Gejolak Timur Tengah & Mudik Gratis

Merantau untuk penghidupan yang lebih baik tak selamanya identik dengan “hujan emas di negeri orang”. Di negara Timur Tengah sana, yang terjadi malah menyabung nyawa di antara hujan peluru.

           TKI Wanita

Konflik Yaman sejatinya merupakan perang saudara. Bulan lalu, kelompok pemberontak Houthi berhasil menguasai Istana Kepresidenan. Pemerintahan yang sah diambil alih, hingga Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi dan pemerintahannya mundur. Kekacauan legitimasi di sana membuat pemerintah Inggris mengikuti langkah Amerika Serikat yang lebih awal dengan menutup gedung Kedubes dan menarik Dubesnya.

Dampak konflik Yaman yang sangat nyata adalah kehancuran infrastruktur, korban jiwa yang berjatuhan dan trauma fatal lintas generasi. Kerugian besar harus ditanggung kedua belah pihak yang bertikai. Yang untung dalam tragedi kemanusiaan ini tak lain pihak ketiga. Meski tak ikut-ikutan, Indonesia kebagian buntungnya karena ratusan WNI mukim dan meara- 2015, Kementerian Luar Negeri RI bersama dengan perwakilan RI di nnegara terkait telah memulangkan ribuan WNI orang dari 26 negara. Khususnya WNI yang rentan serangan penyakit seperti orang lanjut usia (lansia), perempuan, dan anak-anak “Untuk menghindari risiko akibat kegiatan deportasi, seperti yang dilakukan secara rutin Pemerintah Arab Saudi,” ujar Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (BHI), Muhammad Iqbal.

Masalahnya, WNI undocumented  tidak bisa mendapatkan hak-hak layak di negara orang. Mulai dari aspek kesehatan sampai penegakan hukum. Untuk mengajak pulang, pemerintah sengaja mengundang TKI ilegal di sekitar kota Jeddah yang biasanya masuk ke Arab Saudi dengan visa umroh. Kebanyakan dari mereka memang sudah tinggal di dekat kota Mekkah lebih dari sepuluh tahun. Modus ini diakui cukup banyak terjadi karena jaringan orang Indonesia di Arab yang cukup kuat.

Matraji bin Marli, 40, misalnya, mengaku  tinggal di wilayah Mekkah setelah berumrah 10 tahun yang lalu. Niat awal untuk beribadah itu berubah ketika temannya yang menjadi guide jamaah haji dan umrah meminta bantuan. ”Lumayanlah. Untuk tur sejarah arab, saya dapat 250 riyal per kelompok. Kalau dorong jamaah yang pakai kursi roda, saya dapat 300 real per orang. Jadi, satu hari saya bisa dapat seribu riyal. Itu sama dengan biaya hidup saya sebulan. Kontrak rumah saya saja 4 ribu riyal,” ujarnya.

Matraji mengaku cukup lega bisa pulang kembali. Untuk pulang, dia harus menyanggupi syarat masuk ke daftar black list pemerintah Arab Saudi selama lima tahun. Artinya, dia tak bisa kembali ke Arab Saudi sebelum 2020, dengan alas an apa pun. ”Saya mau kerja di travel haji dan jadi guide resmi,” ujarnya seakan menengarai masa depan.

Selain masalah pekerjaan, tak sedikit WNI perempuan yang bekerja di Saudi sudah melahirkan anak dan (anak tersebut) belum resmi tercatat sebagai WNI. ”Kalau mereka pulang sendiri, sudah pasti sulit. Sebab, mereka tinggal secara ilegal, anak mereka pun tidak bisa mendapatkan dokumen kelahiran. Karena itu, kami bantu memberikan surat keterangan lahir agar mereka bisa hidup layak di sini,” ujar Iqbal lagi.

Mereka yang dipulangkan terakhir (11/11) sebanyak 548 orang tiba dengan maskapai Air Asia Extra XT 2994, disusul kloter kedua yang menggunakan maskapai Emirates EK 356. Dari kelompok penumpang anak-anak, tampak banyak sekali paras wajah Timur Tengah. “Masih tersisa 300 lagi yang belum mau dipulangkan,” kata Iqbal. Sebagian besar WNI yang masuk dengan visa umrah berasal dari Jawa Timur. Dari kloter pertama pemulangan 354 orang, peserta yang berasal dari Jawa Timur 194 orang.

Sebelumnya, ratusan WNI overstayer dan TKI undocumented mendapatkan amnesti dari Pemerintah Kesultanan Oman. Mereka dipulangkan ke Tanah Air secara bergelombang. Gratis! Waktunya singkat, 1 Mei 2015 – 30 Juli 2015. Selama amnesti, denda dan hukuman penjara atas pelanggaran keimigrasian dan ketenagakerjaan ditiadakan. “Sampai Juli, sebanyak 564 WNI telah dipulangkan dengan biaya Pemerintah RI,” ujar Sekretaris III Konsuler KBRI Muscat, Muhammad Fajar J. Safar. Mayoritas mereka berasal dari di Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat.

Delapan puluh persen WNI overstayer ini, kata M Iqbal, menggunakan visa umroh untuk menetap. “Kebanyakan mereka menetap di daerah Jeddah, Mina dan Mekkah. mereka memilih untuk menetap lama di Arab Saudi. “Ada yang awalnya karena ibadah, lalu mendapatkan tawaran pekerjaan, ada yang karena sudah bersuami atau berkeluarga dengan warga sana” ujar Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI.

Setelah dipulangkan, ratusan WNI ini akan diberikan program pemberdayaan melalui BNP2TKI dan Kementerian Sosial maupun Pemda setempat. “Mereka selanjutnya akan diikutsertakan dalam program pemberdayaan berupa pelatihan kewirausahaan yang diselenggarakan oleh BNP2TKI,” kata Kemenlu. Pihak BNP2TKI) mengatakan, pihaknya terus berusaha untuk mengajak TKI untuk ikut progam penyejahteraan bagi para TKI Purna. “Dalam program tersebut mantan TKI tersebut bakal diberi akses ke pelatihan ketrampilan, akses pasar, sampai modal untuk memulai hidup  baru, tutur Lisna Poeloengan, Direktur Perlindungan BNP2TKI.

Yaman sebagai tujuan TKI sebenarnya agak aneh, Sebab, Yaman sejatinya merupakan negeri miskin di antara negara Arab yang lain. Bank Dunia mencatat pendapatan per kapita negeri ini sekitar US$1.060 (Bank Dunia, 2009) tahun 2011. Di negara dengan populasi 24 juta jiwa ini, lebih dari 45% penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Hampir 45% penduduknya hidup dalam pengangguran kronis. Secara sosial, rakyat Yaman hidup penuh keterbelakangan.

Nilai penting negeri itu berpusat pada kalkulasi gepolitik dan geostrategisnya. Itu sebabnya Yaman menjadi seksi diperebutkan oleh tiga negara, yakni Arab Saudi, Iran dan Barat yang diwakili Amerika Serikat dan sekutunya. Bagi Arab Saudi, Yaman merupakan teras rumah yang wajib dijaga. Menjaga stabilitas Yaman akan berdampak pada stabilitas regional Kerajaan Arab Saudi. Antara lain dengan mendanai pemberontak yang memerangi Presiden lalim Suriah, Bashar Al-Assad.

Bagi Iran, dengan menguasai Yaman, otomatis akan menguatkan hegemoninya di Timur Tengah. Secara ‘kebetulan’, kekuatan pengikut Al-Houthi yang berideologi Syiah di Yaman sekitar 45% dari penduduk Yaman. Bagi Amerika, mengendalikan Yaman akan memberikan keuntungan besar terhadap akses perekonomian yang melalui Terusan Suez menuju Eropa. Gedung Putih tidak akan membiarkan Yaman terus dalam situasi yang berlarut-larut hingga dikontrol Al-Houti yang didukung Iran. (nay)

Share This: