Grab & Pasar Asia Tenggara

Dengan pangsa 28 kota di 6 negara Asia Tenggara, keunggulan relatif Grab layak dipertahankan. Untuk ekspansi, mereka realistis dengan deposit yang ada di pundi-pundi.

grab

Didirikan 2012 oleh dua warga Malaysia lulusan Harvard Business School, Anthony Tan dan Tan Hooi Ling, GrabTaxi dengan cepat menyodok sebagai salah satu perusahaan start-up sukses di Asia Tenggara. Awal diluncurkan, GrabTaxi bernama MyTeksi. Melihat peluang lebih start-upnya lebih bagus, Hooi Ling memutuskan mundur dari McKinsey di Amerika Serikat dan kembali ke Malaysia untuk membesarkan MyTeksi.

Bukan kebetulan jika kakek Anthony, yang anak seorang supir taksi, tercatat berjaya mendirikan sebuah kerajaan otomotif dari nol–Tan Chong Motor, produsen dan distributor lokal Nissan di Malaysia. Anthony berulang kali mengatakan bahwa GrabTaxi adalah sebuah perusahaan Asia Tenggara yang dibangun oleh orang Asia Tenggara dan ditujukan untuk pasar Asia Tenggara.

Nama MyTeksi selanjutnya diubah menjadi GrabTaxi dengan tiga bidang utama, yakni GrabHitch, layanan ride sharing sosial yang terjangkau untuk pada komuter yang bisa menjadi solusi transportasi bagi masyarakat perkotaan; GrabCar sebagai layanan penyewaan kendaraan pribadi; dan GrabBike sebagai layanan pemesanan taksi motor (ojek).

Praktis berangkat dari nol, kini aset GrabTaxi mencapai US$700 juta. Skema kerja mereka apik. “Kami memiliki kekuatan untuk saling melengkapi, kami seperti yin dan yang. Anthony Tan adalah orang yang fokus pada pemasaran dan hubungan investor. Saya lebih ke operasional perusahaan. Saya selalu memastikan pekerja kami memproses pekerjaan dengan benar,” ujar Hooi Ling. Setiap detiknya, tiga booking dilakukan di dalam platform ini. Dengan jutaan penggunanya, GrabTaxi sukses menghimpun pendanaan US$90 juta (Rp1 triliun) dalam waktu satu tahun.

Dewasa ini aplikasi GrabTaxi telah diunduh oleh lebih dari 9 juta perangkat mobile di 28 kota di enam negara, yakni Malaysia, Singapura, Filipina, Vietnam, Muangthai, dan Indonesia. Tak sulit GrabTaxi kini disokong lima investor besar, yakni Softbank, GGV Capital, Tiger Global Management dan perusahaan BUMN Singapura, Vertex Venture Holdings.

Visi Grab adalah merevolusi industri pertaksian di Asia Tenggara. Hingga bulan Maret 2015 saja, jumlah pengguna Grab mencapai 3,8 juta pengguna. Di Indonesia, Grab melayani pemesanan mobil, taksi dan ojek. “Pertama, karena Asia Tenggara adalah tempat kami berasal. Kedua, karena banyak perusahaan global juga melirik pasar Asia Tenggara menjadi prioritas pengembangan bisnisnya,” Anthony.

Dengan dana Rp1 triliun di tangan, prioritas Anthony adalah merekrut lebih banyak bakat baru di daerah yang mereka garap. Dalam hal dana, Uber yang disokong pendanaan sebesar US$1,2 miliar, dan dilaporkan sedang mencari tambahan miliaran lagi, memang sulit disaingi. Namun Uber menghadapi banyak sekali lawan di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia. Khusus di kawasan Asia Tenggara, kompetitor Grab paling serius boleh dibilang hanya Uber. (dd)

 

Share This:

Next Post

Napak Tilas Silsilah Taxi

Sen Apr 4 , 2016
Dahoeloe, taksi di Batavia mengambil atau menurunkan penumpang di pangkalan. Calon penumpang pun kudu antre. Taksi pertama di dunia bernama Daimler Victoria. Diambil dari nama pengusahanya, Gottlieb Daimler (1897). Taksi ini sudah dilengkapi dengan meteran/argo atau taximeter, yang pertama kali digunakan pada 1891. Alatnya ditemukan oleh seorang Jerman, Wilhelm Bruhn, […]