Kalah Saing Gak Fair, Semen Nasional Stop Produksi

Akibat perusahaan semen Cina lakukan predatory pricing, kondisi industri semen berada di di pinggir jurang. Jangan sampai KPPU atau pemerintah Jokowi-Kalla menyelamatkan setelah benar-benar telanjur masuk jurang, seperti industri baja.

APA mau dikata. Sejumlah pabrik semen nasional di dalam negeri terpaksa berhenti beroperasi. Penyebabnya, kelebihan produksi di samping tak laku di pasaran. Hal tersebut dikemukakan anggota DPR RI, Andre Rosiade, saat mendampingi Federasi Serikat Pekerja Semen se-Indonesia. Ia menyampaikan berkas ke kantor Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Mereka melaporkan predatory pricing alias persaingan usaha tak sehat yang dilakukan perusahaan BUMN milik Cina, CONCH, yang beroperasi di Indonesia.

Kondisi semen lokal kini merana. “Dari lima pabrik Semen Padang, yang jalan maksimal cuma satu, dua pabriknya karena semen enggak laku. Indocemen pun demikian. Dari delapan, yang jalan tiga pabrik, lima setop. Jadi, utilitas seluruh pabrik semen se-Indonesia gara-gara ‘dihajar’ semen Tiongkok,” kata Andre di Gedung Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Jakarta Pusat, Senin (26/8).

“Penyerapan pasar hanya 65 persen. Itu kenyataannya. Jadi, kondisi industri semen kita sudah di pinggir jurang. Jangan sampai KPPU atau pemerintah Jokowi-Kalla menyelamatkan setelah telanjur masuk jurang, seperti industri baja,” ujarnya. Ia tak habis pikir mengapa penjualan semen milik Cina (dibiarkan/direstui) jauh lebih murah dibanding semen yang diproduksi di dalam negeri.

Tak terserapnya produk oleh pasar, mau tak mau, membuat banyak pabrik semen nasional mengendurkan produksi. Toh hanya akan menumpuk di gudang jika semen hasil produksinya tak laku di pasaran. Jika permasalahan serius seperti ini tidak diselesaikan secara benar, sangat potensial terjadi PHK massal di seluruh pabrik semen se-Indonesia. Proyeksi angka PHK yang merisaukan itu tidak sedikit.

Tanda-tanda akan terjadi PHK massal di seluruh pabrik semen se-Indonesia makin jelas. Buktinya, pihak manajemen Semen Padang sudah menawarkan golden shake hand kepada pekerja. Ini makin menguatkan ndikasi bahwa PHK massal akan terjadi pada tahun 2020 di Semen Padang dan di pabrik-pabrik lain,” kata Andre Rosiadi. Beberapa langkah antisipasi sudah dilakukan. Misalnya, pengajuan pelaporan ke KPPU dan bersurat kepada Kepala Staf Presiden, Moeldoko, beberapa pekan lalu.

Andre menuntut Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, untuk menghentikan impor tinker yang menjadi bahan baku semen. Juga meminta Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, untuk menghentikan pembangunan pabrik semen baru, karena pabrik yang ada saat ini berhenti beroperasi akibat over supply. “Kami minta pemerintah Jokowi memerintahkan Mendag mencabut Permendag No. 7/2018 (izin impor semen dan tinker).

Pertanyaannya, untuk apa kita impor semen dan tinker. Bukankah itu aneh dan ironis? “Kenyataannya kita ini surplus semen 35 juta ton per tahun, untuk apa lagi impor? Impor ini untuk kepentingan siapa, Indonesia atau Cina,” kata dia.●

Share This:

You may also like...