Keberadaan Reseller dan Dropshiper untuk Pemasaran UKM

Ilustrasi penjualan baju secara daring (online) dari sebuah produk UKM-Foto: Dok Peluang.

JAKARTA—Era teknologi digital  membantu UKM untuk mengembangkan usahanya dengan memanfaatkan media daring.  Tetapi sejumlah UKM belum merasa cukup melakukan pemasaran sendiri sekalipun pengusaha mempunyai akun media sosial.  UKM juga melakukan kerja sama dengan mitra lain membantu menjualkan produknya, yang lazim disebut reseller dan dropshiper.  Keduanya serupa,tapi tak sama.

Reseller adalah pelaku bisnis atau orang yang menjual kembali produk maupun jasa dari distributor, produsen, atau supplier yang sudah bekerja sama dengan pelaku bisnis tersebut.  Seorang reseller memiliki stok barang yang ingin ia jual kembali. Seorang reseller kerap membeli dulu barangnya dengan jumlah tertentu di muka, baru kemudian menjualnya.

Sistem dropship (pelakunya dropshiper)  melakukan pemasaran secara daring, tetapi dia tidak perlu menyimpan stok barang yang banyak (bahkan tidak menyimpan).  Saat seorang dropshiper mendapatkan orderan, maka  dia langsung meneruskan orderan dan detail pengiriman kepada produsen, distributor atau supplier yang bekerja sama dengan dia.  Harga reseller berbeda dengan harga jual di pasar.

Cara reseller lebih disukai para pengusaha UKM.  Menurut Yasundari, salah seorang pelaku UKM produk minuman dari Bandung, bagi pengusaha cara ini tidak mempunyai risiko, karena seorang reseller membeli putus.

“Biasanya keuntungan seorang reseller antara 20 hingga 25 persen,” katanya kepada Peluang beberapa waktu lalu.

Hal yang senada juga diungkapkan Ruli Anwari, juga seorang pelaku UKM minuman dari Depok. Misalnya saja, seorang reseller dikenakan harga per botol Rp10 ribu di bawah harga retail Rp15.000. Namun dia harus membeli 50 botol.

Wid seorang reseller sebuah produk kosmetik impor dari Bandung membenarkan hal itu. Keuntungan 10%  gagi seorang reseller terlalu tipis dibanding  modal  dan operasional. Untuk standar produk impor, biasanya dia  mengambil 30% keuntungan, dengan antisipasi  berjaga  biaya mendesak.

“Tapi untuk produk lokal, saya ambil keuntungan 15%, mengingat produk lokal minim resiko dalam pengiriman,” ujar dia.

Bagaimana dengan dropshiper?

Salah seorang dropshiper adalah  Mimin, 37 tahun. Ibu rumah tangga ini walau pun tinggal di Pekalongan, tetapi kerap mendapat pembeli dari berbagai kota di Indonesia.  Dia menjelaskan, tidak mengenal secara tatap muka produsen baju yang dia jual.

Dia hanya mengamati di media sosial, seperti intagram. Kalau produk itu dianggapnya menarik dan ia perkirakan mampu menjualnya, maka ia menghubungi si produsen dengan menggunakan media sosial untuk melakukan kerja sama.

“Saya tidak punya toko, tetapi kalau pembeli  datang bukan saja dari sekitaran daerah aku, ada juga yang datang dari wilayah Yogyakarta, Surabaya, Cirebon, bahkan Jakarta,” ucapnya ketika dihubungi Peluang berapa waktu lalu.

Menurut Mimin keuntungan seorang dropshiper ditentukan oleh dirinya sendiri. Untuk setiap helai baju orang dewasa yang ia jual, ia biasanya mengambil Rp20-30 ribu, namun untuk baju anak-anak lebih sedikit.

“Menjadi dropshiper memang penghasilannya tidak tentu, bergantung orderan yang masuk,” tutupnya (Irvan Sjafari)

Share This: