Ambon, Kejar Legitimasi Kota Musik Dunia

Ambon telah siapkan 25 rencana kerja untuk jadi Kota Musik Dunia ke-32. Ambon Music Office bergiat membenahi lima pilar yang dipersyaratkan. Yakni musisi, komunitas lokal, infrastruktur, industri dan pendidikan musik, dan nilai-nilai sosial budaya setempat. 

RISALAH Ambon atau Ambong (lafal lokal)  berawal dari tegaknya sebuah benteng. Sekitar 1575, sejak kedatangan Portugis tahun 1513 mencari rempah-rempah, penguasa Porto mengerahkan penduduk untuk membangun Benteng Kota Laha atau Ferangi, diberi nama “Nossa Senhora da Anunciada” di Dataran Honipopu

Benteng itu direbut Belanda tahun 1605, dijadikan pusat pemerintahan kolonial dan diberi nama Victoria. Dihantam gempa, benteng rusak; direnovasi dan diberi nama Nieuw Victoria.  Di benteng inilah Ahmad Lussy (Pattimura) digantung pada 16 Desember 1817. Pahlawan Nasional Slamet Rijadi juga gugur di benteng ini dalam pertempuran melawan pasukan ‘Republik Maluku Selatan’.

Sebagai pusat pariwisata—selain  pusat pelabuhan,  dan pendidikan—Ambon menawarkan wisata alam, budaya, bahari, juga kuliner. Mayoritas masyarakat berasal dari suku Ambon, suku setempat. Keutuhan mereka pernah diguncang kerusuhan besar dengan mengikusertakan agama seperti pada 1999. Hari jadi Ambon manise ditetapkan tanggal 7 September 1575.

Yang istimewa  dari nyong Ambong adalah pertautan mereka dengan musik. Tak berlebihan pemeo bilang, ‘Dari sepuluh orang Ambon, sebelas yang bisa menyanyi’. Musik telah menjadi bagian Dioxyribo Nuclead Acid (DNA) orang-orang Ambon. Tak terpisahkan dalam keseharian. Musik itu bikin semangat. Seng ada musik seng rame, bung.

“Kalaupun ada orang Ambon yang tidak bisa menyanyi dengan suara bagus, setidaknya mereka bisa membedakan suara yang lari dari titi laras alias fals,” ujar Ronny Lopies, Ketua Ambon Musik Office (AMO). Kemampuan alamiah tersebut diistilahkan Ronny “harmony by feeling” alias teknik pica suara alias intuisi untuk membagi (memecah) suara secara otomatis. Itu bukti saking menyatunya musik dalam urat nadi orang-orang Ambon.

Potensi atau talenta musisi di kota ini melimpah ruah. Sebagaimana melimpahnya kekayaan ikan dan rempah-rempah. Sebut saja beberapa nama ini: Bob Tutupoly, Enteng Tanamal, Melky Goeslaw, Harvey Malaiholo, Utha Likumahuwa, Broery Pesolima, Ruth Sahanaya, Andre Hehanussa, Yopie Latul, Glenn Fredly.

Di jajaran musisi local: Mitha Talahatu, Doddie Latuharhary, Jones Watimena, Nada Latuharhary, Essy Awondatu, dan Vicky Salamor. Berkat mereka industri musik pop di Ambon tetap menggeliat. Di tanah perantauan, di negeri Belanda, reputasi musisi keturunan Ambon tak kalah mentereng. Bibit penyanyi keturunan Ambon yang mewarnai ragam musik pop di Belanda dating siih berganti. Misalnya, Danjil Tuhumena (alumni The Voice Holland) dan Jessica Manuputty.

Ambon adalah musik. Di mana-mana musik. Anda naik taksi online ataupun angkutan kota (angkot) alias oto dalam istilah di sana, musik juga tak pernah absen mengisi ruangan. Musik juga konstan mengalun dari atas becak, truk, di dalam warung kopi, kafe, toko, hingga rumah-rumah warga di gang sempit.

Badan Ekonomi Kreatif melihat ada potensi di balik hobi menyanyi masyarakat Ambon. Musik lalu dikemas bukan sekadar hobi lagi melainkan dijadikan potensi ekonomi kreatif. Hingga, musik membuka ruang bagi penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi kota, penurunan angka pengangguran, dan pengurangan kemiskinan.

Jauh-jauh hari menjelang, Pemerintah Kota Ambon sendiri telah mendeklarasikan diri sebagai Ambon Kota Musik pada pelaksanaan Festival Musik Jazz Ambon pada 2011. Dengan segenap potensi yang dimilikinya dalam bidang musik, sudah benar ketika Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dalam acara Amboina Jazz Plus Festival, pada 29 Oktober 2016, mendeklarasikan dukungan kepada Ambon sebagai wakil Indonesia agar bisa menembus Creative Cities Network (CCN) versi UNESCO di kategori Kota Musik Dunia.

Lantas, Amboina International Bamboo Music Festival & Convention digelar 15-17 Nov 2018. Acara tersebut didukung Pemkot Ambon bersama Kemendikbud, Badan Ekonomi Kreatif, Platform Indonesiana, dan sejumlah pihak. Teranyar, Pemerintah menghelat Ambon Night di Kantin Diplomasi Kemenlu di Jakarta (Juli ’19 kemarin). Ini upaya mempromosikan Ambon jadi kota musik dunia. Ambon Night ini dihadiri para perwakilan diplomatik asing, pejabatKota Ambon, dan perwaklan pemerintah pusat.

Ambon serius menyongsong jadi kota musik dunia ke-32. Tampaknya, Manado dan Medan akan mengikuti jejak Ambon. Banyak syarat untuk dapat menyabet gelar Kota Musik Dunia seperti 32 kota lain di dunia. Pemkot Ambon menyiapkan 25 rencana kerja menjadi program dari ‘Ambon Music Office’ yang terbagi ke dalam lima pilar, yakni musisi dan komunitas lokal, infrastruktur, industri dan pendidikan musik, serta nilai-nilai sosial budaya setempat.

Berbagai festival dan diskusi musik digelar. Koordinasi dengan para pemilik hotel, kafe, dan restoran agar menyediakan live music sejak jauh hari telah dilakukan. Pembangunan infrastruktur seperti studio rekaman berkualitas internasional, gedung pertunjukan, dan konservatorium dikebut. Pe-er terberat yang kini berupaya dilakukan AMO adalah mendorong Pemkot agar segera menerbitkan regulasi-regulasi terkait musik.

Berikutnya adalah menghadirkan kurikulum musik di sekolah-sekolah. Termasuk pengadaan alat-alat musik untuk para siswa. “Kami sudah membahasnya dengan Kepala Dinas Pendidikan Kota Ambon,” lanjut Ronny Lopies. “Tantangan terbesarnya mengubah pola pikir masyarakat bahwa musik bukan sekadar musik, tapi bisa memberi nilai lebih dari sisi estetika, sosial, budaya, dan ekonomi.” ●(dd)

Share This:

You may also like...