Gerakan Koperasi Credit Union Kalimantan Tolak RUU Perkoperasian

Ilustrasi-Foto: Geotimes.

PONTIANAK-—Gerakan Koperasi Credit Union di Kalimantan menolak RUU Perkoperasian yang saat ini dalam tahap pembahasan di parlemen.

Gerakan koperasi yang mewakili 56 koperasi dan 1, 1 juta anggota ini meminta penundaan untuk pendalaman materi lebih lanjut sebelum disahkan ke Rapat Paripurna.

Dalam keterangan persnya pada Kamis (22/8/19) yang ditandatangani oleh Mikael (Ketua Pusat Koperasi Kredit Khatulistiwa, Gabriel Marto (Ketua Puskopdit Borneo) dan  Agustinus Alibata (Sekretaris BKCU Kalimantan), gerakan koperasi ini meminta agar dilakukan penghapusan organisasi Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) sebagai wadah tunggal dalam RUU (Pasal 130).

“Hal ini merupakan bentuk pelanggaran hak-hak warga negara untuk bebas berserikat dan berkumpul sebagaimana dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945. Ini juga merupakan bentuk pelanggaran terhadap prinsip-prinsip kerja demokrasi yang dihargai tinggi oleh gerakan koperasi,” kata Mikael.

Gerakan koperasi yang telah tumbuh berkembang sejak 1976 di Kalimantan menyatakan mereka berpegang teguh pada tiga pilar: swadaya, solidaritas dan dan pendidikan. Menurut gerakan ini wadah organisasi gerakan koperasi yang kokoh itu juga harus ditumbuhkan secara sukarela dan kekuatan swadaya dari anggotanya bukan dengan cara paksa.

“Untuk itu kami menolak untuk diwajibkan membayar iuran untuk Dekopin (Pasal 82) serta penggunaan dana dari sumber APBN dan APBD untuk Dekopin,”  ujar Mikael.

Gerakan ini juga meminta penghapusan berbagai bentuk potensi terjadinya birokratisasi dalam proses pendirian koperasi (Pasal 11) ,serta intervensi terhadap hal-hal teknis urusan rumah tangga koperasi, dalam hal perencanaan kerja koperasi (Pasal 77,78,79,80) sampai dengan persoalan alokasi sisa hasil usaha (Pasal 87) yang sebetulnya sudah menjadi urusan koperasi sendiri.

“Menurut kami, sebuah Undang-Undang Perkoperasian itu baiknya memberikan pengakuan terhadap praktik kerja terbaik dari koperasi di lapangan dan melindungi koperasi dari perusakan citra koperasi yang selama ini terjadi. Kami berharap justru bagaimana undang-undang itu dapat memberikan sanksi seberat-beratnya bagi koperasi papan nama dan rentenir yang berbaju koperasi,”  pasar   

Gerakan Koperasi Union juga berharap untuk pendirian koperasi simpan pinjam/Credit Union itu seperti tertera pada Pasal 10 untuk jumlah pendirianya sebaiknya tetap 20 orang seperti yang diatur dalam UU No 25 Tahun 1992.

“Sedangkan untuk jumlah minimum pendiri koperasi sebanyak 9 itu itu silahkan dimasukkan sebagai pasal pengecualian untuk jenis usaha koperasi lainya,” imbuh Mikael.

 Gerakan ini juga mengkritisi ketentuan sebagaimana diatur dalam pasal 122 tentang penyisihan laba Badan Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN/BUMD) untuk koperasi. Pasalnya ketentuan ini bentuk pelecehan terhadap organisasi dan badan hukum koperasi yang disebut oleh UUD 1945 sebagai bangun perusahaan yang sesuai dengan demokrasi ekonomi. 

“Kami menganggap bahwa Undang-Undang Koperasi itu harusnya memberikan sebuah penghargaan tinggi terhadap badan hukum koperasi. Caranya justru dengan diberikan peluang sebagai badan hukum untuk pengelolaan layanan publik sebagaimana badan hukum peseroan yang dijadikan sebagai badan hukum BUMN/BUMD,” papar dia lagi.

Gerakan Koperasi Credit Union kami di Kalimantan Barat saat ini sedang mencoba untuk melakukan pengembangan dengan membentuk koperasi-koperasi sektor riel.  Gerakan ini berharap Undang-Undang Perkoperasian memberikan perlakukan yang sama untuk pengembangan usaha-usaha dan layanan di sektor publik seperti: rumah sakit, pengelolaan listrik, transportasi, sekolah/kampus dan lain sebagainya yang selama ini hanya diberikan hak istimewanya untuk badan hukum perseroan dan yayasan.

“Menurut kami, penempatan posisi koperasi secara inferior di bawah peranan bank-bank konvensional untuk penyaluran akses kredit (Pasal 123) adalah salah satu bentuk pembunuhan kekuatan keswadayaan masyarakat yang selama ini bagi kami merupakan kekuatan utama bagi tumbuh berkembangnya koperasi,” pungkas Mikael.

Share This: