Kemenkop UKM Gandeng BIN dan Bareskrim Polri Tangkal Penipuan Investasi Berkedok Koperasi

Ilustrasil-Foto; Eshinta.

JAKARTA—-Anda  pernah tiba-tiba mendapatkan  SMS mengaku dari sebuah koperasi simpan pinjam menawarkan pinjaman dana berbasis online (daring) dengan besaran Rp5 hingga Rp250 juta? Lalu  kemudian  Anda diminta menghubungi sebuah  nomor,  maka dipastikan itu merupakan sebuah penipuan.

Saat ini sudah banyak laporan dari masyarakat yang menyebut penipuan investasi berkedok koperasi. Demikian diungkapkan Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM Suparno, seusai pertemuan dengan unsur dari  Badan Intelejen Negara (BIN) dan Bareskrim Mabes Polri  di Jakarta,  Rabu (6/2/2019).

“Para penipu  hanya berkedok atau atas nama koperasi, tapi tidak menjalankan prinsip-prinsip perkoperasian yang baik dan benar. Mereka mengincar masyarakat yang memiliki kebutuhan konsumtif dengan cara mudah dan cepat, sayangnya tanpa kontrol,” tutur dia.

Suparno menyebut sejumlah koperasi  yang  dicatut  namanya  antara  lainKSP Nasari, KSP Utama Karya, dan KSP Anugerah.  Dia meminta seluruh masyarakat tidak terkecoh oleh  penipuan berkedok koperasi itu.   Untuk itu diperlukan langkah pencegahan dan penanganan  agar kasus penipuan seperti ini tidak meluas

Saat  ini  jumlahKSP dan  USP mencapai 79.543 unit atau 52,62 persen dari total jumlah koperasi di Indonesia. Itu sebabnya koperasi yang bergerak di sektor simpan pinjam rawan untuk disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggungjawab.

Untuk itu, lanjut Suparno, pihaknya akan lebih meningkatkan kinerja dari Satgas Waspada Investasi yang ada di seluruh Indonesia. Saat ini, sudah ada 13 Kementerian/Lembaga yang masuk dalam jajaran Satgas Waspada Investasi, termasuk Bareskrim Mabes Polri.

Modus Kejahatan Siber

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Analisa dan Forensik Siber (Deputi Intelijen Siber) BIN, Linardi Utama juga mengungkapkan pihaknya bertugas mendeteksi awal kejahatan di bidang siber yang memiliki dampak berskala nasional.

“Jumlah koperasi di Indonesia sangat banyak dengan jumlah anggota sangat besar. Saya menghimbau pelaku koperasi dan UKM menyadari betapa pentingnya pengamanan data agar tidak disalahgunakan pelaku kejahatan siber,” kata dia.

Lokasi pelaku kejahatan siber itu tidak hanya di dalam negeri saja,  tetapi banyak menyebar di luar negeri.   Linardi juga menyebut saat ini Indonesia berada pada  urutan keempat dunia untuk masalah kejahatan siber.

Saat ini koperasi di Indonesia akan bertransformasi ke era digital ekonomi mengikuti tren yang terjadi di dunia.

“Ketika kita masuk ke dunia ekonomi digital, kita juga harus sadar akan bahaya kejahatan siber yang mengancam di depan.  Kita harus mampu membaca gejala seperti itu, agar kita segera mampu mengatasi dan mengantisipasi,” ujar Linardi.

Ungkap  dia, ada beberapa modus kejahatan siber yang bisa terjadi di seluruh dunia. Seperti penyebaran virus, spam, trojan, ransom, phising, hingga terkuat adalah hacking.

“Yang kerap banyak terjadi di Indonesia adalah modus phising . Pelaku kejahatan siber mencuri akun target. Biasanya mereka membuat website perusahaan palsu, biasanya website perbankan, untuk mengelabui si korban,” terang dia.

Seperti Main Petak Umpet

Sementara penyidik senior dari Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri AKBP, Dam Wasiadi menuturkan, ketika kejahatan siber terjadi maka yang bisa menjadi korban Itu bisa koperasi atau masyarakat umum.

Dam mengakui, untuk mengungkap kasus kejahatan siber bukan pekerjaan mudah. Pasalnya, selain selalu menggunakan proxy, pelaku juga memakai hosting di luar negeri.

“Bagi Polri ini ibarat main petak umpet. Kita harus memiliki mitra dan jaringan dengan polisi di seluruh dunia. Tapi, walau pun mereka kerap menggunakan nama anonim, kami mampu menangkap pelaku kejahatan siber. Di antaranya, payment card fraud,” pungkas Dam.

Share This:

You may also like...