Jafar Abdul Gaffar Mengangkat ekonomi buruh pelabuhan

Dengan deretan prestasi yang dimiliki, tak heran bila pada acara puncak peringatan Harkopnas ke-68 di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jafar Abdul Gaffar meraih penghargaan Satya Lencana Pembangunan bidang koperasi dari Pemerintah RI.

Dari kota tepian sungai Mahakam, Samarinda, citra perkoperasian nasional terukir lewat kepiawaian Jafar Abdul Gaffar yang sukses membawa koperasi pekerja bongkar muat pelabuhan ke pentas nasional. Jika nama besar koperasi tingkat nasional selama ini didominasi oleh deretan koperasi di belantara pulau Jawa, maka Jafar mampu membuktikan koperasi berbasis tenaga buruhpun mampu eksis. Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat Samudera Sejahtera atau Komura yang dipimpin Jafar tak hanya mampu membanggakan anggotanya, tetapi juga menambah deretan koperasi berpretasi tingkat nasional dari Provinsi Kalimantan Timur.

“Terima kasih kepada anggota dan para pengurus yang telah bersama-sama menjaga dan membangun Komura menjadi koperasi berprestasi. Tanpa partisipasi mereka tak mungkin Komura mampu meraih penghargaan sebagai koperasi berpretasi tiga kali berturut-turut dari Kementerian koperasi dan UKM,” ujar Jafar di sela penghargaan Satya Lencana Pembangunan yang diterimanya dalam Hari Koperasi 68 di Kupang, Juli lalu. Penghargaan Koperasi Berprestasi diraih Komura pertama kali pada Harkop 2007 di Bali, dan kali kedua pada Harkop 2010 di Medan, Sumatera Utara.

jaffar

Perjalanan Komura yang berdiri pada 1985, kata Jafar, tidaklah mudah. Banyak pihak kala itu yang pesimis bahwa koperasi kaum buruh pelabuhan ini tak berumur panjang, lantaran perlakuan dan perhatian yang masih minim terhadap usaha berbadan hukum koperasi. Namun, dengan gigih para pengurus koperasi ini tetap bertahan dan konsisten melakukan pelayanan terhadap anggota. Hasilnya, Komura mampu tampil sebagai icon koperasi kota Samarinda dengan aset mencapai Rp 400 miliar. “Omset Komura saat ini sudah lebih dari Rp 1 miliar per bulan, namun bukan besaran omset yang jadi concern kami melainkan berapa banyak anggota bisa terlayani,” tutur Jafar.

Sejalan dengan perkembangan usaha, kiprah Komura tak hanya usaha bongkar muat, koperasi ini pun merambah ke segala bidang usaha. Diantaranya, taksi di Kota Samarinda, perkapalan, mengelola pasar tradisional, penyewaan gedung, dan usaha simpan pinjam bermitra dengan Bank Bukopin. “Kita memiliki anggota sebanyak 1.500 kepala keluarga”, ungkap Abdul Gaffar.

Dalam mengembangkan usaha bongkar muat pelabuhan, Komura membagi aktivitasnya dalam beberapa unit seperti bongkar muat batubara, curah kering/semen dan lainnya , curah cair/aspal dan lainnya, general cargo, peti kemas, kayu olahan dan lainnya. Sistem pekerjaan dalam bentuk borongan, tetapi tunjangan tetap diberikan seperti tunjangan kesehatan dan tunjangan kecelakaan. Bagi TKBM diberikan tunjangan kesehatan sebesar Rp850 ribu, istri Rp650 ribu, dan anak Rp500 ribu perbulannya.

Seluruh anggota Komura merupakan anggota TKBM dan untuk penghasilan peranggota dalam setiap bulannya dapat mencapai dari Rp 3 juta hingga Rp 4 juta, di luar tunjangan kesehatan yang diberikan manajemen Komura. “Begitu pula tunjangan kecelakaan diberikan kepada TKBM pada saat mengalami kecelakan hingga sembuh. Asuransi kecelakaan Komura dikelola sendiri,”terang Abdul Gaffar

Berdasarkan data dari Disperindagkop dan UMKM, jumlah koperasi di Kaltim pada 2013 sekitar 5.919 unit, dengan jumlah anggota sekitar 390.360 orang dan SHU (sisa hasil usaha) sebesar Rp590,499 miliar. Setiap tahunnya juga dilakukan pemeringkatan terhadap ratusan koperasi di Kaltim yang dikategorikan menjadi koperasi sangat berkualitas, berkualitas dan cukup berkualitas. “Kita akan terus berusaha menjadikan koperasi bersama anggotanya sebagai pelaku ekonomi utama di republik ini,” kata Abdul Gaffar seraya menambahkan salah satu sukses Komura adalah trasnparansi dalam manajemen, apalagi Komura memiliki anggota tenaga kerja bongkar muat pelabuhan yang secara kualitas intelektual hanya mengerti “dua ditambah dua” saja.

Oleh karena itu, kata bakal calon Walikota Samarinda ini, pihaknya tidak berhenti melakukan pembinaan serta memberikan pemahaman kepada anggota akan pentingnya koperasi untuk kesejahteraan anggota dan keluarganya. “Dalam setahun, kita melakukan dua kali pembagian sisa hasil usaha atau SHU. Lebih dari itu, sejak kelahiran dan kiprah Komura, Kota Samarinda telah menjadi barometer perkembangan koperasi di Indonesia”, tukas Abdul Gaffar.

jaffar 2

Menuju Samarinda-1

 

Sementara itu, terkait niatnya untuk maju dalam pemilihan Walikota Samarinda, Abdul Gaffar hanya berujar ringan, “Peluang menuju ke arah itu ada. Kebetulan saya merupakan kader Partai Golkar dan terpilih sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD II Partai Golkar Kota Samarinda”. Abdul Gaffar mengakui bahwa lumbung suaranya bakal berasal dari seluruh anggota koperasi Komura dan elemen-elemen masyarakat lain yang mengenal dirinya dengan baik. “Saya yakin dengan loyalitas mereka dalam mendukung saya untuk maju dalam Pilkada pada Desember mendatang”, tegas dia.

Hanya saja, putusan MK yang menyebutkan bahwa bila anggota dewan maju dalam Pilkada harus mengundurkan diri, membuat langkah Abdul Gaffar sedikit tertahan. “Dengan putusan MK itu, saya harus mempertimbangkan lagi dan sampai sekarang saya belum berani memutuskan,” pungkas dia.

Share This:

You may also like...