Kelompok Tenun Putri Mas Tumbuhkan Ekonomi Kreatif Jembrana

Kelompok Tenun Putri Mas-Foto: Dokumentasi Tenun Putri Mas.

JEMBRANA—-Kerajaan Jembrana Bali mempunyai berapa peninggalan budaya yang terus berlanjut.  Di antaranya adalah tenun songket, yang disebut cagcag.  Namun seiring berjalannya waktu, kain tenun ini diperkirakan akan punah apabila tidak diteruskan dan masih menggunakan cara tradisional.

I Ketut Widiadnyana  tergerak untuk melestarikan warisan budaya daerahnya ini dengan mendirikan Kelompok Tenun Putri Mas sekitar 2014.  Selain pelestarian budaya pendirian kelompok tenun ini didorong untuk memberdayakan ekonomi  para perempuan desa hingga bisa membantu kehidupan keluarganya. 

Kelompok ini melibatkan lebih dari 50 perajin tenun.  Sebagian di antaranya berusia muda, 20 tahun-an, walau pun masih didominasi 40 tahunan. 

“Kami bersyukur sudah ada regenerasi ke generasi milenial. Dengan demikian tradisi tenun ini tidak akan punah,”  kata Widyanyana kepada Peluang, Rabu (18/7) seraya mengatakan sudah mendaftarkan 13 motif tenun ke Haki, Kemenkumham.

Widiadyana juga mempunyai misi menumbuhkan ekonomi kreatif.  Alumni Fakultas Teknik sebuah universitas di Surabaya ini memperluas fungsi kain tenun Jembrana tidak hanya untuk upacara adat, tetapi juga mengisi industri fashion dan mode, namun tetap mempertahankannya sebagai  karya seni, di antaranya motif bulan bintang.

“Kami melakukan berapa inovasi. Kalau dulu kain songket dibuat dengan sambungan menjadi tanpa sambungan dengan ukuran dua kali satu meter. Membuat sehelai tenun ini mempunyai kesulitan sendiri, satu hari  seorang perajin membuat kain sepanjang 5 hingga 10 cm, bergantung motif dan kesulitannya,” ungkap Widadyana lagi.

Sehelai kain tenun dibandroll antara Rp600 ribu hingga Rp8 juta.  Peminat kain tenun ini datang dari Jakarta hingga turis mancanegara.  Warganegara Jepang, Jerman dan  Belanda. Bahkan pada kongres IMF di Bali  tahun lalu, delegasi negara Afrika memborong tenun ini.

Untuk pengiriman ke luar negeri, pria kelahiran 1974 ini berharap ada kemudahan ongkos kirim. Pengiriman ke luar negeri kerap lebih mahal dibandingkan harga kainnya.  Sementara untuk ekspor satu kontainer, yang bisa lebih murah tidak memungkinkan karena harus produksi masal.

I Ketut Widadnyana-Foto: Dokumentasi Kelompok Tenun Putri Mas

“UKM seperti kami memang masih butuh dukungan dari hal-hal seperti ini.  Selain itu seperti halnya Thailand mewajibkan pramugari maskapainya menggunakan busana tradisional, seharusnya juga diperlakukan untuk busana tradisional Indonesia,” punkas dia (Irvan Sjafari).

Share This:

Next Post

"Koboy Kampus", Sketsa Mahasiswa ITB Era 1990-an

Kam Jul 18 , 2019
Aksi unjuk rasa di halaman kampus Institut Teknologi Bandung  sekitar Agustus 1995 dengan pamflet “Suksesi”  membuka film Koboy Kampus lasngsung membawa mereka yang pernah menjadi mahasiswa pada era itu bernostalgia.   Ardi, sang pemimpin mahasiswa begitu garang mengkrtik Presiden Soeharto.  Sementara seorang mahasiswi yang dekat dengan dia justru  mengeluh: “Dia lebih […]