HPP Gabah dan Beras tetap Petani Kecewa

Jakarta: Akhir Pebruari panen sudah mulai di daerah-daerah penyangga pangan nasional. Bahkan Maret ini diprediksi terjadi panen raya. Bagi daerah yang panen lebih dulu masih menikmati harga bagus. Sebaliknya petani berada di zona panen raya bakal menerima harga gabah tak menggembirakan. Pasalnya Harga Pembelian Pemerintah (HPP) 2016 ini masih sama dengan tahun lalu.

HPP  gabah dan beras 2016 sama dengan 2015 yakni tetap mengacu pada Instruksi Presiden (Inpres) No 5/2015. Harga gabah kering panen (GKP) di penggilingan ditetapkan Rp3.750 ppanener kilogram. Harga gabah kering giling (GKG) di gudang Perum Bulog ditetapkan Rp4.600 per kilogram. Harga pembelian beras dalam negeri ditetapkan Rp7.300 per kilogram di gudang Perum Bulog.

Penetapan HPP ini dianggap mengecewakan petani. Pasalnya barang-banrang kebutuhan harganya tidak sama dengan tahun lalu. Sementara petani yang mengandalkan penghasilan dari gabah tak mengalami kenaikan. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap daya beli petani yang semakin menurun di tengah-tengah kenaikan harga-harga bahan pokok, biaya produksi, dan sewa lahan.

Ungkapan kekecewaan itu diantaranya terlontar dari Koordinator Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Masroni. HPP tetap penghasilan petani juga tak naik, sementara biaya hidup, harga kebutuhan pokok, sewa lahan dan biaya produksi pertanian naik. Padahal menurutnya petani berharap GKP naik menjadi Rp 4.130 per kg.

Masih kata Masroni, rata-rata biaya hidup keluarga petani di Indramayu pasca naiknya harga bahan pokok menjadi Rp 4 juta per bulan. Sebelumnya berkisar Rp 2,5 – 3 juta per bulan. Demikian biaya produksi per hektar (ha) di Indramayu pada musim tanam awal tahun, Rp 8 – 9 juta per ha, sebelum kenaikan harga pupuk dan biaya produksi rata-rata Rp 7 juta per ha.

Menurutnya harga dimaksud belum termasuk sewa lahan, pompa, dan membeli bahan bakar minyak untuk pompa. Berkaitan musim hujan tahun ini yang terlambat para petani juga mengalami kesulitan air sehingga harus mengeluarkan biaya tuntuk menyedot air agar tanaman padi tetap bertumbuh.

Pandapat senada datang dari Sekretaris Asosiasi Perberasan Banyumas, Faturrahman pada Jumat (19/2). Menurutnya HPP beras dan gabah belum sesuai, meski harga yang terjadi saat ini justru diatas HPP. Dipastikan mereka tidak menjual ke Bulog. Bulog akan efektif berperan ketika memasuki panen raya, karena biasanya saat itu harga gabah akan cenderung turun seiring produksi padi melimpah di tingkat petani.

Kombinasi harga di sekitar Banyumas (Purwokerto) saat ini kata dia harga GKP di tingkat petani berkisar Rp 3.800 – Rp 4.000 per kg, sedangkan harga beras di penggilingan berkisar Rp 8.600 – 8.800 per kg. Sedangkan harga beras di sejumlah pasar tradisional, seperti Pasar Manis dan Pasar Wage Purwokerto, harga beras IR 64 kualitas medium sekitar Rp 9.400 per kg, sedangkan beras IR 64 kualitas premium Rp 10.000 per kg.

Sementara Wakil Ketua Forum Komunikasi Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (FKP4S) Kabupaten Banyumas, Muthohar, menginformasikan di beberapa kecamatan di Banyumas barat, saat ini tanaman padi rata-rata baru berusia 25 hari, panen raya diperkirakan Maret – April.

Terkait keputusan HPP Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution melalui siaran persnya di Jakarta menegaskan, HPP tahun ini tetap. Dengan pertimbangan katanya demi menjaga pasokan dan stabilitas harga beras, melindungi tingkat pendapatan petani, mengamankan cadangan beras pemerintah, dan menyalurkan beras untuk keperluan masyarakat luas. Saw/Dbs.

Share This: