Hadapi Impor, Prospek Bertani Lemon Tetap Cerah

Agus Rhoma,seorang petani lemon di Kecamatan Cimaung, Bandung-Foto: Dokumentasi Pribadi.

BANDUNG—-Maksud hati bertani nangka, tetapi anjuran seorang penjual bibit di Majalengka, membuat seorang Iwan Setiawan malah menjadi petani lemon.

Warga Lembang, Kabupaten Bandung Barat mempunyai satu hekatare tanah di kawasan Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung yang ingin dijadikan usaha agribisnis.

Sekitar Mei 2016, alumni UIN Kota Bandung ini membeli 250 pohon lemon seharga Rp10 ribu dengan niat mencoba apakah anjuran petani di Majalengka itu terbukti. Modal awal Rp2,5 juta itu masih ditambah pembelian pupuk dan gaji pegawai dua orang.

“Ternyata terbukti dalam sebulan saya panen pertama sebanyak dua kuintal . Setiap kilogram dijual Rp8 ribu hingga Rp

10 ribu di pasar tradisional,” tutur pria kelahiran 1967 kepada Peluang, Jumat (21-9-2018).

Usahanya berkembang, sekalipun Iwan harus berjuang keras mencari pasar untuk menyerap produksi lemonnya.  Dia menyayangkan belum ada perhatian terhadap perintisan agribisnis yang cukup langka itu, padahal prospek pasar cukup baik.

“Saya tidak punya link untuk masuk pasar swalayan atau pasar buah. Makanya saya mencoba mencari mitra UKM yang menjual lemon segar melalui media sosial,” ucap Iwan, yang juga mengembangkan usaha ikan bakar.

Sebulan sekali,  Iwan panen dengan ozmet kotor Rp5 juta per bulan. Tetapi hasil itu harus dipotong biaya produksi dan gaji dua karyawannya.  Namun menurut dia prospek bertani lemon cukup baik.

Iwan setiawan-Foto: Dokumentasi Pribadi.

Petani lemon lainnya ialah Agus Rhoma Siswanto. Warga Paropong, Kabupaten Bandung Barat  ini sudah merintis budi daya lemon juga di Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung sejak berapa tahun lalu.

Pria kelahiran 1979 ini menjalin kemitraan dengan para petani di lahan miliknya seluas enam hektare.  Pembagian hasilnya 70%: 30%.  Agus sebagai pemilik menanggung risiko dan mencari pemasaran mendapat lebih besar.

“Tanaman Lemon yang berumur 1,5 tahun bisa panen sebulan sekali.  Dengan 1500 pohon saya pernah panen satu ton dengan harga jula Rp8-10 ribu saat ini. Tetapi itu bergantung kualitas. Kalau ada buah yang grade super pernah mencapai Rp25 ribu per kilogram. Namun memang tidak semua pohon menghasil buah super, ada yang grade A, B hingga C,” kata alumni Universitas Brawijaya ini kepada Peluang, Jumat (21/9/2018).

Agus memasok beberapa pasar swalayan walau melalui seleksi yang cukup ketat. Dia mengakui bantuan dari pemerintah belum ada, petani memang harus berjuang sendiri mencari pasar.  Selain itu petani lemon lokal, sekalipun bibitnya lemon California harus berhadapan dengan lemon impor.

“Saat ini lemon impor harganya turun, sehingga agar bisa bersaing di pasar,kami petani juga harus menurunkan harga. Sebetulnya secara kualitas lemon produksi lokal bisa bersaing, hanyasaja lemon impor secara bentuk lebih bagus,” tutur Agus.

Prospek agrisbisnis lemon masih bagus.  Sebab pemainnya belum terlalu banyak, permintaan pasar masih terbuka lebar, bukan saja pasar tradisional, pasar swalayan, tetapi juga UKM minuman segar dan masih banyak lagi.

Menurut Iwan, Jawa Barat, itu hanya mampu memenuhi 10% untuk melayani kebutuhan pasar swalayan di Jakarta, Bandung, Malang, dan Surabaya.

Biaya produksinya tidak setinggi buah subtropis lainnya seperti stroberi yang dibudidayakan di negara tropis. Tetapi ya, itu pengusaha agribisnis lemon ini harus tekun mengelola lahan, menjalin kemitraan dan membuka pasar sendiri (Irvan Sjafari).   

Share This:

You may also like...