Hapip Suardi Ubah Drum Bekas Jadi Kerajinan Mebel Kekinian

Hapid Suardi dan karyanya-Foto: Dokumentasi Pribadi.

MAJALENGKA-—Hingga empat tahun yang lalu Hapip Suardi mencari nafkah untuk keluarganya dengan membuka usaha warnet di Desa Gunungsari, Kecamatan Kasokandel, Kabupaten Majalengka.  Pria kelahiran 1973 tidak hanya sekadar operator, tetapi juga rajin berselancar di dunia maya.

Ketika warnet meredup, Hapip mendapatkan ispirasi untuk merintis bisnis mebel ketika melihat desain perabotan meja dan kursi dari negara lain dari berbagai situs. 

Hapip tergerak mengubah drum bekas menjadi bahannya. Sebab di daerahnya bahan itu banyak terdapat dan sebetulnya menurutnya bisa digunakan daripada terbengkalai.  

Dia menggunakan cat mobil untuk mengemas perabotnya hingga mengkilap. Dia juga dibantu kawan sedesanya menggunakan tempatnya dan meminjam perlatan pertukangannya,

“Sebenarnya iseng-iseng dan itu perlu tiga kali usaha gagal dan baru keempat berhasil.  Saya desain sendiri, saya buat sendiri dan saya pasarkan sendiri melalui media daring. Alhamdullilah, ada pembeli yang datang dari Cirebon, Bandung, Indramayu,” ujar Hapip ketika dihubungi Peluang,  Jumat (19/7).

Pria yang hanya tamat kelas dua SMA ini menjelaskan, untuk membuat satu set mebel, terdiri dari satu kursi panjang, dua kursi pendek dan meja menghabiskan waktu empat hari. 

Modalnya mulai dari membeli drum bekas hingga cat mobil anti gores, serta bahan lain menghabiskan Rp1,8 juta.  Dari jumlah itu Hapip menjualnya Rp3,2 juta.  Sementara satu set mebel dengan tiga kursi pendek dan stau korsi panjang dibandroll Rp3,4 juta karena modal lebih besar.

“Omzet saya turun naik dan ini masih kerjaan sambilan selain bertulang.  Pemesanan terbesar pernah tiga set untuk keperluan sebuah sekolah,” ujar Hapip.

Hapip bersyukur berkat upayanya yang tak kenal lelah membuat seorang pengusaha dari Kuningan menawarkan kerja sama.  Ke depan dia menjual produknya untuk pengusaha itu secara berkala.  Dia juga berharap ada perhatian dari pemerintah desa dan pemerintah daerah untuk mengangkat usahanya.

Sebagai catatan saat ini keberadaan akses  transportasi seperti Jalan Tol Cipali mendongkrak pertumbuhan  Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).  Hingga 2018 tercatat ada 28.113 kelompok usaha UMKM (Irvan Sjafari)




Share This:

You may also like...