Inovasi dari UMP, Satu Pohon Kelapa Berbuah Kopyor Semua

Ilustrasi-Foto: Sindonews.

PURWOKERTO––Inovasi dari  Sisundandar patut diacungkan jempol. Staf pengajar Program Studi Pendidikan Biologi di Universitas Muhammadyah Purwokerto (UMP) berhasil mengembangkan kultur jaringan kelapa kopyor dan menjadi satu-satunya riset kelapa kopyor di Indonesia, bahkan di dunia.

Metode kultur jaringan ini mampu menghasilkan tanaman yang dapat berbuah banyak dan seluruhnya kopyor. Temuan ini mempunyai nilai potensi ekonomi tinggi dan membuat bisnis buah kelapa yang terbilang langka  ini sangat menjanjikan.

“Kelapa kopyor  sudah ada di alam. Hanya di daerah tertentu yang bisa menghasilkan.  Kelapa kopyor  jumlahnya sangat sedikit antara 2-3 butir dari satu pohon kelapa yang memiliki bakat untuk menghasilkan kopyor,” ungkap Sisunandar saat panen perdana kelapa kopyor yang dihadiri Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemenristek, Muhammad Dimyati dan Rektor UMP beberapa waktu lalu.

Riset dan rekayasa budi daya kelapa kopyor ini dilakukan Sismundar menanam 148 pohon kelapa kopyor pada lahan seluas 1 hektare di Science Techno Park, Kompleks Kampus UMP.

Dari 148 pohon kelapa kopyor yang dikembangkan  terdiri dari 10 kultivar atau jenis, yakni  masing-masing 4 kultivar kelapa kopyor jenis Banyumas dan Pati, serta kultivar Sumenep dan Lampung masing-masing  satu.  Hanya terdapat empat kultivar kelapa kopyor di Indonesia,  yakni kultivar Banyumas, Pati Semenep dan Lampung. Sebab hanya di daerah tersebut yang bisa muncul kelapa kopyor. 

“Semua jenis kelapa kopyor tersebut kemudian dikembangkan dengan  sistem kultur jaringan, dan hasilnya 100 persen isi kelapa, kopyor,” tuturnya lagi.

Menurut Sisunandar pengembangan budidaya kelapa kopyor harus menggunakan kultur jaringan. Hal ini karena  kelapa kopyor tidak bisa dibenih. Hal itu lantaran sel seharusnya melekat pada dinding kelapa hancur dan terkelupas.

“Kelapa menjadi kopyor, itu  karena pengaruh  beberapa enzim yang membuat dinding sel tidak melekat pada dinding kelapa, sehingga tidak bisa dikembangbiakan,” jelas peraih gelar doktor dari Australia ini.

Untuk pembenihan diperlukan rekayasa di laboratorium dengan teknik kultur jaringan. Pembenihan dimulai dengan mengambil embrio kelapa lalu ditanam dalam tabung dengan medium tanam.

Selama proses setidaknya ada 30 bahan kimia yang digunakan kemudian setiap bulan pindah media tanam hingga usia 14 bulan.

Setelah tanaman berusia 2 tahun dengan tinggi 15 sentimeter, tanaman  dipindah ke  alam bebas, untuk lahan yang bagus, air cukup, kelapa kopyor bisa dipanen setelah 4 tahun.

“Jika pada pohon kelapa biasa hanya menghasilkan satu atau dua butir kopyor ,namun dengan pengembangan melalui kultur jaringan  maka satu pohon 100 persen kelapa kopyor. Usia produksi tanaman bisa mencapai 25-30 tahun,” pungkas Sisunandar.

Sebagai catatan nilai ekonomi kelapa kopyor sangat tinggi di pasar mencapai Rp30-35 ribu per butir, sedangkan kelapa biasanya hanya dihargai Rp5000 per butir.  Sedangkan bibit kelapa kopyor yang siap tanam laku sampai Rp4 juta (berbagai sumber).

Share This:

You may also like...