IPB University Kembangkan Budi Daya Singkong dengan Teknologi

Ilustrasi-Foto: Istimewa.

BOGOR—IPB University melalui Lembaga Kawasan Sains dan Teknologi (LKST) mengembangkan teknologi budi daya singkong (cassava) yang disebut teknologi budi daya IPB Prima.

Teknologi ini membuat produksi singkong mencapai 40 ton per hektar dengan umur relatif singkat, yaitu enam bulan.

Pengembangan teknologi ini  mendapatkan Pendanaan Program Riset Inovatif-Produktif (Rispro) oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan mengenai pangan sehat berbasis singkong.

Penanaman singkong di kebun budi daya yang ditargetkan 10 hektar telah dimulai 4 April 2021  oleh seluruh tim peneliti dan disaksikan Wakil Rektor bidang Inovasi dan Bisnis/Kepala LKST, Prof Erika B Laconi bersama dengan petani dan tokoh masyarakat.   

Penanaman kebun budi daya 10 hektar ini merupakan rangkaian kegiatan tahap sebelumnya, yakni penananam bibit plasma nutfah singkong yang terdiri dari 27 varietas, dari rencana 50 varietas, yang dikumpulkan dari beberapa daerah di Indonesia.  

Ketua Tim Peneliti Rispro IPB University, Prof Dr Nunung Nuryartono mengatakan bahwa penanaman ini untuk memenuhi target tahun pertama kebun budi daya dan produksi.  Kebun budi daya ini kemudian akan diperluas menjadi 40 hektar pada tahun berikutnya.

“Penanaman bibit budi daya dilakukan secara bersama-sama dengan warga sekitar Jonggol yang terdiri dari 20 orang ibu-ibu tani, 22 orang bapak-bapak tani, tokoh masyarakat dan pejabat desa.  Sebanyak 22.000 stek bibit cassava varietas Mangu unggul lokal telah ditanam dengan jarak tanam 1 meter x 1 meter arah tanam utara-selatan,” ungkap Nunung dalam keterangan tertulisnya, Selasa (6/4/21).

Lanjutnya, pihak IPB  telah melakukan sosialisasi kepada warga masyarakat sekitar kebun Jonggol. Kami kenalkan seluruh peneliti Rispro IPB University kepada mereka. Kegiatan penelitian mengenai cassava ini akan berjalan selama tiga tahun dan akan melibatkan warga sekitar Jonggol.  

Erika B Laconi dalam sambutannya mengatakan bahwa singkong  akan diolah menjadi tepung atau beras analog dan warga masyarakat Jonggol akan diikutsertakan dalam pengolahan singkong.  

“Para petani dan masyarakat sangat mendukung kegiatan ini karena sebelumnya mereka kesulitan dalam menjual cassava. Dengan adanya kegiatan ini mereka berharap masalah pemasaran bisa teratasi. Pangan sehat berbasis singkong, pangan masa depan menuju swasembada pangan bangsa,” pungkasnya.

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *