Hermawan Rianto, Jadikan Museum Wisata Baru Milenial

Hermawan Rianto-Foto: Dokumentasi Pribadi.

BANDUNG—-Sekalipun tidak ada anggaran dari Pemerintah Kota, Museum Kota Bandung untuk 2019 tetap akan jalan.  Demikian tekad Ketua Pendiri dan Kepala Museum Sejarah Kota Bandung Hermawan Rianto dan timnya. Sekalipun museum ini baru dibuka dua ruangan sejak diresmikan pada 31 Oktober 2018 lalu.

“Kami berupaya mencari dana CSR untuk melanjutkan pekerjaan mengisi materi pameran maupun menjalankan program,” kata Hermawan.

Sejak berdiri hingga April ini museum yang terletak di Jalan Aceh ini sudah melaksanakan program rutin mulai dari diskusi, pameran, berbagai kajian, pelatihan seni dan budaya, serta aktivitas budaya lainnya.  Di antaranya diskusi setiap Kamis pertama setiap bulan dengan santai sambal ngopi. Tema awal April lalu ialah “Doktrin Surga dan Neraka”.

Hermawan mengaku jatuh hati pada museum ketika mulai membantu program komunikasi Museum Nasional ketika museum itu berada dalam kondisi yang paling buruk. Museum saat itu bukan obyek menarik karena kumuh dan tidak punya desain yang menarik dan kemampuan  bercerita  yang menarik kepada pengunjung.

“Saya membuat konsep baru pameran temporer modern dan mendesain museum agar bisa bercerita hingga iklan yang menggugah untuk memasyarakatkan kunjungan museum,”ungkap mantan mahasiwa Seni Rupa ITB tahun 1978 hingga 1981 ini.

Pengalaman ini membantu mengkonsep Musuem Sejarah Kota Bandung, yang kini banyak dikunjungi generasi milenial, bahkan mereka berswafoto di sejumlah spot. Selain itu kaum milenial menjadikan museum sebagai ruang sosial mereka berinteraksi dan berkreativitas, visi milenial jalan, visi edukasi juga jalan.

“Foto mereka yangg diposting di sosial media jadi alat kampanye museum yang efektif dan dijamin mereka akan datang lagi untuk lebih dari sekedar swafoto.  Konsep ini yg dipakai National Museum Singapura. Museum jadi destinasi wisata baru. Itu sebabnya Museum Sejarah Kota Bandung juga merekrut  tenaga editor dan enulis naskah seperti media dan ini tidak dilakukan museum lain,” papar Hermawan.

Selain menjadi aktivis museum dan budaya , kakak dari Garin Nugroho ini juga aktif pernah membuat film layer lebar bertajuk Para Pemburuh Gajah, serta sjeumlah film dokumenter berkaitan dengan suku-suku pedalaman.  Hermawan juga dianggap sebagai ahli komunikasi krisis dan keahliannya diminta oleh TNI  untuk mengkaji target sebelum operasi.

“Dengan memahami komunikasi krisis  pasukan dapat memahami tradisi dan psikologi masyarakat tempat mereka melakukan operasi. Untuk sebisa mungkin menghindari konflik bersenjata,”tutup Hermawan (Irvan Sjafari).

Share This:

You may also like...