Kemenperin Jadikan Koperasi Nira Satria Percontohan Penerapan Teknologi Industri 4.0

Ilustrasi-Foto: Istimewa.

JAKARTA—-Kementerian Perindustrian mendorong Industri Kecil Menengah (IKM) gula palma untuk segera menerapkan teknologi industri 4.0 guna meningkatkan efesiensi proses produksi dan meningkatkan daya saing.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Gati Wibawaningsih menyampaikan ssasaran utama program prioritas Making Indonesia 4.0 adalah menjadikan Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030.

Pihaknya melalui Direktorat IKM Pangan, Barang dari Kayu dan Furnitur berupaya menjadikan salah satu koperasi penghasil gula palma di Kabupaten Banyumas, yakni Koperasi Nira Satria sebagai contoh sektor IKM yang akan menerapkan teknologi industri 4.0.

“Upaya ini dilakukan secara bertahap mulai dari pembangunan sistem informasi, bantuan sarana pendukung, hingga pendampingan,” ujar Gati dalam keterangan persnya, Rabu (23/6/20).

Langkah ini dilaksanakan untuk meningkatkan daya saing IKM gula palma Indonesia di pasar global, utamanya dalam efisiensi dan traceability.

“Melalui penerapan sistem informasi terpadu pada proses bisnis, baik itu dari internal (vertical integration) maupun eksternal (horizontal integration), diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan kemudahan telusur,” paparnya.

 Koperasi Nira Satria yang telah memaniskan pasar gula organik dunia dari kelapa-kelapa lokal olahan para penderes di berbagai desa di Kabupaten Banyumas ini telah dirintis sejak 2008.

“Koperasi ini mampu menyerap produk gula palma dari 1.074 penderes di Banyumas dan sudah mengharumkan nama Banyumas sebagai penghasil gula kristal organik berkualitas ke pasar Jerman, Eropa, Amerika dan Tiongkok,” ungkap Gati.

Adapun output dari implementasi industri 4.0 pada Koperasi Nira Satria, antara lain adalah traceability dari level pengepul ke koperasi serta dibuatnya beberapa aplikasi berbasis website pada proses bisnis gula palma seperti input data gula, sistem informasi, rekam data ekspor, dan prediksi bisnis ekspor.

 Selain itu, adanya otomatisasi pada timbangan digital yang terintegrasi secara real time ke cloud database berbasis IoT, penggunaan aplikasi warehouse management system di level pengepul dan koperasi, adanya real time data collector untuk mesin oven dan monitoring mesin oven berbasis IoT, serta optimalisasi konfigurasi data mesin oven berbasis machine learning.

Implementasi industri 4.0 ini juga akan menghasilkan real time tracking distribusi gula palma dari pengepul ke koperasi dan control tower untuk beberapa koperasi gula palma.

“Dengan adanya implementasi industry 4.0 pada IKM gula palma seperti Nira Satria, dapat menjadi percontohan bagi pengembangan IKM makanan lainnya,” imbuh Gati.

Gula palma merupakan salah satu komoditas unggulan yang dihasilkan oleh IKM dalam negeri. Indonesia merupakan negara pengekspor utama gula palma di dunia, diikuti Filipina dan Kamboja. Selain pasar ekspor, pasar dalam negeri juga dinilai sama-sama menjanjikan.

 Lebih lanjut, gula palma yang berbahan dasar gula kelapa atau gula aren merupakan komoditas yang mempunyai nilai ekspor tinggi dan terus meningkat, yakni pada 2017 ekspor gula palma mencapai 25 ribu ton dengan nilai 42,6 juta dolar AS dan pada 2018 ekspor gula palma meningkat menjadi 35 ribu ton dengan nilai 52,5 juta dolar AS.

“Diharapkan upaya ini dapat meningkatkan efisiensi dan traceability dalam proses bisnis gula palma, dapat meningkatkan daya saing gula palma Indonesia di pasar global, yang berarti juga meningkatkan pendapatan devisa negara, membuka lapangan kerja dan meningkatkan kemandirian masyarakat,” tutur Gati.

Menurutnya, pemanfataan teknologi industri 4.0 menjadi lompatan besar bagi sektor industri, di mana teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan sepenuhnya.

Tidak hanya dalam proses produksi, melainkan juga diseluruh rantai nilai industri sehingga melahirkan model bisnis yang baru dengan basis digital guna mencapai efisiensi yang tinggi dan kualitas produk yang lebih baik.

Dirjen IKMA berharap, sektor manufaktur nasional termasuk IKM semakin siap menuju perubahan dalam menghadapi transformasi industri 4.0 yang mengintegrasikan semua lini produksi secara digital.

Industri makanan dan minuman merupakan salah satu dari lima sektor manufaktur yang menjadi fokus untuk penerapan awal industri 4.0. IKM di sektor tersebut didorong untuk mengadopsi teknologi di sepanjang rantai nilai untuk meningkatkan hasil produksi dan pangsa pasar mereka.

 Ditjen IKMA telah menggelar kegiatan Workshop Pengembangan IKM Gula Palma Berbasis Sistem Informasi Terpadu di Purwokerto, dengan tujuan untuk mengenalkan transformasi industri 4.0 kepada IKM gula palma.

Kegiatan tersebut bertujuan memberikan gambaran tentang transformasi industri 4.0 kepada IKM gula palma, sehingga dapat menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang pada era industri 4.0, termasuk tren pasar produk pangan di pasar regional dan global.

Share This:

2 Comments on “Kemenperin Jadikan Koperasi Nira Satria Percontohan Penerapan Teknologi Industri 4.0”

  1. Howdy would you mind letting me know which hosting company you’re utilizing?
    I’ve loaded your blog in 3 different web browsers and I must
    say this blog loads a lot quicker then most. Can you suggest a good internet hosting provider at a honest price?

    Thank you, I appreciate it!

    Feel free to surf to my webpage; Ayaerialyoga.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *