Jelang RAT XXIV KOKARGA Konsisten dalam Pelayanan

Sejatinya koperasi itu adalah badan usaha demokratis, didirikan atas kehendak bersama dan dimiliki  pula secara bersama. Pengurus dan Pengawas adalah orang yang diberi amanah untuk mengelola usaha, dan anggota  berpartisipasi aktif dengan selalu bertransaksi dan mengawasi jalannya roda usaha.  Pakem utama perkoperasian itu berlaku universal  dengan credo ‘one man one vote’ yang diletakkan secara terhormat dalam  Anggaran Dasar  setiap koperasi; bahkan di negeri kita prinsip satu orang satu suara itu dijamin dalam undang-undang (UU No 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian).

Kokarga Jelang RAT

Fungsi pengawasan  di perkoperasian bukan sekadar embel-embel yang hanya memenuhi struktur organisasi, semakin kuat fungsi pengawasan semakin baik kinerja usaha koperasi. Lantaran itu di Koperasi Karyawan Garuda (Kokarga) pengawasan dilakukan secara berlapis dimana pengurus diminta melaporkan aktivitas usaha setiap bulan, selanjutnya pengawas bersama pengurus juga melaporkan  hasil usahanya  setiap tiga bulan kepada anggota.  Bagi koperasi dengan jumlah anggota yang relatif besar, laporan pengurus dan pengawas biasanya diserahkan kepada sistem perwakilan  anggota.  Di KOKARGA badan berwakilan ini disebut Komisariat yang terdiri dari 112 anggota. Badan ini   harus memenuhi kewajiban dan melaporkan hasil temuannya kepada anggota dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) seperti yang dilaksanakan pada RAT KOKARGA ke XXIV 2015.

Dengan prinsip-prinsip berkoperasi, manajemen koperasi sesunguhnya lebih  terbuka dan “transparant” dari perusahaan yang sudah terbuka (Tbk) sekalipun, karena  menjadi sorotan anggota  pemegang hak suara dan sekaligus pemilik koperasi.

Sebagai koperasi yang berada di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam hal ini PT Garuda Indonesia,  fungsi dan sekaligus misi KOKARGA adalah mitra perusahaan dalam memberikan kesejahteraan  bagi karyawan dan  masyarakat sekitar  (corporate social responsibility-CSR).   Perusahaan dapat  membagi  bebannya ke koperasi dalam menyejahterakan karyawan, seperti  kebutuhan perumahan, transportasi, pendidikan, kesehatan maupun pengadaaan barang perusahaan.

Dengan visi  sebagai koperasi yang terbaik di lingkungan koperasi-koperasi BUMN, kehadiran KOKARGA selama ini terbukti telah ikut membantu perusahaan dalam memenuhi berbagai kebutuhan karyawan.  Sepanjang dua dasawarsa  berkiprah memang tidak mudah bagi KOKARGA untuk mencapai prestasinya seperti saat ini. Kuncinya adalah konsistensi yang oleh pengurus koperasi ini ditempatkan sebagai kunci untuk memenuhi pelayanan yang prima, tulus dan ikhlas untuk segenap anggota. “ Mengurus koperasi itu gak mudah  karena yang kita kelola uangnya orang banyak, kalau tidak amanah pasti bubar bahkan bisa masuk penjara. Itu yang saya tekankann kepada teman Pengurus agar konsisten dalam pelayanan,” kata Ketua KOKARGA Sopyan Iskandar kepada Majalah PELUANG beberapa waktu lalu di kantornya.  Lantaran sikap  konsisten itu KOKARGA melewati tahun 2014 dengan kinerja usaha yang cukup bagus dengan perolehan  SHU sebesar  Rp 4,7 miliar atau naik 32% dibanding tahun lalu. Dengan sukses yang sudah dicapai melalui kerja keras, transparansi dan demokratisasi anggota itu, KOKARGA agaknya bisa menjadi contoh bagi pengelolaan koperasi  yang baik di lingkungan BUMN, apalagi sukses yang diraih tidak sekadar wacana tetapi juga berhasil mendulang usaha dengan aset saat ini mencapai Rp 150 miliar.  KOKARGA memang berharap dapat menjadi   menjadi pionir dan inspirator gerakan manajemen bersih yang bebas dari unsur korupsi, sehingga keberadaannya  bisa sekaligus alat kontrol bagi manajemen di lingkungan perusahaan milik negara.

Masalahnya, tentu berpulang kepada goodwill  dan kapasitas pimpinan perusahaan di BUMN dalam memahami perkoperasian. Bahwa sejatinya koperasi lah yang terdepan dan dapat menjadi mitra yang andal dalam mencapai visi dan misi perusahaan.  Tentu saja  koperasi dimaksud harus  dikelola profesional  dan  aktif mendukung setiap kegiatan perusahaan induknya baik dalam kegiatan CSR, pelatihan SDM maupun ikut serta mengawasi berbagai tender pengadaan barang dan jasa perusahaan dalam upaya meningkatkan citra dan efisiensi perusahaan.  Mengapa  masih setengah hati melibatkan koperasi ?

Sinergi  Sekunder Koperasi 

Belakangan ini muncul gagasan untuk menyinergikan sejumlah koperasi di lingkungan Garuda Indonesia Group dengan membentuk sekunder koperasi.  Dengan tujuh elemen koperasi yang ada, maka  setidaknya bakal lahir sebuah sekunder koperasi, katakanlah namanya  PUSAT KOPERASI GARUDA INDONESIA GROUP yang ditaksir mampu menghimpun aset sebesar Rp 500 miliar dengan anggota aktif 15 ribu orang.   Ide ini menarik meski bukan sesuatu yang baru. Karena pada 2011, KOKARGA pernah melontarkan gagasan penyatuan elemen koperasi tersebut namun belum ditanggapi secara serius. Boleh jadi  ada asumsi bahwa sinergi tersebut akan mengeleminasi keberadaan koperasi primer yang ada.  Sebaliknya, Sekuner Koperasi yang akan dibentuk ini justru dapat menjadi alat kepentingan anggota (karyawan) dan sekaligus  bargaining posisition yang kuat baik ke dalam  (perusahaan) maupun  tindakan keluar ( mitra bisnis dan masyarakat). Jika gagasan  empat tahun lalu itu kini kembali mengemuka itulah pertanda bahwa koperasi sebagai countervailing power atau alat penyeimbang agar anggota tidak diperlakukan sewenang-wenang oleh siapapun sudah semakin disadari.

Share This:

You may also like...