Gibran Tragari, Kemandiran Pangan Berkelanjutan

Gibran Tragari-Foto: Facebook Gibran.

DEPOK-—Tanaman sehat jika tumbuh di tanah sehat dan tanah sehat adalah tanah yang mengandung banyak kehidupan. Cara menghidupkan tanah dengan memperbanyak ekosistem kehidupan tanah.  Dengan kegiatan mengkompos, berfungsi menambah mikroorganisme di tanah, menggemburkan dan memberi makan mahluk hidup di tanah.

Ada yang menyebut sebagai recovery (pemulihan), namun bukan hanya mengembalikan unsur hara yang diambil tetapi menghidupkannya menjadi ekosistem tanah yang hidup dan berkelanjutan. Cara Bertani ini mengkritik industri pertanian dan perkebunan umumnya  mengksploitasi tanah dengan mengambil unsur haranya, kemudian ketika sudah selesai menanam tidak ada  melainkan meninggalkan begitu saja dan malah membuka lahan yang baru.

Demikian konsep permaculture yang diterapkan oleh seorang petani milenial bernama Gibran Tragari di kawasan Sukmajaya, Depok. Eks mahasiswa jurusan Teknik Pangan di Hochschule Fulda – Jerman rupanya terinspirasi pertanian berkelanjutan ini setelah mengikuti pelatihan Permakultur Bumi Langit di kota pendidikan Yogjakarta. Akhirnya sejak Januari 2017 dia mengelolah tanah seluas 200 meter persegi dari 2500 meter persegi milik orangtuanya.

Gibran mengungkapkan yang dia lakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Dia sudah memproduksi berbagai macam tanaman, untuk kebutuhan karbohidrat terdapat sorghum, ubi jalar, singkong.  Untuk kebutuhan sayuran terdapat selada, sawi, kangkung, daun katu, pepaya jepang, kelor, mangkokan.

“Kami juga punya bunga-bungaan untuk pengusir serangga dan ada yang bisa dimakan, torenia, kenikir, bunga kertas, jengger ayam. Bahkan ada juga keperluan lain seperti blustru untuk mandi dan cuci piring,” ujar Gibran kepada Peluang, Rabu (8/5).

Pria kelahiran 1989 ini tidak melupakan kebutuhan buah-buahan, di kebunnya  berserak pohon sukun, murbei, belimbing, rambutan, mangga, duren, pisang, pepaya, dan sebagainya.

“Berhubung tujuan saya untuk kemandirian pangan sendiri dan saya belum vegetarian, jadinya kami disini juga pelihara ayam dan kelinci. Untuk sementara baru ayam yang sudah dikonsumsi telurnya. Jadi mulai tahun ini saya tidak perlu beli lauk lagi, cukup beras dan bumbu untuk makan,” ujar Gibran.

Sendalu Permaculture

Proyeknya dinamakan Sendalu Permaculture berkembang perlahan dengan visi kemandirian pangan untuk diri sendiri. Pada 2019 ini dia focus untuk kebutuhan karbohidrat, seperti kemungkinan mengurangi makan nasi menjaid ubi-ubian atau jagung dan sorghum, Gibran belum berpikir menjual hasil pertaniannya, karena keterbatasan lahan untuk menjual hasil pertanian berkelanjutan. Namun dia mencoba  menjual bibit tanaman mint.

Bukan hanya kemandirian pangan, Gibran juga merintis hidup minimalis dan zerowaste . Bagaimana pun njuga konsep ini  dilihat secara hollistic atau saling terkoneksi. Menurut dia ketika mau bertani, kita butuh beternak juga untuk membantu pupuk dan pangan.

“Ketika berkebun harus memilah sampah untuk mengompos, ketika memilah sampah dan sampah plastik mulai banyak dan tidak bisa dibuang dikebun berarti harus mengurangi konsumsi barang berplastik, yang akhirnya ke kehidupan zerowaste,” ungkap Gibra

Hal  lain yang patut diperhatikan ketika mendirikan satu rumah ini berkelanjutan kalau nanti akhirnya sumber air bersih habis dan ketergantungan dari sumber lain. Maka harus ada manjemen air yang baik, dari menggunakan air kembali, menampung, dan menyerapkan kembali ke tanah.

“Ke depannya kami akan melakukan workshop-workshop dan kegiatan volunteer di kebun,. Berhubung selama dua tahun kami sudah melakukan hal-hal yang dirasa perlu untuk membuat kebun ini, walaupun belum maksimal tapi sepertinya akan menarik untuk di bagikan ke orang lain. Kebun ini tidak hanya membahas pertanian tapi cara hidup berkelanjutan, jadi kami punya lebih banyak potensi untuk berkembang di tahun-tahun mendatang,” pungkas Gibran (Irvan Sjafari).

Share This:

You may also like...