Kalkulasi Kelaikan Tenaga Surya

Bila biaya investasi terus menurun, pada akhir periode 2030 kapasitas terpasang PLTS diproyeksikan mencapai lebih dari empat kali kapasitas terpasang saat ini.

 

WACANA pemanfaatan energi matahari sebagai salah satu sumber energi pengganti minyak dan gas sudah lama digulirkan.Isu ini muncul di setiap pergantian kepemimpinan. Apadaya, peran tenaga surya sebagai pemasok energi untuk kebutuhan energi nasional masih mendapatkan porsi yang kecil jika dibandingkan pemanfaatannya di Cina, Malaysia atau Australia.

Pembangkit listrik tenaga surya/PLTS dikembangkan sejak 1987, sebagai salah satu visi pembangunan jangka panjang Presiden Soeharto. BPPT mulai dengan memasang 80 unit Solar Home System (SHS) (sistem pembangkit listrik tenaga tata surya untuk lampu penerang rumah) di Desa Sukatani, Jabar. Selanjutnya, tahun 1991 diluncurkan proyek bantuan presiden/Banpres untuk pemasangan 13,445 unit di 15 provinsi.Program itu dijadikan model implementasi program listrik tenaga surya untuk sejuta rumah.

Potensi tenaga surya Indonesia sangat besar, di atas Satu Terra Watt.Terbesar di ASEAN karena sinarmatahari ada setiap hari sepanjang tahun. Intensitas radiasi matahari rata-rata sekitar 4,8 kWh/m², yang potensial membangkitkan energi listrik. NTB dan Papua tertinggi 5,7 kWh/m²/hari dan Bogor terendah 2,56 kWh/m²/hari. Intensitas radiasi ini sangat bergantung pada cuaca dan awan.

Kendala penerapan PLTS adalah tingginya biaya investasi. Piranti utama PLTS yaitu modul foto voltaik masih diimpor. Efisiensi modul inihanya 16%,akibatnya harga PLTS per kW masih tinggi. Sementara itu, kapasitas PLTS terpasang di seluruh Indonesia masih rendah yaitu 12,1 MW. Program pengembangan PLTS oleh Pemda, BUMN, serta PLTS 1.000 pulau oleh PT PLN(Persero)diharapkan meningkatkan rasio kelistrikan dan mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan BBM.

Program pembangunan PLTS tahap Iyang sudah dilaksanakan di NTB: menerangi 1.000 keluarga di Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Lombok Utara. Pembangunan PLTS tahap II, menerangi 700 keluarga di lokasi Kab. Bima, Dompu, Sumbawa, Sumbawa Barat.

genset

Untuk memenuhi kebutuhan PLTS di Indonesia, tahun 2011 pemerintah memutuskan untuk membangun pabrik PLTS di Indonesia, dan PT LEN Industri (Persero) ditunjuk untuk mengelolanya dengan kapasitas produksi pabrik fotovoltaik 50 MW per tahun menggunakan teknologi Thin film. Kemampuan pabrik akan ditingkatkan 10 MW/tahun hingga 90 MW. Pabrik dengan investasi US$ 125 juta/Rp1,25 triliun ini bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap imporproduk sel surya.Namun, sampai tahun 2015 belumdapatdiwujudkan, meskipemerintah memberian insentif melalui Permen ESDM No. 17/2013.

Jika modul yang digunakan memiliki tingkat kandungan dalam negeri minimal 40%, harga patokan tertingginya US$ 30 per kWh. Harga ini sudah termasuk seluruh biaya interkoneksi dari PLTS Fotovoltaik ke titik interkoneksi di jaringan tenaga listrik milik PLN. Jika menggunakan BBM, biaya pokok penyediaan listrik PLN sekitar US$ 35 sen-US$ 40 sen per kWh.Tarif PLTS memang di atas BPP nasional, tapimasih lebih murahdibanding BBM.

Sejak tahun 2010, PLTS dapat bersaing dengan pembangkitlistrik lainnya, bahkan setiap periode terjadi kenaikan kapasitas. Hal ini disebabkan pada tahun 2010Pembangkil Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di beberapa wilayah Indonesia, khususnya di wilayah-wilayah terpencil seperti di Maluku, NusaTenggara dan Kalimantan kapasitasnya berkurang, di samping karena biaya bahan bakarnya yang semakin mahal.

Dengan penghapusan subsidi BBM secara bertahap, dan biaya investasi PLTS diasumsikanterus menurun di setiap periode, pada akhir periode (tahun 2030)kapasitas terpasang PLTS diproyeksikan mencapai lebih dari empat kali kapasitas terpasang PLTSsaat ini. Kenaikan kapasitas PLTS yang tinggi pada akhir periode ini terjadi di wilayah Jawadan Sumatera karena makin terbatasnya gas bumi dan bahan bakar minyak.

Di Sulawesi, PLTS akankompetitifjika biaya investasi diturunkanhingga di bawah US$1,650/kW.Di Maluku dan Nusa Tenggara, yang kondisi geografisnya kepulauan dengan biaya investasiUS$1,650 /kW, PLTS sudah dapat bersaing dengan pembangkit lain.PLTS di Papua tidak dapat bersaing dengan pembangkit lain, karena Papua mempunyai beberapa sumber energi (tenaga air, gas bumi, minyak bumi, dan batubara) yang berpotensi menghasilkan listrik melalui PLTA, PLTD, PLTG dan Cogeneration.

Besarnya peluang pembangunan PLTS ini dibenarkan Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara. Bahkan ada perusahaan pemasok energi matahari di Cina yang produknya mampu bersaing di pasaran Eropa. Menurut Marwan, Indonesia bisa membeli komponen utama pengubah sinar matahari menjadi energi dari Cina, lalu merakitnya. Cara ini lebih cepat ketimbang menyiapkan teknologi sendiri yang perlu biaya tidak murah, kecuali jika didukung subsidi yang besar dari pemerintah.

Pendapat berbeda disuarakan Direktur Utama PT PLN (Persero) Nur Pamudji. Nur berkeyakinan, telah terjadi kesalahpahaman tentang pengembangan PLTS di Indonesia. Sebab, iklim Indonesia yang tropis tidak cocok untuk mengembangkan PLTS,“Masalahnya, sinar matahari yang efektif untuk dijadikan pembangkit hanya bersinar dengan tenaga penuh selama 3,5 sampai 4 jam. Pembangkit tenaga surya hanyacocok untuk daerah yang beriklim sub tropis”.

Share This:

You may also like...