Kembalikan Khittah Koperasi

Koperasi dapat menjadi solusi efektif untuk mengatasi kesenjangan ekonomi yang semakin melebar. Kopsyah BMI sudah membuktikannya melalui beragam inisiatif strategis yang dilakukan.

Koperasi selama ini masih dicitrakan sebagai lembaga ekonomi kelas dua. Akibatnya, banyak pihak memandang minor keberadaan lembaga yang ditahbiskan sebagai sokoguru perekonomian ini. Hal itu diperparah dengan adanya praktik koperasi abal-abal yang merugikan anggota dan masyarakat sebagai dampak dari lemahnya fungsi pengawasan regulator.

Kamaruddin Batubara, Presiden Direktur Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) tidak menampik adanya sinisme terhadap koperasi. Karena memang faktanya ada koperasi yang hanya dijadikan kedok untuk mengeruk keuntungan pribadi pengurusnya.  “Kopsyah BMI hadir untuk menjalankan praktik berkoperasi yang benar sesuai jatidiri dan mendistribusikan pemerataan  ekonomi bagi anggota dan masyarakat,” ujar Kamaruddin.

Ungkapan Kamaruddin bukan hiasan bibir belaka tetapi teruji secara material. Kopsyah BMI sebagai salah satu koperasi besar di Indonesia sudah banyak berkiprah dalam aktivitas sosial kemasyarakatan. Jenis kegiatannya tidak karikatif tetap substantif dan berkelanjutan. Ambil contoh pengadaan mobil ambulan yang penggunaannya gratis bagi anggota dan masyarakat yang membutuhkan. Saat ini, sudah ada 2 mobil ambulan yang dihibahkan Kopsyah BMI untuk kepentingan umat. Mobil pertama ditempatkan di Sepatan Cabang Tangerang 1 dan mobil ke-2  ditempatkan di Ciruas Cabang Serang.

Biaya operasional mobil ambulan akan ditanggung sepenuhnya oleh Koperasi. Bagi yang membutuhkan tinggal menghubungi pengurus Koperasi dan tidak dikenakan biaya. Dengan begitu, keluarga yang sedang berduka tidak perlu repot apalagi memikirkan dana untuk sewa mobil ambulan.

Selain pengadaan ambulan, Kopsyah BMI secara rutin memberikan rumah gratis layak huni kepada anggota dan masyarakat yang kurang mampu. Sampai akhir Oktober lalu, Koperasi yang dinobatkan sebagai Koperasi Penggerak Pembangunan oleh Bappenas ini sudah menyerahkan  hibah rumah siap huni sebanyak 122 unit. Rumah gratis ke-122 diserahkan kepada anggota Desa Rancabango Kecamatan Rajeg Kabupaten Tangerang.

Menurut Kamaruddin, aksi sosial yang dilakukan Koperasi memiliki landasan teologis dan sosiologis. Perintah untuk mendistribusikan harta kepada orang-orang miskin salah satunya dinyatakan dalam Al Quran Surat Al Hasyr ayat 7, yang artinya:

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

“Syariah merupakan nilai dasar dalam setiap aktivitas kami. Seperti dinyatakan dalam ayat di atas tersebut, jelas ada perintah harta harus didistribusikan agar jangan terakumulasi pada orang kaya saja,” ujar Kamaruddin.

Sementara secara sosiologis, penerima rumah gratis memang wajib dibantu karena kondisi rumah yang sudah tidak layak untuki ditinggali. Kopsyah BMI memiliki tim khusus untuk menerima masukan dan memverifikasi calon penerimah rumah tersebut. Semua proses dijamin transparan dan penerima rumah tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun. Kualitas rumah juga dijamin bagus, karena mitra konstruksi menggunakan produk dan bahan baku sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).

Sumber dana aksi sosial berkelanjutan diambil dari dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) karyawan dan anggota Koperasi sebesar 20% sampai 25%, serta sisanya dari Dana Provisi 1% yang dialokasikan sebagai Dana Kebajikan, untuk kegiatan sosial dan pelatihan produktif. Dalam hal ini, Kopsyah BMI tidak mengambil satu sen pun dana tersebut. Seluruh dana yang terkumpul digunakan untuk kemaslahatan umat.

 

Pembiayaan Mikro Tata Air dan Sanitasi

Akses air bersih dan sanitasi merupakan satu dari 17 tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs) yang diinisiasi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Dalam hal ini, Kopsyah BMI mengadopsi agenda SDGs tersebut dalam program kerjanya melalui skim pembiayaan mikro tata air dan sanitasi (MTA dan MTS). Kopsyah BMI merupakan pelopor dan satu-satunya koperasi di Indonesia yang memiliki skim pembiayaan tersebut.

Pembiayaan MTA dan MTS Kopsyah BMI baru saja dibukukan dengan judul “Pengalaman Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia: Pembiayaan Mikro Tata Air dan Sanitasi”. Tujuannya agar lebih banyak pihak yang tergerak untuk mendongkrak akses air bersih dan sanitasi. Hal itu sesuai dengan program Universal Akses 100-0-100 yang ditargetkan pemerintah tercapai pada 2019. Seperti diketahui,  target 100-0-100 artinya 100% akses air minum, 0% persen luas kawasan kumuh perkotaan dan 100% akses sanitasi (air limbah, persampahan dan drainase).

“Silakan saja kalau ada yang tergerak bisa menjadikan buku ini sebagai pedoman untuk skema pembiayaannya.  Saat ini kami masih fokus di Banten. Faktanya tak satu pun kabupaten di provinsi ini bebas dari kebiasaan buang air besar sembarangan,” tegas Kamaruddin.

Ia berharap pemerintah segera mengeluarkan regulasi  terkait akses air bersih dan sanitasi seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan nama KASUR (Kredit Air dan Sanitasi Untuk Rakyat). Implementasinya  bisa bekerja sama dengan koperasi.  Kopsyah BMI menargetkan program MTA dan MTS bisa menjangkau seluruh Banten dalam lima tahun ke depan.

Dalam peluncuran buku yang dipadu dengan diskusi ini hadir Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar, Budi Darmawan selaku Septage Management Spesialist dari Iuwash Plus (Indonesia Urban Water, Sanitation and Hygene), serta sejumlah aktivis lingkungan.

Bupati Tangerang menyambut baik kehadiran buku ini dan memberikan apresiasi. “Apa yang dilakukan Kopsyah BMI sejalan dengan program dari kami,   Gerakan bersama rakyat berantas pemukiman kumuh dan miskin (Gebrak Pak Kumis). Program ini cikal bakalnya dari Kopsyah BMI,” ujar Zaki.

Sementara Budi Darmawan tak kuasa menutupi kekagumannya atas kiprah Kopsyah BMI tersebut.  Menurutnya, Kamaruddin dan tim sangat serius mengurus air dan sanitasi dengan mengajak partisipasi masyarakat miskin. “Cara Kopsyah BMI dengan mengadakan pertemuan sekali seminggu sangat efesien untuk menjaring kebutuhan anggotanya,” kata Budi.

Aksi sosial Kopsyah BMI memang layak diapresiasi dan diduplikasi oleh koperasi lainnya di Tanah Air. Kamaruddin membuktikan bahwa Koperasi yang dijalankan sesuai khittahnya, efektif sebagai alat pemerataan ekonomi. “Koperasi seharusnya menjadi garda terdepan untuk mengikis kesenjangan sosial ekonomi,” pungkasnya.

Share This: