Jumlah  Bioskop Kurang, Penonton  Film Indonesia Belum Maksimal

Adegan film Dilan 1991-Foto: Max Pictures.

JAKARTA—-Pada 30 Maret 1950 sutradara Usmar Ismail mengambil gambar pertama untuk filmnya bertajuk Darah dan Doa. Film Indonesia tersebut adalah film pertama bercirikan Indonesia dan diprakasai oleh orang Indonesia.  Itu sebabnya sejak 1962 oleh Konferensi Kerja Dewan Film Nasional dan Organisasi Perfilman setiap 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Indonesia.

Film Indonesia mengalami pasang surut dan sempat mati suri  pada 1990-an, sebelum akhirnya bangkit lagi pada 2000.  Tiga tahun terakhir ini film Indonesia semakin bervariasi genrenya dan penontonya terus meningkat. Pada 2016 jumlah penton sekitar 34 juta, pada 2017 jumlah penonton meningkat menjadi sekitar 42,7 juta dan 2018  meningkat lagi menjadi 52 juta penonton.

Sementara  tiga bulan pertama 2019 film Indonesia meraup 15 juta penonton dari sekitar30 film sudah dirilis.   Untuk sementara Dilan 1991 memimpin box office dengan 5,2 juta penonton, diikuti Keluarga Cemara 1,7 juta penonton,  Preman Pensiun dan Orang Kaya Baru lebih dari 1,1 juta penonton serta Yovis Ben 2 sekitar 920 ribu penonton.

Bila dihitung jumlah penonton dari film Indonesia tersebut meraih sekitar 70 persen dari jumlah penoton film Indonesia. Sisanya sekitar 25 film hanya mendapat lima juta penonton. Suatu hal yang sebetulnya bukan hal mengembirakan mengembirakan.  Data dari situs filmindonesia  bahkan mengungkapkan separuh film Indonesia yang telah tayang rata-rata penontonnya di bawah  300 ribu.

Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GABSI) Djonny Sjafruddin menyebutkan jumlah penonton film Indonesia harusnya lebih banyak. Sebanyak 75 hingga 80 persen film nasional lebih banyak dinikmati di daerah.

“Jadi kalau ingin memperbanyak jumlah penonton film Indonesia, jumlah  layar harus ditambah karena memang belum ideal.  Banyak daerah yang belum memiliki bisokop. Padahal pasar filnaisonal sebetulnya lebih banyak di daerah  dan  di daerah film Hollywood tidak banyak peminatnya,” ujar Djonny dalam sebuah wawancara dengan Peluang beberapa waktu lalu.

Data GPBSI  mengungkapkan hingga 2019 ada 1.759 layar bioskop di Indonesia. Ribuan layar bioskop itu dimiliki pengusaha bioskop independen dan kelas kakap seperti 21 Cineplex, CGV, atau Cinemaxx.   Menurut Djonny salah satu cara memperbanyak bioskop ialah mendukung  keberadaan bioskop independen.

“Di antaranya  pemerintah harusnya aktif membantu pembuatan layar lebar di daerah dengan menyokong modal pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bioskop,pungkas dia (van).

 

Share This:

Next Post

Tarif MRT Jakarta Per 1 April 2019

Sen Apr 1 , 2019
JAKARTA—-Mulai 1 April 2019, Transportasi Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta tidak lagi gratis, seperti masa uji coba sejak diresmikan pada 24 Maret hingga 31 Maret 2019.  Surat Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta Nomor 178/-1.118. 3 tertanggal 25 Februari 2019. tarif termurah MRT sebesar Rp3.000, misalnya mereka yang naik […]