekan harga beras.

TTI dapat mempengaruhi harga penjualan hasil pertanian stabil di pasaran. Selain itu juga menyerap hasil pertanian dari petani lokal sehingga stabilitas harga pangan terjaga. Pengaruh lainnya mempercepat alur distribusi produk pertanian, tidak seperti sekarang yang masih panjang.

Bukti adanya sambutan dari daerah kini sudah banyak daerah yang mengembangkannya. Misalnya di Palembang, Sumsel keberadaan toko tani dikelola gabungan kelompok tani, di pasar tradisional. Jawa Barat juga segera merealisasikan sebanyak 144 TTI tersebar di 22 kabupaten/kota.

Alokasi dana yang disediakan untuk membangun satu TTI tersebut sekitar Rp 200 juta. Anggaran tersebut untuk membangun infrastruktur atau fisik, termasuk biaya modal. Toko Tani Indonesia bentukan Kementan ini diupayakan untuk menjadi solusi menjaga harga kebutuhan pangan atau sembako murah untuk masyarakat. Amran mengharapkan nantinya program gagasannya ini dapat menjadi rujukan atau patokan harga kebutuhan pokok masyarakat, seperti beras, bawang merah, cabai merah, cabai rawit dan kooditas lainnya.

Masyarakat bisa membeli berbagai kebutuhan pangan di toko tersebut secara langsung dengan harga lebih murah/terjangkau karena barang dikirim langsung dari produsen.

Dengan program ini tegas Mentan, pihaknya berusaha mengubah struktur pasar yang terbentuk selama ini cukup panjang, yakni ada sembilan titik, akan dirubah hanya menjadi tiga titik saja. Contoh kasus ungkap Amran Sulaiman, misalnya harga bawang merah di kota mencapai Rp 40 ribu, bisa menjadi Rp 22 ribu.demikian yang lain harganya bisa lebih murah. Saw/Dbs.

Share This:

Next Post

LPDB-KUMKM Tawarkan Rp 200 Miliar untuk UMKM Sumbar

Jum Mei 20 , 2016
Padang – Kalangan UMKM di Provinsi Sumatera Barat ditantang untuk memanfaatkan dana bergulir LPDB hingga Rp 200 miliar. “ Provinsi Sumbar sangat Berjaya dengan produk UMKM nya, saya tawarkan untuk memanfaatkan dana bergulir hingga Rp 200 miliar, kata DIrut LPDB-KUMKM Kemas Danial dalam acara Monitoring dan Evaluasi LKB/LKBB di Padang, […]