HOAX

Setiap hari orang kebanjiran informasi sehingga mereka kehilangan akal sehat…(Gertrude Stein)

Apa kabar terbaru hari ini dari WhatsApp Anda? Ketika terjaga di pagi hari, apakah tangan Anda replek menjamah telpon genggam (ponsel) yang tergolek di sisi tempat tidur Anda. Jika hal itu benar, tak usah risih. Kini hampir paruh terbesar dari pencarian informasi dan komunikasi umat manusia di seantero dunia bergantung pada benda kecil benama ponsel itu.  Melalui benda kecil yang canggih ini, komunikasi umat manusia, keluarga, perdagangan, politik  seolah telah terwakili. Tentu saja penemuan teknologi ini makin memudahkan lalu lintas informasi antar-manusia. Bahkan  media sosial bernama whatsApp (WA) mencatat sebanyak 42 miliar pesan, 1,6 miliar foto berseliweran setiap hari melalui aplikasi pesan instan ciptaan Brian Acton dan Jan Kroum ini. Data tersebut mengacu tahun 2016, dan belum lagi kiriman melalui video yang ditaksir mencapai 250 juta setiap hari.

Dengan rerata pengguna WA mencapai satu miliar orang perbulan, betapa dahsyatnya revolusi komunikasi yang dihasilkan teknologi digital ini. Dunia tiba-tiba saja terasa sempit karena setiap orang bisa menjadi bagian dari  networking society, tanpa batasan demografis, budaya, sosial dan tetek bengek lainnya.  Networking Society  menjadi media eksistensi diri, dimana sebuah peristiwa yang terjadi hari ini, dapat diinformasikan detik ini juga.

Sebagai negara berpenduduk terbesar ke empat, Indonesia tentu saja menjadi sasaran pasar yang empuk.  Arus deras informasi merebak ke berbagai  sektor kehidupan, bukan lagi barang langka seperti halnya di masa era anarkis Orde Baru.  Masalahnya bagaimana kita menyaring kebenaran  informasi itu. Bagi kalangan awam  tentu akan menyerap begitu saja informasi – entah siapa pengirimnya –  yang kemudian menjadi konsumsi pengetahuan setiap hari.   Padahal ditengarai  tidak sedikit  serbuan informasi itu mengandung kabar bohong (hoax) yang pada gilirannya menyulut perang kata-kata dan  permusuhan kelompok.  Di tengah pertempuran Pilkada DKI Jakarta April lalu,  hoax  berseliweran dan celakanya, seseorang menyerap mentah-mentah lantaran dianggap menguntungkan kelompoknya.  Kita pun teringat pada   ramalan Alfin Toffler,  bahwa  mereka yang  buta huruf di abad ke-21 bukan yang tidak dapat membaca dan menulis, tetapi yang tidak mau belajar, meninggalkan pelajaran, dan belajar kembali.

Maka, sepanjang musim Pilkada lalu, udara Jakarta sungguh sangat pengap, poster saling hujat bertebaran di dinding kota dan dimana-mana  begitu mudah kita mendengar kata-kata Kafir!  Hujatan yang sama-sama dilontarkan oleh dua seteru, kaum Kristen dan Islam di medan Perang Salib, hampir 1.000 tahun lalu.

Apakah limpahan informasi yang kelewat deras  itu membuat orang kehilangan  akal sehat?  “Everybody gets so much information all day long that they lose their common sense,” kata     Gertrude Stein (1874-1946).  Penyair dan novelis Amerika Serikat yang melewati dua perang dunia ini  hijrah ke Paris pada 1903 dan memimpin kelompok diskusi The Lost Generation, sebuah kelompok pengarang muda ekspatriat Amerika yang meniti karir di tengah gejolak Perang Dunia I.

Kita memang tidak hidup di tengah perang berkepanjangan yang dialami Gertrude,  tetapi di tengah perang hoax ini, kita juga mengalami perang  informasi  yang tidak saja merusak akal sehat tetapi  menyulap hidup dengan penuh curiga dan prasangka.

Dan kata Gertrude lagi,  “You look ridiculous if you dance. You look ridiculous if you don’t dance.  So you might as well dance.”  Pikiran yang bisa dimaklumi dari seorang Yahudi seperti Gertrude.   (Irsyad Muchtar)

Share This: