Jual Fashion ke Luar Negeri, Sambil Promosi Budaya

Talkshow “Promosi Budaya Melalui Fashion” dalam Jakarta Fashion Week 2019, tanggal 25/10/2018-Foto: Irvan Sjafari.

JAKARTA—-Produk fashion Indonesia mempunyai potensi besar untuk masuk ke pasar global. Keanekaragaman budaya  merupakan salah satu kekuatan yang harus dimanfaatkan.

Untuk itu desainer Indonesia dituntut untuk konsisten pada otentik dan jangan meniru karya orang lain. Selain itu bukan saatnya lagi hanya sekadar tradisional, tetapi juga melakukan inovasi.

Demikian antara lain dikatakan Dewi Abdi, pengurus dan Kurator Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DKI Jakarta dalam talkshow bertajuk “Promosi Budaya Melalui Fashion” dalam ajang Jakarta Fashion Week 2019” di Senayan City, Kamis (25/10/2018).

“Misalnya saya berminat pada batik. Saya ambil tokoh Srikandi, tetapi motif Srikandi tidak hanya ada di baju, tetapi juga gelang, bros, sehingga menarik minat buyer dari luar negeri.  Jadi selain seni budaya kita lestarikan, pasar juga kita perhatikan, “ ujar mantan staf pengajaran Jurusan Sastra Prancis Fakultas Ilmu Budaya UI ini.

Ketika mendapatkan kesempatan ikut pameran di luar negeri karena diajak Kementerian Perdagangan atau Kementerian Koperasi dan UMKM, para pelaku fashion harus menyadari bahwa dia desainer, bukan trader.
“Jangan sampai mengumpulkan barang orang lain, agar tampak banyak,  sehingga ketika mendapatkan kesempatan tidak mampu.  Pelaku fashion harus mengingat bahwa ia juga membawa nama pemerintah kalau ke luar negeri,” kata Dewi menegaskan.

Hal senada juga dibenarkan kurator Dekranasda DKI lainnya Chossy Latu. Hanya saja Desainer kondang ini juga menyatakan, dalam mempromoikan produk fashion berbasis budaya harus dibedakan antara fashion untuk internasional, hingga fashion untuk suvenir.

Chossy mencontohkan Spanyol karena syal-nya yang khas, namun itu untuk suvenir, bukan untuk dipasarkan fashion internasional.  Sekalipun dibeli turis.  Songket dan batik Indonesia juga sudah mendunia, namun kalau sekadar fashion hanya untuk suvenir.

“Kalau songket bisa dipotong-potong dan dibentuk jaket, maka itu bisa menjadi fashion internasional,” cetus Chossy.

Sebagai kurator, Chossy menyebutkn akan memperhatikan daya tarik produk yang ditawarkan desainer fashion tradisional dan juga kualitasnya. “Kualitas di sini seperti bagaimana teknik menjahit hingga pemilihan bahan.

“Sekali juga cita rasa agar tidak jadi fashion suvenir, tetapi bisa jadi fashion dunia,” tutupnya.

Selain dari Dekranasda DKI Jakarta, talkshow juga menghadirkan pembicara dari pelaku dunia usaha (Irvan Sjafari).

 

Share This:

You may also like...