Kaum Milenial Juga Ingin Berkoperasi

MASUKNYA dua koperasi Indonesia (KISEL dan KWSG) ke deretan 300 koperasi besar dunia versi International Co-operative Alliance berimplikasi positif bagi gerakan koperasi di Tanah Air. Dinamika koperasi disemarakkan dengan munculnya beberapa varian. Bisnis start-up di kalangan milenial belakangan banyak mengusung lembaga koperasi. Benarkah kaum muda kelahiran 1980-2000 itu meminati koperasi?

Esensi koperasi adalah wadah organisasi atau lembaga yang menempatkan orang-orang yang berkumpul di dalamnya sebagai faktor paling utama. Bukan materi yang dinomorsatukan. Dalam kesehariannya, para anggota koperasi akan saling mengenal dan bersepakat untuk memenuhi aspirasi sosial, ekonomi dan budaya secara bersama-sama—melalui perusahaan koperasi yang dikelola secara demokratis.

Pengalaman menunjukkan, koperasi dapat menjadi sarana bagi terbentuknya individu yang mandiri. Lembaga koperasi dapat pula menjadi media para insan pembelajar yang saling mencerdaskan antaranggota untuk membangun kebersamaan yang produktif. Pada titik ini, koperasi membuka jalan bagi pengembangan setiap potensi dan bakat serta mendorong tumbuhnya kewirausahan anggota, yang secara kolektif dihimpun dalam sebuah wadah ekonomi dan sosial sekaligus.

Luhur Pradjarto, Deputi Bidang Kelembagaan Kemenkop UKM, melihat generasi milenial berminat pada koperasi. Kalangan yang melek teknologi itu memang cenderung mandiri. Namun, dalam urusan bisnis, mereka lebih menyukai kolaborasi. Tren tersebut sangat pas dengan esensi berkoperasi. Mereka memiliki ruang gerak yang untuk berinteraksi dalam komunitasnya. Di sisi lain, daya kreativitas mereka dapat dikerjasamakan dengan teman sejawat. Ini menjadi format bisnis kolektif yang bercirikan ekonomi berbagi (sharing economy).

Untuk memfasilitasi dinamika mereka, koperasi saat ini dapat memiliki co-working space yang menjadi tempat kalangan milenial berinteraksi. “Saya setuju jika gerakan koperasi segera melakukan re-branding dalam rangka menyesuaikan dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital,” tutur Luhur Pradjarto.●

Share This:

You may also like...