Joko Anwar Hadirkan Gundala, Jagoan Indonesia

Konferensi pers Gundla-Foto: Irvan Sjafari.

JAKARTA—-Bagi mereka yang mengalami masa kanak-kanak dan remaja era 1970-an hingga 1980-an mengenal komik superhero Indonesia bernama Gundala. Sutradara Joko Anwar menawarkan Gundala versi masa kini, namun bukan superhero tetapi jagoan Indonesia.

Gundala diangkat dari komik yang diciptakan Hasmi dan dirilis pada 1969. Nama aslinya Sancaka, seorang insinyur yang berhasrat mencari serum anti petir, namun tersambar petir dan mendapatkan kekuatan.

 “Kalau dalam film Gundala yang baru ini, Sancaka, tokoh utamanya digambarkan di satu sisi sebagai seorang yang rapuh, tetapi di sisi lain dia seorang yang kuat, mempunyai kepedulian pada masyarakat,Gundala adalah patriot” ungkap Joko dalam konferensi pers di Jakarta (28/5).

Gundala versi baru ini dikerjakan toal sekitar dua tahun. Penulisan scenario sampai empat bulan.  Karakter yang dimiliki Gunala tetap menggunaan catatan yang dibuat Hasmi, tetapi sensibilitas Gundala harus pas dengan masyarakat zaman sekarang, mmebumi dan berdasarkan realita.

Joko juga menjanjikan tokoh antagonis seperti Pengkor tidak digambarkan hitam putih.

Gundala dalam poster yang dirilis konstum Gundala bukan serba hitam seperti gambaran masa lalu, tetapi berwarna coklat keemasan.  Pria kelahiran Medan 3 Januari 1976 ini  memesan langsung kostum Gundala dari Los Angeles, Amerika Serikat.

Gundala digarap serius 53 hari dan melibatkan 1.800 pemain dengan syuting di 70 lokasi, Jakarta, Cilegon dan Purwakarta. Pengambilan lokasi berbeda menawarkan nuanasa petualangan.  

Abimana Arasatya memerankan Gundala, sementara Taro Basro akan memerankan tokoh bernama Wulan, kalau dalam komiknya menjadi Merpati Putih, seorang pahlawan super juga. 

Sementara tokoh Pengkor diperanan oleh Bront Palaroe. Film ini juga melibatkan Cecep Arif Rahman, actor yang baru saja berperan dalam John Wick 3. Cecep bertindak sebagai koreografer dan juga menjadi salah satu tokoh antagonis.

Lagu lawas The End of The World menjadi soundtrack film ini dibawakan oleh Stan Ishak. Menurut Joko ia menjadikan lagu yang dipopulerkan awalnya oleh Skeeter Davis ini untuk menggambarkan suasana cerita, ketika Sancaka belum menjadi jagoan. Lagu itu menggambarkan harapan bagi negeri ini (van).

Share This:

You may also like...