Harga Karet Melorot

Pada tahun ini, tren harga karet dunia cenderung melemah. Kondisi ekonomi China yang melambat menjadi salah satu penyebabnya. Akankah tren ini berlanjut pada tahun depan ?

Seperti harga komoditas lainnya, harga karet di pasar internasional pun ikut-ikutan melorot. Padahal Indonesia merupakan produsen karet terbesar ke-2 di dunia setelah Thailand. Anjloknya harga karet tentu berpengaruh terhadap pendapatan dari sisi ekspor nasional.
Untuk mengatasi kondisi itu, Kementerian Perdagangan membentuk Task Force Karet Nasional (TKFN). Pembentukan TFKN merupakan kesepakatan untuk mengatasi anjloknya harga karet dunia dan antisipasi perdagangan bebas regional dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.
Salah satu langkah TFKN untuk menstabilkan harga karet dunia, adalah melakukan diplomasi pada organisasi karet internasional seperti International Tripartite Rubber Council (ITRC) dan International Rubber Consortium (IRCo). Selain itu juga pembicaraan pada negara-negara produsen utama karet dunia seperti Thailand dan Malaysia.
“Kami menjalin kerja sama dengan negara-negara produsen utama karet dunia untuk menjaga keseimbangan supply dan demand karet alam dunia, serta menstabilkan harga karet internasional pada tingkat yang remuneratif bagi petani,” ujar Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Partogi Pangaribuan melalui keterangan tertulis.
Persoalan anjloknya harga karet dunia tentu merugikan negara-negara utama pengekspor karet. Untuk itu dibutuhkan kerja sama internasional guna mencegah keadaan yang lebih buruk.
Partogi menambahkan, masalah utama yang melilit industri perkaretan nasional, terutama masih rendahnya mutu Bahan Olah Karet (Bokar). Selain itu, pengenaan Pajak Pertambahan Nilai terhadap produk pertanian yang dipandang merugikan petani kecil.
Kondisi suram industri karet saat ini diakui Ketua Umum Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Daud Husni Bastari. Industri karet sedang menghadapi tantangan berat dengan terus menurun harga karet hingga di kisaran 1,66 dolar AS per kilogram . Padahal, perkebunan karet alam ini menyerap lebih dari 2 juta petani kecil.
Berdasarkan data kementerian Perdagangan, sektor karet alam menyumbang 4,61persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada 2013 (149,92 miliar dolar AS). Pada saat ini, karet merupakan salah satu komoditas andalan ekspor utama Indonesia.
Indonesia merupakan negara penyuplai terbesar ke-2 di dunia setelah Thailand. Pada 2013, produksi karet alam mencapai 3,2 juta ton dengan jumlah sekitar 16 persen (0,5 juta ton) teralokasikan untuk pemenuhan kebutuhan domestik dan 84 persen di ekspor (2,7 juta ton). Volume ekspor karet pada 2013 mencapai 2,7 juta ton dengan nilai USD 6,91 miliar.
Dibandingkan tahun 2012, angka tersebut menunjukkan peningkatan volume ekspor sebesar 260 ribu ton (10,7 persen) dari sebelumnya 2,44 juta ton dan penurunan nilai ekspor sebesar 0,95 miliar dolar AS (12,1 persen) dari sebelumnya 7,86 miliar dolar AS.
Negara tujuan utama ekspor karet pada 2013 adalah Amerika Serikat dengan volume mencapai 609,8 ribu ton (22,6 persen), diikuti China dan Jepang yang masing-masing sebesar 511,7 ribu ton (18,9 persen) dan 425,9 ribu ton (15,8 persen).

Minim Akses Pembiayaan
Selain mengeluhkan turunnya harga karet dunia, Gapkindo juga prihatin dengan minimnya keberpihakan pemerintah terhadap perkebunan dan petani karet. Misalnya, dalam program penerapan replanting masih jauh dari harapan para petani karet. Minimnya bantuan bibit karet dan pupuk kepada petani karet juga merupakan masalah tersendiri.
Petani karet juga kesulitan menembus akses kredit perbankan. Akhirnya Petani karet, tambahnya melakukan swadaya bersama untuk mendapatkan sertifikat petani sebagai agunan ke perbankan. Bunga bank yang tinggi juga semakin menyulitkan posisi petani karet.
Kondisi yang dikemukakan Gapkindo Pusat juga dirasakan oleh anggotanya di daerah. Seperti dilaporkan Sekretaris Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel Awie Aman, bahwa harga bahan olah karet (bokar) kualitas ekspor kadar kering 90 persen dalam beberapa bulan terakhir memang belum stabil tergantung perkembangan harga di luar negeri. Tren penurunan harga karet jelas akan memukul kehidupan petani karet di Sumsel.

Dikatakannya, di Sumsel terdapat belasan perusahaan pengolahan karet anggota Gapkindo yang rutin melakukan kegiatan ekspor ke sejumlah negera konsumen dengan total kisaran 60.000 ton hingga 70.000 ton perbulan. Kini, mereka berharap agar harga karet dunia segera membaik dan pemerintah secara serius memperhatikan kesejahteraan petani karet.
Selama ini ada dua faktor utama yang mempengaruhi harga karet di pasar internasional yaitu pergerakan dolar AS dan kondisi ekonomi China sebagai salah satu negara dengan ukuran ekonomi yang besar. Jika kondisi ekonomi China membaik terutama industri ban nya dipastikan harga karet akan ikut merangkak naik

Share This: