Hidup mati di KSU

Seperti filsafat bunga teratai, tetap memancarkan keindahannya walaupun tumbuh di lingkungan yang tidak kondusif. Sebaliknya teratai mampu memengaruhi sebuah lingkungan jadi lebih indah dan menarik.

Begitulah analogi yang pas untuk Koperasi Serba Usaha (KSU) Tunas Jaya yang beroperasi di tengah kampung kumuh lagi padat di bilangan Bendungan Hilir Jakarta Pusat. Kinerjanya sepanjang tiga dasa warsa patut diacungi jempol dengan meraih berbagai penghargaan sebagai koperasi teladan dan berprestasi tingkat nasional.

Ketika berdiri pada tahun 1977, koperasi yang berawal dari kelompok arisan warga RW 07 Kelurahan Bendungan Hilir ini diprakarsai oleh sejumlah anak-anak muda dengan penggagas utamanya di motori oleh Saman HS, Sugiharto, Satyoko, Asmuni dan Madkosim. Untuk menjalankan usaha koperasi yang masih baru itu, Sugiharto ditunjuk sebagai ketua pertama yang hingga saat ini masih tetap memimpin Tunas Jaya.

Mendirikan sebuah koperasi di tengah masyarakat yang justru tidak mengenal manfaat berkoperasi sungguh pekerjaan yang muskil. Terlebih citra koperasi di tahun 70-an itu juga tidak menarik, usaha gurem dan banyak kasus di mana pengurus sering membawa kabur uang anggota ketika koperasinya berhenti beroperasi.

Tetapi proses sosialisasi yang ditekuni dengan sabar oleh Sugiharto berhasil menegakkan Tunas Jaya sebagai koperasi yang layak diperhitungkan. “Waktu itu kita belum bicara usaha yang besar-besar, kita kenalkan saja dulu apa itu koperasi, kalau masyarakat tidak mencibir itu sudah bagus,” ujarnya sembari tak tahan menahan senyum saat mengenang betapa sulitnya menyosialisasikan program menabung di tengah warga setempat yang setiap hari bergulat dengan himpitan ekonomi.

Lelaki kelahiran Solo 17 Agustus 1952 ini mengaku gencar melakukan sosialisai Tunas Jaya dengan mendatangi setiap warga di perkampungan tepi banjir kanal barat itu. Ia juga gencar melakukan kampanye melalui kelompok formal seperti kelurahan, PKK maupun majlis taklim. Alhasil dalam tempo tiga tahun pertama Tunas Jaya mampu melalui masa sulit itu dan mendapat predikat A dari pemerintah (Kanwil Ditjen Koperasi) sebagai koperasi yang manajemen organisasi dan usahanya sehat.

Lalu apa yang melatar belakangi mantan karyawan PT Bank Pasar Perdagangan Jakarta ini bergeser ke koperasi? Selain berupaya meningkatkan peran kegiatan arisan menjadi aktivitas yang lebih formal, waktu itu pemerintah juga tengah gencar mengampanyekan perkoperasian. Maka bersama dengan warga ia menggagas pendirian Koperasi Simpan Pinjam lantaran embrionya memang dari kelompok arisan yang sudah berjalan rutin. Namun ternyata perizinan agak berbelit, kalau tak boleh dibilang dipersulit. Kampanye pemerintah waktu itu adalah menumbuhkan koperasi pertanian di pedesaan atau KUD. Sedangkan di tingkat perkotaan disetarakan dengan KSU. “Saya diberi gambaran bahwa mengurus pendirian KSP agak susah, dan kami diminta mendirikan KSU saja karena di KSU juga bisa menjalankan usaha simpan pinjam,” ujarnya.

DI bawah kepemimpin Sugiharto, Tunas Jaya sempat mengalami masa-masa keemasan lantaran usaha-usahanya mengalami pertumbuhan yang subur. Unit toko yang jadi andalan koperasi ini dipercaya menjadi penyalur gula dan terigu dari Bulog. Sedangkan unit simpan pinjam mendapat suntikan modal dari Pemda DKI Jakarta serta Bank Pembangunan Daerah (BPD Jaya). Tunas Jaya juga dipercaya menyalurkan Kredit Candak Kulak sehingga kepercayaan masyarakat semakin tinggi dan banyak yang tertarik menjadi anggota.

Rangkaian prestasi terus diukir dengan mengembangkan berbagai terobosan usaha yang membanggakan anggota. Lantaran sukses tersebut, Tunas Jaya menyabet penghargaan teladan tingkat DKI Jakarta maupun nasional berturut-turut sejak 1987 hingga 1999, keberhasilan ini sulit disaingi koperasi manapun di tingkat daerah maupun nasional. Bahkan pada 1995 Sugiharto dinobatkan sebagai Tokoh Koperasi Terbaik dari Gubernur DKI Jakarta.

Dalam perjalanan berikutnya, Sugiharto dihadapkan pada masa yang cukup sulit, ditandai dengan longgarnya aturan mengenai pembukaan usaha minimarket. Munculnya ratusan minimarket berbendera Alfamart dan Indomart di seantero Jakarta ( juga di berbagai daerah lainnya di Tanah Air) menjadi titik balik bagi merosotnya usaha toko KSU Tunas Jaya. Khusus DKI Jakarta, serbuan minimarket bermodal besar itu sangat memukul kelangsungan usaha pasar-pasar tradisional dan KSU karena sangat sulit bersaing. Aturan Pemda DKI yang mengatur keberadaan minimarket yang harus berjarak dengan pasar-pasar tradisional mengusap begitu saja. Sehingga lebih dari 250 KSU di DKI Jakarta gulung tikar. Kendati dihajar oleh kebijakan yang tidak memihak itu, Sugiharto tetap bertahan dan terus melanjutkan usaha toko Tunas Jaya. Ia mengaku memang rugi, namun masih bisa tertolong oleh loyalitas anggotanya yang masih aktif di usaha simpan pinjam.

Jika mengikuti kondisi persaingan ritel yang tidak adil itu, sebenarnya Toko Tunas Jaya sudah lama tutup, namun menurut peraih Satya Lencana Wira Karya dari Presiden RI Tahun 2011 itu,   jika dirinya menyerah dengan kondisi tersebut maka semangat koperasi yang tumbuh di kampung kumuh Bendungan Hilir itu bakal hilang. Dan akan menjadi pembenaran bahwa koperasi memang sulit berbisnis.

Share This: