Iwan Setiawan Ketua Pengawas KSP-SB, Mengejar Target 1 Juta Anggota

Ambisi besar sedang dibidik KSP-SB dalam menambah jumlah anggota. Strategi yang dijalankan adalah dengan memperluas jaringan kantor layanan yang didukung IT dan restrukturisasi usaha koperasi.

Ekonomi makro Indonesia selama tahun 2014, tumbuh melambat dibanding tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan kondisi global yang masih diliputi ketidakpastian dan dinamika di lingkup domestik. Koperasi sebagai salah satu lembaga ekonomi tentu tidak dapat lepas dari kondisi makro tersebut.

Iwan Setiawan, Ketua Pengawas Koperasi Simpan Pinjam Sejahtera Bersama (KSP-SB) mengatakan, 2014 merupakan tahun yang sulit. Namun, KSP-SB berhasil melaluinya dengan baik. “Pengawas bangga dengan kerja keras pengurus dan karyawan yang dapat bertahan dan tumbuh di masa yang sulit pada tahun lalu,” ucapnya.

Dari sisi jaringan pelayanan, KSP-SB berhasil memperluas kantor simpanan dan pinjaman di beberapa daerah. Kini ada 33 kantor cabang yang tersebar di kabupaten/kota di 6 provinsi. Ini menandakan koperasi dapat tumbuh secara organik dan tetap dipercaya oleh masyarakat.

Perluasan jaringan kantor ini diikuti pula bertambahnya jumlah anggota menjadi 71.789 orang. Jumlah itu tumbuh 33 persen dibanding tahun sebelumnya sebanyak 54.044 orang. Penambahan jumlah anggota ini membuktikan masyarakat menaruh apresiasi terhadap koperasi.

Secara administrasi pembukuan, KSP-SB pun telah mematuhi ketentuan sesuai dengan regulasi dari pemerintah. Oleh karena itu, dapat dipastikan pembukuan koperasi sesuai dengan aturan yang berlaku.

Selain berada dalam situasi ekonomi yang penuh tantangan, perubahan regulasi paska diianulirnya UU Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian pun berpengaruh terhadap perjalanan usaha koperasi. Sehingga KSP-SB perlu mentransformasikan usahanya agar sesuai kembali dengan UU No 25 Tahun 1992.

 

 

Target 1 Juta Anggota

Tidak tanggung-tanggung, dalam RAT Tahun Buku 2014 ini ditargetkan jumlah anggota akan mencapai 1 juta orang pada tahun 2015. Tentu bukan tanpa perhitungan target itu dicanangkan.

Dengan dukungan informasi teknologi (IT) yang sudah dimiliki KSP-SB seperti KSB Online dan KSB Tunai, target 1 juta anggota, kata Iwan, cukup realistis. Penambahan jumlah anggota ini juga sesuai dengan semangat pemerintah yang berharap agar lembaga keuangan dan koperasi dapat memperluas layanannya ke seluruh lapisan masyarakat (financial inclusion).

Dalam banyak studi, masyarakat yang memiliki akses ke layanan lembaga ekonomi seperti koperasi akan meningkat kesejahteraannya. Sebab, selain mendapatkan pinjaman yang dapat meningkatkan kapasitas usahanya, mereka pun dapat menyisihkan sebagian hasil usahanya dengan menabung.

Iwan menambahkan, untuk mencapai target 1 juta anggota pada tahun ini, pengurus perlu melakukan langkah-langkah strategis. Dari sisi produk tabungan, diperlukan diversifikasi dengan tidak hanya mengandalkan Simpanan Berjangka Sejahtera Prima. “Jumlah anggota penyimpan perlu diperbanyak,” tutur Iwan.

Untuk itu, Pengurus perlu mempromosikan produk-produk yang bersifat massal seperti Tabungan Pendidikan dan Tabungan Rencana Sejahtera. Tujuannya agar masyarakat berpenghasilan rendah dapat menjadi anggota penyimpan di koperasi.

Dilihat dari struktur sumber daya yang ada, ada dua jalur yang bisa dioptimalkan dalam mengejar target 1 juta anggota yaitu online dan off line. Promosi dan pemasaran untuk menjaring anggota dapat dilakukan secara online dengan mengoptimalkan potensi media sosial. Beragam komunitas di dunia siber dapat menjadi target pasar baru bagi koperasi.

Selain itu, tentu saja jalur offline dengan mitra kerja sama pemasaran yang selama ini telah berjalan perlu dirawat atau melalui anggota sendiri dengan program Member Get Member. Sebanyak 5.909 mitra pemasaran perlu lebih agresif dalam memperluas target anggota, baik penyimpan maupun peminjam.

Dilihat dari trennya, jumlah mitra kerja sama ini selalu meningkat setiap tahun. Hal ini menggambarkan, minat masyarakat untuk bergabung dengan KSP-SB cukup tinggi. Sistem insentif yang menarik dan suasana kerja yang nyaman menjadi kuncinya.

Iwan juga menekankan perlunya percepatan dalam pembukaan kantor-kantor pelayanan pinjaman. Sehingga target perbandingan antara pinjaman dan simpanan atau LDR mencapai 80% di daerah bisa segera terwujud. Dengan begitu, likuiditas di daerah bisa terjaga dengan baik.

Iwan menambahkan, sesuai dengan jati dirinya, orientasi koperasi bukanlah hanya mengejar keuntungan finansial semata. Tetapi yang lebih mendasar sesuai dengan semangat para pendirinya adalah meningkatkan kesejahteraan anggota. “Kesejahteraan anggota menjadi tujuan utama berkoperasi,” ujarnya.

Untuk itu, meskipun SHU pada tahun 2014 menurun dibanding 2013, ia tidak terlalu merisaukannya. Tercatat SHU sebesar Rp 75.615.850 atau turun 49,63 persen dibanding tahun 2013 sebesar Rp 150.117.961.

Meski SHU menurun, namun indikator keuangan yang lain menunjukkan peningkatan. Aset naik menjadi sebesar Rp 1,6 triliun atau tumbuh 46,54 persen dibanding tahun sebelumnya Rp 1,09 triliun. Pendapatan sebesar Rp 652, 21 juta atau naik hampir 14 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 573,19 miliar.

 

hal pak iwan

Jalankan Rekomendasi

Sebagai badan usaha legal, KSP-SB selama ini selalu mentaati peraturan yang berlaku. Begitu pula dalam merespons rekomendasi dari Deputi Bidang Kelembagaan Koperasi Kementerian Koperasi RI.

“KSP-SB diminta fokus pada usaha simpan pinjam dan menjual anak-anak usahanya paling lambat 31 Desember 2016,” ucap Iwan.

KSP-SB telah melakukan divestasi untuk PT. Sejahtera Bersama Energi (SBE). Saat ini sudah ada 3 perusahaan yang mengajukan penawaran untuk membeli seluruh saham KSP-SB pada PT. SBE yang dapat diselesaikan pada bulan April 2015.

Selain itu, sejak melakukan transformasi dari KSU menjadi KSP maka seluruh dana yang terhimpun telah disalurkan kembali dalam bentuk pinjaman dan tidak disalurkan lagi kepada anak perusahaan.

Menurut Iwan, pihaknya telah melakukan transformasi Unit Usaha perdagangan SB Mart menjadi PT. Sejahtera Bersama Ritel Indonesia. Selain itu juga telah membangun Sistem ICT SB Mart yang dinamakan Smart ERP dan Smart POS yang dapat menghemat tenaga kerja di distribusi center hingga 60 persen dari yang ada sekarang.

“Dengan sistem itu usaha ritel kami menjadi lebih efisien dan berdaya saing,” ujarnya.

Untuk mengembangkan usaha ritelnya, PT. SBRI telah menjalin kerja sama dengan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dalam label Warung Rajawali. Selain itu sedang menyusun kerja sama dengan Bulog Mart.

Sedangkan untuk divestasi PT. Cipta Ekatama Nusantara (CEN) hanya menunggu sampai tanah dan rumah terjual semua. Dengan cara mengundang beberapa developer untuk kerja sama memasarkan baik perumahan Samudera Residen maupun Cendana Regency Sawangan.

Dengan demikian, seluruh rekomendasi dari Kementerian Koperasi dan UKM telah dan sedang dilaksanakan oleh KSP-SB. Iwan berharap, dengan restrukturisasi usaha, KSP-SB menjadi lebih fokus dan dapat mencapai target yang ditetapkan. “Penambahan jumlah 1 juta anggota semoga dapat terealisasi,” pungkasnya.

Share This:

Next Post

Tetap Tumbuh di Masa Sulit

Sel Apr 7 , 2015
Bertambahnya jumlah anggota dan aset koperasi, membuktikan KSP-SB mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi. Kepercayaan dari masyarakat pun terjaga karena tata kelola koperasi yang baik. Tahun 2014 telah berlalu dengan segala dinamika yang terjadi. KSP Sejahtera Bersama (KSP-SB) mampu melewati tahun yang penuh tantangan tersebut dengan pencapaian yang positif. Meski […]