Geser Bisnis Koperasi Ke Hulu

BICARA soal koperasi, ujung-ujungnya bermuara pada usaha simpan pinjam. Di luar nomenklatur resmi, KSP, agaknya lebih dari 90 persen. Wajar jika tak muncul respons ketika menyoal keberadaan koperasi sektor produksi. Menurut Victoria Simanungkalit, beberapa tahun terakhir ini kapasitas produksi koperasi menurun. Baik karena tuntutan pasar yang makin dinamis dan kompetitif maupun akibat kebijakan afirmatif di masa lalu. Kondisi itu tidak membuat Vicky  pesimistis.

“Kami tetap mencari berbagai terobosan terkait aspek produksi agar tetap berjalan seperti merubah pola pikir pengurus dan anggota koperasi untuk mau berusaha di hilir yang memanfaatkan produksi anggotanya,” ujarnya. Pihaknya kini sedang menjalankan program Kemitraan Inklusif, yang melibatkan stakeholders dari proses pengembangan komoditas, proses produksi hingga pemasaran produk koperasi dan UKM. Tiga asisten deputi di bidang produksi  diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas dan memaksimalkan kapasitas usaha koperasi.

Penguatan posisi produk UKM di pasar nasional dan ekspor produk UKM difasilitasi dengan peningkatan standarisasi dan sertifikasi. Terkait re-branding, koperasi dan peranan kaum milenial, Vicky mengatakan selalu menggelorakan estafeta perkoperasian ke kalangan milenial. Di samping itu dengan makin berakar minat generasi milenial tentang keberlanjutan dan keberpihakan pada lingkungan sekitar dapat meningkatkan level usaha koperasi menjadi lebih profesional agar memberi manfaat kepada sekitar.

Untuk mewujudkan itu, re-branding koperasi menjadi salah satu wadah bisnis yang menarik, bisa bersaing dan menimbulkan rasa bangga menjadi hal utama yang harus dilakukan terus menerus melibatkan kaum millennial. Pemanfaatn teknologi digital adalah sebuah keniscayaan yang dapat mendekatkan jarak antara kaum milenial dengan koperasi. Syaratnya, ya koperasi harus mampu mematut dirinya menjadi makin berharga di tengah pasar digital.●

Share This:

You may also like...