Jangan Setengah hati mengurus koperasi

Memaksimalkan fungsi pondok pesantren (ponpes) sebagai pusat pendidikan agama dan sekaligus pengembangan ekonomi umat, itulah awal kelahiran BMT Assyafi’iyah Kota Gajah Lampung Tengah. Salah seorang penggagas lembaga keuangan bernafaskan Islam ini, adalah Rohmat Susanto, pegawai negeri di sebuah puskemas dan aktivitis Muhammadiyah Kota gajah Lampung Tengah. Kehadiran Koperasi JAsa Keuangan Syariah (BMT) ini merupakan bagian dari upaya menghidupkan kembali aktivitas ponpes nasional Assyafi’iyah yang kala itu tengah mengalami kemunduran. Namun dalam perjalanannya BMT yang berdiri pada 1995 ini justru lebih eksis dengan kinerja usaha yang mencorong. Sebagai penggagas awal, Rohmat memang sudah meletakan pondasi manajemen yang professional agar BMT yang didirikan tidak sekadar latah atau ikut-ikutan.”Lembaga keuangan mikro, terutama KSP waktu itu tumbuh subur di sini, saya tak ingin BMT ini beroperasi asal jalan, makanya saya minta harus ada pengelola profesional,” kenang putra jawa kelahiran Lampung Tengah 9 Juni 1966 ini. Kendati di awal pendiriannya Rohmat tidak terlibat langsung di kepengurusan namun tokoh muda yang banyak aktif di bidang kesehatan dan organisasi keagamaan ini tak berhenti mengawasi perjalanan BMT Assyafi’iyah. Menurutnya usaha ini hanya bisa eksis kalau dikelola sepenuh hati. “Jangan setengah-setengah bekerja di koperasi, apalagi hanya sekadar batu loncatan untuk pindah bekerja ke tempat lain. Kalau ini yang terjadi maka koperasi ya akan tetap menjadi penerima bansos saja,” tegas sarjana Kesehatan Fakultas Kesehatan Umum jebolan Universitas Indonesia 2001 ini. Karenanya ketika dipilih sebagai sekretaris BMT selama 2002-2009, concern pertama Rohmat adalah menetapkan upah para karyawan dengan standar di atas rata-rata. “saya mau mereka loyal dan tidak kalah gajinya jika dibanding bekerja di kantor pemerintah atau swasta lainnya,” ucapnya.

Cara seperti itu agaknya terbukti ampuh, secara perlahan tapi pasti kinerja BMT Assyafi’iyah yang semula nyaris tak terdengar kiprahnya, kini menyodok posisi BMT terbaik di Provinsi Lampung. Dalam jajaran 70 BMT terbaik yang dirilis Inkopsyah, Assyafi’iyah menduduki ranking empat, di bawah UGT Sidogiri, BUS lasem dan Maslahah Sidogiri, BMT yang memang lebih awal eksis. Bagi kebanyakan pelaku koperasi, nama Rohmat boleh jadi awam, lantaran konsentrasinya yang sangat serius untuk mengembangkan BMT di Lampung Tengah. Sarjana yang juga meraih S2 FKU Universitas Gajah Mada Yogyakarta 2008 ini sangat terobsesi untuk menempatkan BMT sebagai lembaga keuangan bergengsi umat Islam dan sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat. Kerja keras itu memang berbuah manis, KJKS berbadan hukum NO. 28/BH/KDK.7.2/III/1999 ini tumbuh signifikan dengan merambah 26 cabang di seantero Lampung dengan karyawan sebanyak 211 orang.

Total asetnya per tahun buku 2013 mencapai Rp 103,121 miliar atau naik 76% dibanding 2012 sebesar Rp 63,413 miliar. Dana sendiri sebesar Rp 11.003 miliar dan dana pihak ketiga Rp 32,683 miliar.

Besarnya kepercayaan anggota terlihat dari jumlah simpanan yang tercatat sebanyak Rp 59,002 miliar dengan pendapatan mencapai Rp 20,449 miliar. Sedangkan jumlah dana yang beredar mencapai Rp 105,684 miliar dengan anggota dilayani mencapai 10.105 orang.

Keberhasilan sebuah lembaga keuangan yang melayani masyarakat, pungkas Rohmat tidak melulu diukur dari besarnya infrastruktur maupun jumlah pinjaman yang disalurkan, melainkan apakah lembaga tersebut amanah dan bermanfaat bagi masyarakat.

Share This: