Grand Old M

ORANG tua ini sungguh perkasa. Come back ke kancah politik setelah 15 tahun pensiun. Dia maju menantang partai UMNO incumbent 60 tahun, yang pernah dibesarkannya, dan menang. Dia juru mudi jalan lurus Malaysia selama 22 tahun (PM 1981-2003), tapi melempem di era pewarisnya, Ahmad Badawi, dan melenceng di era Najib Razak. Dialah Tun Dr Mahathir bin Mohamad, Dr M berjuluk Soekarno kecil. Dialah keajaiban. Grand old man.

Begitulah: nothing is impossible. Dr M pegang tampuk kuasa lagi. Pada usia 93 tahun minus 2 bulan. Tujuh tahun jelang berumur tiga digit. Bahkan dalam klasifikasi usia hasil ‘amendemen’ WHO pun (tua: 80-99), ia terhitung tua. Tun jadi PM teruzur di dunia, orang Asia. Dr M unggul atas Mohamed Beji Caid Essbesi (91), Presiden Tunisia; dan Paul Biya (85), Presiden Kamerun.

Ayah tujuh anak yang ibunya Tun Dr. Siti Hasmah itu telah bawa Malaysia maju. Di bawah kepimpinannya, Malaysia berubah dari negara pertanian jadi negara perindustrian modern. Melalui Wawasan 2020, programnya yahud. “Sembilan tahun lalu saya bertemu Mahathir di KL. Sudah sangat lemah. Sakit-sakitan. Selalu dipapah. Kini memenangi Pemilu. Jadi PM lagi. Penyelamat Malaysia dari krismon 1998, kini menyelamatkan Malaya lagi dari rusaknya sistem hukum dan demokrasi,” tulis Dahlan Iskan.

Pemungutan suara cukup 9 jam (pukul 08:00-17:00). Pukul 22.30, Tun M mengklaim kemenangan, dan mengumumkannya pukul 03.00. Siang harinya pemerintahan baru terbentuk. Malamnya Tun M dilantik Raja. Pemerintah sudah berganti dalam sehari, 10 Mei 2018. Inilah Pemilu model Inggris. Begitu efisien. Tidak ruwet dan lemot seperti model Amerika. Hasil Pilihan Raya Umum (PRU-14) yang extraordinary historis.

Menyongsong tugas besar di depan mata, Dr M justru bugar walafiat. Pukul 03:00 ia masih bikin konferensi pers. Runtut tutur katanya. Jernih pikirannya. Sehat dan betapa cerdiknya: Kamis-Jumat langsung ia liburkan. Berarti, sampai Ahad, lalu-lintas uang terhenti. Yang mau transfer ke LN gigit jari. Lalu viral video tercyduk 63 detik sekontainer US$ dan emas permata yang siap dibawa kabur Nadjib dan istrinya—hasil jarahan bisnis abal-abal 1 Malaysia Development Bank (1MDB).

Tun Mahathir menang. Sejatinya, ini kemenangan kapitalisasi politik rakyat. Mereka miris nonton turnkey project RRC yang subversif. Mereka juga muak dengan rezim yang korup, kenaikan harga BBM dan kebutuhan sehari-hari. Situasi itu 11-12 dengan psikolologi-politik di negeri saudara serumpunnya. Dan itu yang bikin kubu status quo kerja-kerja gamang lantas meriang. Mereka waswas outpot PRU-14 Malay memantik efek domino ke Pemilu RI 2019.

Congrat, Tun Mahathir. Tahniah rasionalitas puak Malaya. Akal sehat Asia Tenggara.

Salam,

Irsyad Muchtar

Share This: