Jangankan 5%, Tumbuh di Atas 3% Saja Sulit

TARGET pemulihan ekonomi pemerintah tahun 2021 sebesar 5% tampaknya terlalu optimistis. Akan sulit dicapai. Terlebih mengingat, dalam asumsi makro ekonomi 2020, pemerintah telah empat kali melakukan revisi pertumbuhan ekonomi. “Ketidakpastian pemerintah itu berimplikasi pada dunia usaha. Masalahnya terkait dengan kredibilitas proyeksi tersebut,” kata Tauhid Ahmad, Ekonom Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef)  dalam diskusi online (23/12).

Hingga November 2020, beberapa indikator ekonomi masih menunjukkan tekanan yang berat akibat pandemi. Di antaranya inflasi pada November 2020 tercatat 1,59 yoy.  “Angka inflasi ini masih jauh dari target 3% yang ditetapkan pemerintah dalam Perpres 72/2020 APBN. Ini disebabkan oleh daya beli masyarakat uang belum membaik, masih rendah,” tuturnya.

Maka, tahun 2021 akan menjadi tahun yang krusial bagi Indonesia jika tidak ada kepastian baik soal distribusi, tata kelola maupun pemilihan vaksinasi. Dengan gambaran seperti itu, Tauhid memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan sulit mencapai angka 3 persen. Banyak faktor kata Tauhid yang menyebabkan pertumbuhannya hanya 3 persen, salah satunya adalah konsumsi kelas menengah atas yang hingga kini masih cukup rendah.

Selama pandemi Covid-19, katanya, jumlah tabungan masyarakat kelas menengah ke atas di perbankan tumbuh pesat sedangkan jumlah kredit turun, ini mengindikasikan bahwa belanja kelompok menengah atas masih jauh dari harapan. Menurut Tauhid, pertumbuhan kredit tahun 2021 hanya akan berkisar 5 sampai 6 persen, dimana sebelum adanya pandemi pertumbuhan kredit selalu dobel digit.

Sebelumnya, BI mengumumkan pertumbuhan kredit bank hanya 0,12 persen secara bulanan pada September 2020. Sebaliknya, laju Dana Pihak Ketiga (DPK) melejit ke 12,88 persen pada bulan yang sama. BI mencatat pertumbuhan kredit bank terus melambat dari bulan ke bulan. September kemarin merupakan titik terendah laju kredit bank tahun ini. Sebelumnya, pertumbuhan kredit berada di kisaran 1,04 persen pada Agustus 2020. “Wajar juga BI menurunkan suku bunga acuan 25 BPS menjadi 3,75 persen, ini untuk mengantisipasi penurunan laju kredit perbankan,” ucapnya. Sehingga, faktor-faktor tersebut cukup menghantui pergerakan ekonomi tahun 2021, yang pertumbuhannya ditaksir hanya bisa mencapai 3 persen. “Kami melihat di tahun 2021 ini laju kredit masih turut menghantui pertumbuhan ekonomi yang belum normal,” tuturnya.●(Nay)

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *