Ismi Rinjani, Peracik Jamu Milenial “Temukini”

Ismi Rinjani (tengah) dalam sebuah kegiatan mengenalkan jamu-Foto: Dokumentasi Pribadi.

YOGYAKARTA—-Nama dara itu Ismi Rinjani Adriani, asli  Sumedang.  Di kampung halamannya perempuan kelahiran  1 Februari 1992 adalah penggerak literasi.  Namun sejak berapa tahun terakhir ini,  Ismi ingin meramu  dan meracik jamu. 

Untuk itu relawan mewakili Asia dari Social Innovation Program di San Fransisco pada 2017 berguru pada warga di Imogiri,  Bantul, Yogyakarta.  Hasil belajarnya membuat alumni SMA Negeri 1 Sumedang ini mampu meracik berbagai jenis  jamu  seperti beras kencur, temulawak dan kunir asem.

a“Pada April 2018, ketika ada open-tenant di Pasar Tiban Nitiprayan, Yogyakarta saya mmebuka lapak menawarkan jamu racikan saya. Ternyata banyak teman-teman yang suka.  Akhirnya banyak yang pesan,” ujar Ismi ketika dihubungi Peluang, Selasa (23/7/19).

Target pasarnya awalnya teman-temannya sendiri, yang umumnya masih masuk generasi milenial. Agar disukai, ramuannya dibuat lebih ringan dan segar dibanding jamu yang biasa dijual di pasaran. Plus banyak interaksi dan promosi manfaat dan kegunaan di media sosial dengan cara kekinian, akhirnya mereka tertarik untuk mencoba dan bahkan jadi langganan.

“Beberapa pelanggan datang sambil bawa botolnya sendiri seperti penjual susu murni zaman dulu. Yang bawa botol sendiri dapat diskon 10 %. Home base saya  di Jalan Kaliurang Km. 7, Yogyakarta. Rata-rata setiap bulan saya bisa menjual 20-30 liter. Paling laku Kunir Asem dan Beras Kencur,” ungkap gadis penggemar travelling ini.

Ismi memberi nama jamu racikannya dengan Temukini untuk brand-nya.  “Temu”-nya terinspirasi dari nama rimpang/temu-temuan yang digunakan sebagai bahan utama. “Kini”-nya representasi dari kekinian.

Apakah tidak ingin didaftarkan di Haki di Kementerian Hukum dan HAM? “Hahaha. Maunya begitu, tapi masih perlu banyak pembenahan sana-sini sebelum didaftarkan.  Resepnya hasil uji coba dan eksperimen sendiri,” cetus Ismi.

Ke depannya, Ismi  berencana mengeluarkan produk dengan kemasan yang handy atau bisa sekali minum, dan ingin punya produk rempah dan rimpang keringnya juga supaya bisa dinikmati pelanggan luar kota maupun luar negeri.

Sampai saat ini  penjualan masih terbatas di area Yogya dan sekitarnya.  Hal itu kata Ismi karena  jamunya tidak memakai pengawet, hanya tahan 24 jam di suhu ruang dan 10 hari di kulkas. Promosi dan penjualan biasanya dilakukan di Instagram.

Ismi Rinjani-Foto: Dokumentasi Pribadi.

“Sumber daya manusianya masih terbatas, jadi belum bisa terlalu sering terima pesanan besar,” tutupnya (Irvan Sjafari).

Share This:

You may also like...